“Mbak Elora, sarapannya saya taruh di atas meja, ya.” Tidak ada jawaban. Perawat Rani berdiri mematung beberapa detik di samping ranjang kamar VIP nomor 312. Atmosfer ruangan terasa mencekam dan tidak nyaman. “Mbak Elora? Dengar saya, kan?” panggil perawat itu sekali lagi, memastikan. Sunyi. Elora sama sekali tidak bergerak, terus memunggungi pintu kamar rawat. Sepasang matanya terbuka kosong menatap jendela luar yang keindahannya tak lagi bisa ia saksikan. “Mbak, obat paginya jangan sampai lupa diminum, ya. Harus dipaksa sedikit biar cepat pulih,” bujuk Perawat Rani sebelum akhirnya melangkah keluar membawa kembali nampan sarapan yang masih utuh. Di koridor, dr. Arnav menghentikan langkah sang perawat dengan raut cemas. “Bagaimana? Belum mau makan lagi?” Perawat Rani menggeleng lema

