Angin sore berembus pelan, memainkan dedaunan pohon kamboja yang menaungi area pemakaman yang tenang itu. Kendra melangkah dengan perlahan, membawa sebuket bunga mawar putih segar dan sebotol air mawar. Di sana, di bawah gundukan tanah yang kini telah ditumbuhi rumput hijau rapi, bersemayam wanita yang pernah menjadi seluruh dunianya. Kendra berlutut di samping nisan bertuliskan Tara Danuarta. Ia membersihkan sisa-sisa daun kering yang jatuh di atas pusara dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah sedang mengusap pipi istrinya sendiri. "Halo, Ra...," bisik Kendra. Suaranya rendah, sarat akan kerinduan yang telah mengendap selama bertahun-tahun. "Maaf baru sempat mampir hari ini. Arka makin sibuk sekolah, dia makin pintar, dan ... dia makin mirip kamu kalau lagi merajuk." Kendra ter

