Aristha menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya sebelum kembali melangkah ke dalam keriuhan aula. Ia sudah menyiapkan mental untuk kembali menghadapi rentetan eksekutif muda pilihan ayahnya. Namun, pemandangan yang menyambutnya di sudut ruangan justru membuatnya nyaris ingin berbalik arah kembali ke kamar mandi. Di sana, di dekat meja jamuan tinggi, Pak Pramono sedang tertawa lepas sambil menepuk bahu seorang pria. Pria itu adalah Kendra. Mereka tampak seperti dua sahabat lama yang sedang bernostalgia, padahal Aristha tahu ayahnya baru saja berkeliling mencari "mangsa" untuk dikenalkan padanya. "Ah, Aristha! Sini, Nak!" seru Pak Pramono begitu melihat bayangan putrinya. Aristha melangkah mendekat dengan kaki yang terasa berat. Setiap langkahnya terasa seperti sedang

