Marissa tertawa kecil, meletakkan kotak hadiah itu di meja terdekat sebelum membuka kedua lengannya lebar-lebar. "Elaine, selamat ulang tahun! Aku tidak mungkin melewatkan hari istimewa ini." Mereka berpelukan erat, penuh kehangatan seperti dua saudara yang sudah lama tak bertemu. Elaine menarik diri sedikit, masih tak percaya melihat kehadiran Marissa. "Katanya mau berakhir pekan di rumah kakek, bagaimana bisa…?" “Aku buru-buru kesini, Ellie, demi bisa merayakan hari bahagiamu.” Potong Marissa cepat, tidak tega membuat Elaine merasa bingung. “Dari kota kakekmu? Penerbangannya tiga jam lebih, Riss.” Ucap Elaine setengah tidak percaya, Marissa mau repot-repot seperti itu. "Ah, itu semua berkat calon suami tampanmu. Dia memintaku datang, bahkan mengatur segalanya supaya aku bisa meluan