Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang, keheningan sempat merajai kabin selama beberapa menit. Aristha menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, memperhatikan lampu-lampu jalan yang berkelebat, sementara pikirannya masih tertinggal di lobi gedung tadi. "Jadi ... gimana menurutmu soal Kendra?" Pertanyaan tiba-tiba dari Pak Pramono itu sukses membuat Aristha tersentak. Ia menoleh cepat ke arah ayahnya yang sedang fokus menyetir dengan senyum kecil yang misterius. "Gimana ... gimana apanya, Pa?" jawab Aristha, mencoba bersuara sedatar mungkin meski jantungnya mulai berpacu lagi. Pak Pramono terkekeh pelan, matanya melirik sekilas ke arah putri semata wayangnya lewat spion tengah. "Jangan pura-pura, Tha. Papa ini sudah puluhan tahun jadi pebisnis, membaca orang i

