Perjalanan pulang ke rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Arka hanya menatap keluar jendela mobil, bibirnya mengerucut kecil dan jemari mungilnya memilin tali tas sekolah. Tidak ada celoteh tentang pelajaran mewarnai atau tentang Abi. Keheningan itu justru membuat Kendra jauh lebih gelisah daripada suara tangis paling kencang sekalipun. Sesampainya di rumah, Kendra berusaha mencairkan suasana. Ia menyiapkan makan siang kesukaan Arka. Nasi dengan telur dadar gulung yang ia pelajari lewat tutorial internet. "Ayo, Jagoan Papa makan dulu. Papa suapi ya?" Kendra mencoba tersenyum, menyodorkan sesendok nasi di depan mulut Arka. Arka membuka mulutnya patuh. Namun matanya tetap kosong. Ia mengunyah pelan tanpa semangat. Setelah makan siang yang sepi itu selesai, Kendra membimbing Arka ke k

