Kamalia tersenyum. Devin memeluk istrinya dan mencium bibir yang melengkung indah itu. "Mas, tinggal di mana nanti?" "Kami ngontrak rumah kecil dekat lokasi, hanya untuk sementara sampai ruko dan gudang jadi." "Tinggal bareng mereka?" "Tidak. Mereka akan pulang kalau malam. Aku sendirian di sana." "Hati-hati." Devin tersenyum sambil melepaskan pelukan. Kamalia mengantar suaminya sampai pintu depan. Hingga mobil hitam itu hilang dari pandangan. Seperti ada yang hilang dalam kebimbangan yang merajai hati. Pria itu tidak mengatakan apapun selain rasa bahagianya karena akan menjadi ayah. Mungkin saja hanya sebatas itu saja perasaannya. Mana mungkin dia akan menyukai adik dari wanita yang pernah mempermainkannya. Apa yang dilakukannya hanya sebatas rasa tanggung jawab. 'Jangan terlalu