“Aku nggak mau diperiksa.” Suara Elora datar. Tidak ada amarah atau tangis, justru ketenangan itu yang membuat para perawat saling bertukar pandang cemas. Sudah dua hari ia nyaris bungkam. Tidak ada teriakan atau barang yang dilempar. Hanya ada keheningan sunyi yang membuat siapa pun di bangsal VIP itu merasa tidak nyaman. Perawat yang membawa baki obat menghela napas. “Baik, Mbak Elora. Obatnya saya taruh di meja dulu.” Tidak ada jawaban. Elora tetap berbaring kaku membelakangi pintu. Kedua matanya terbuka lebar, namun tidak ada apa pun yang tertangkap di sana. Kegelapan pekat kini menjadi satu-satunya dunia yang ia kenal. Hanya gema konstan monitor jantung (bip ... bip ... bip ...) dan dengung pendingin ruangan yang setia menemaninya. Siang itu, dr. Arnav masuk membawa map catatan pa

