Lebih dari lima jam Malika pingsan. Ia terbangun saat bulan sudah menggantikan posisi matahari di atas langit. Seharusnya sekarang waktunya orang-orang istirahat tidur, tetapi ia malah terbangun sebab perutnya terasa lapar ingin makan. "Ibu!" serunya begitu membuka kedua mata dan mendapati sang ibu duduk di samping brankar-nya. "Mana anakku?" "Malika, kamu sudah bangun, Nak? Bagaimana, apa kamu merasa pusing atau ada keluhan yang lain?" Bu Dini menatap sang putri khawatir. "Aku lapar, Bu." Malika menatap dengan pandangan iba. Ia mencoba bangun untuk duduk. Dibantu oleh sang ibu yang mendirikan senderan brankar supaya ia duduk sedikit nyaman. Bu Dini pun tersenyum. Tentu saja putrinya akan merasa lapar karena tenaganya yang sudah habis setelah melahirkan buah hatinya. "Makanan kam

