“Keluar!”
Suara Elora menggema, memecah ketenangan kamar rawat VIP yang biasanya sunyi. Gelas plastik berisi air di atas meja nakas melayang dan menghantam dinding dengan keras. Air tumpah mengotori lantai, membuat perawat yang sedang mengganti cairan infus tersentak kaget.
“Mbak Elora, tolong tenang dulu,” puji perawat itu mencoba menenangkan.
“Jangan sentuh aku!”
Kedua tangan Elora meraba liar ke segala arah. Begitu jemarinya menemukan kotak tisu, benda itu langsung dilempar tanpa arah. Napasnya memburu, rambut panjangnya berantakan, dan air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya yang pucat.
Perawat muda yang berjaga refleks mundur satu langkah untuk mengamankan diri.
“Dokter sudah dalam perjalanan ke sini, Mbak.”
“Aku nggak mau dokter! Aku mau Mama!” Jerit Elora frustrasi.
Layar monitor jantung di samping ranjang berbunyi kian cepat, mendeteksi emosinya yang melonjak ekstrem. Elora menangis tergugu sambil menarik kedua kaki untuk memeluk lututnya sendiri.
“Aku mau Mama ...” lirihnya.
Namun, tidak ada yang menjawab. Tidak ada siapa-siapa yang menyahut panggilannya. Kesunyian mutlak itu justru membuat d**a Elora terasa semakin sesak dan terhimpit.
Semalam, Profesor Baskara sudah menjelaskan hasil pemeriksaan penunjang matanya dengan sangat hati-hati. Jalur saraf optiknya mengalami kerusakan berat akibat trauma kepala pascakecelakaan. Peluang untuk pulih memang masih ada, tetapi tidak ada satu pun dokter di rumah sakit ini yang berani menjanjikan hasil akhir yang sempurna.
Kalimat itu terus berputar di kepala Elora seperti kaset rusak. Tidak ada yang berani menjanjikan. Bahkan, dirinya sendiri kini mulai takut untuk sekadar menaruh harapan.
“Kenapa harus aku ...?” Bisiknya dengan suara parau yang amat rapuh.
Tangannya meremas ujung selimut rumah sakit dengan erat. “Aku cuma mau pulang ...”
Di tengah kegelapan matanya, ingatan tentang studio balet tempatnya bernaung mendadak muncul begitu saja. Ia merindukan lantai kayu yang mengilap, cermin besar yang memenuhi satu sisi dinding, aroma bedak kaki yang khas, dan alunan musik klasik yang mengalun pelan. Ia bahkan bisa mengingat sosok Madame Celine yang berdiri membawa tongkat kayu sambil mengawasi gerakannya dengan tajam.
“Elora, angkat kakimu lebih tinggi.”
“Jangan malas, Elora.”
“Kamu lahir untuk panggung ini.”
Sudut bibir Elora bergetar menahan tangis yang kian membuncah. Ia juga masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana Papa dan Mama duduk bangga di kursi penonton baris depan saat pertunjukan balet pertamanya. Papa bahkan menjadi orang yang berdiri paling awal dan bertepuk tangan paling keras saat seluruh gedung pertunjukan bergemuruh.
“Kamu bintang Papa.”
Suara Papa terdengar begitu dekat di telinganya, begitu hangat, dan terasa sangat nyata. Air mata Elora kembali mengalir deras membasahi wajahnya yang lebam.
“Papa ...” Tubuhnya bergetar hebat didera rasa rindu yang menyiksa. “Papa, bangun ... Papa ...”
Suara parau itu akhirnya berubah menjadi tangisan pilu yang pecah. “Aku takut ...”
Perawat yang berjaga di sudut ruangan hanya bisa saling berpandangan dengan tatapan iba. Tidak ada yang tega melihat kondisinya, namun tidak ada pula yang berani mendekat untuk menenangkan.
Pintu kamar rawat mendadak terbuka dengan sentakan pelan. Arnav melangkah masuk didampingi oleh Profesor Baskara di sampingnya. Langkah kaki Arnav terhenti seketika di ambang pintu, merasakan jantungnya seperti diremas kuat oleh kenyataan di depannya.
Perempuan yang dulu selalu tersenyum manis di bawah pohon flamboyan semasa SMA, kini terduduk merana memeluk lututnya sendiri sambil menangis seperti anak kecil yang kehilangan arah pulang. Profesor Baskara mengembuskan napas pendek, lalu menoleh ke arah perawat jaga.
“Bagaimana kondisinya sejak tadi?” tanya Profesor Baskara pelan.
“Pasien terus-menerus menangis, Prof. Sempat mengamuk dan melempar gelas serta nampan makanan.”
“Tekanan darahnya?”
“Naik cukup signifikan, Prof.”
Profesor Baskara mengangguk paham. “Biar saya yang bicara dengannya.”
Belum sempat sang dokter senior melangkah mendekat, Elora mendadak kembali meraba meja di samping ranjangnya dengan panik. Jemarinya menemukan vas bunga kecil yang dipajang di sana.
Brak!
Vas bunga itu tersapu jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping menjadi serpihan tajam.
“Aku nggak mau siapa-siapa masuk ke sini!” Teriak Elora histeris.
“Elora,” panggil Profesor Baskara dengan intonasi suara yang tetap tenang dan berwibawa. “Semua orang tolong keluar sebentar.”
Elora justru menangis semakin keras mendengar suara asing tersebut. “Keluar! Aku nggak butuh dikasihani oleh siapa pun!”
Profesor Baskara tetap bergeming di posisinya. “Kamu sedang marah?”
Elora melepaskan tawa hambar yang getir di tengah isak tangisnya. “Marah? Aku buta, Prof! Aku nggak bisa lihat apa-apa lagi sekarang! Aku nggak bisa latihan, aku nggak bisa menari, aku bahkan nggak bisa lihat wajah Mamaku sendiri!”
Suaranya pecah di akhir kalimat, membuat seluruh isi ruangan terdiam seribu bahasa.
“Kamu tahu apa rasanya jadi aku?! Aku hidup dari panggung, aku hidup dari cermin, aku hidup dari setiap gerakan tubuhku!” Tangannya kembali bergerak meraba udara dan benda di sekitarnya dengan liar.
Kali ini, monitor tekanan darah yang berada di dekat bed hampir saja tersenggol jatuh. Arnav bergerak dengan refleks kilat, tangannya langsung menangkap alat medis itu sebelum benar-benar membentur lantai.
“Jangan,” ujar Arnav dengan suara rendah yang dalam.
Intonasi suara itu seketika membuat gerakan Elora membeku di tempat. Ada sensasi aneh dan familiar yang mendadak menyengat batinnya, tetapi ia tidak memiliki waktu untuk memikirkannya lebih jauh.
“Lepas!” Elora berusaha menarik paksa alat tersebut dari kekuasaan Arnav. “Lepaskan!”
Arnav menahan pergerakan tangan Elora dengan sangat hati-hati agar tidak menyakitinya. “Kalau alat ini jatuh, kamu bisa terluka kena serpihan tajamnya.”
“Lepas!”
“Tenang, Elora.”
“Jangan pernah suruh aku tenang!” Suara Elora meninggi penuh emosi frustrasi. “Aku benci kata itu! Benci!”
Arnav memilih bungkam, membiarkan kemarahan perempuan itu mereda sendiri. Sepuluh tahun yang lalu, gadis di depannya ini juga pernah meluapkan kemarahan yang sama persis seperti ini. Momen itu terjadi saat Arnav gagal datang ke pertunjukan balet pentingnya karena harus menjaga sang ibu yang sedang sakit keras di rumah sakit.
Waktu itu, Elora cemberut sepanjang hari dan menolak bicara dengannya. “Kamu menyebalkan, Arnav. Kamu jahat. Tapi ... aku tetap sayang.”
Arnav memejamkan matanya sesaat untuk mengusir bayangan s*****l masa lalu tersebut. Dulu, semuanya kini telah tinggal menjadi kenangan usang. Sekarang, perempuan yang sama sedang menangis histeris di hadapannya tanpa bisa mengenali sosoknya sedikit pun.
“Kamu nggak akan pernah mengerti apa yang aku rasakan!” Teriak Elora meluapkan kekesalannya pada Arnav.
Arnav membuka matanya kembali, menatap lekat sepasang netra kosong di depannya. “Aku mengerti, Elora.”
“Kamu nggak mengerti!”
“Aku mengerti.”
“Kamu bohong!” Suara Elora kembali pecah oleh tangisan yang memilukan. “Aku nggak bisa lihat ... Aku nggak bisa lihat ... Aku nggak bisa lihat!”
Kalimat menyakitkan itu terus ia rapalkan berulang kali seperti bisikan gaib, seolah ia sedang berusaha keras membantah kenyataan b******n yang kini tengah menghancurkan seluruh hidupnya. Profesor Baskara menghela napas panjang melihat pemandangan itu, lalu memberikan isyarat mata kepada perawat untuk mengosongkan ruangan. Kini, hanya tersisa kedua dokter itu bersama Elora.
“Elora,” panggil Profesor Baskara dengan nada suara yang sangat lembut. “Kamu boleh marah, kamu boleh menangis, kamu bahkan boleh membenci keadaan ini sekalian. Tapi, tolong jangan melukai dirimu sendiri.”
Elora tertawa hambar mendengar nasihat itu. “Melukai diri sendiri? Hidupku bahkan sudah hancur total, Prof.”
“Tidak. Saya tidak pernah mengatakan bahwa jalan hidupmu sudah selesai sampai di sini.”
“Lalu apa lagi yang tersisa dari diriku?” Tanyanya dengan nada suara yang perlahan melandai lirih. Tangis histerisnya mulai berangsur mereda, menyisakan kepasrahan. “Aku nggak bisa melihat, Papa sudah nggak ada, Mama belum sadar dari koma ... Aku bahkan nggak tahu sekarang ini sedang pagi atau malam.”
Arnav mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di dalam saku jas putihnya. Setiap untaian kata yang keluar dari bibir Elora terasa seperti mata pisau tajam yang mengiris perlahan dinding jantungnya. Profesor Baskara melirik ke arah Arnav, sebuah tatapan penuh arti yang langsung dipahami oleh sang murid kesayangan, majulah.
Namun, kedua kaki Arnav terasa begitu berat untuk digerakkan, seolah tertanam di atas lantai porselen kamar rawat. Setelah mengumpulkan segenap keberanian, ia akhirnya melangkah mendekati sisi ranjang Elora.
“Minum dulu,” ujar Arnav sambil menyodorkan segelas air baru.
Elora menggelengkan kepalanya cepat. “Nggak mau.”
“Minum, Elora.”
“Aku nggak mau!”
“Minum dulu sedikit.” Nada suara Arnav terdengar datar namun sarat akan ketegasan, tidak membentak ataupun memaksa.
Anehnya, karakter suara yang tegas dan dingin itu justru sukses membuat Elora berhenti terisak selama beberapa detik. Ia mengernyitkan dahinya, mencoba mencari arah asal suara pria di dekatnya.
“Siapa kamu sebenarnya?” tanyanya pelan dengan nada penuh curiga.
Arnav terdiam, sementara Profesor Baskara hanya memperhatikan interaksi keduanya dalam keheningan yang tegang.
“Kamu dokter baru yang menangani saya?” tanya Elora lagi karena tidak mendapat jawaban.
“Ya.”
“Suaramu ... rasanya sangat familiar.”
Arnav memalingkan wajahnya ke arah lain demi menyembunyikan getaran di matanya. “Itu tidak penting saat ini.”
“Siapa nama kamu?” Desak Elora penasaran.
“Arnav.”
Mendengar nama itu diucapkan, tubuh Elora mendadak membeku seketika di atas kasur. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Nama itu terasa seperti melodi dari lagu lama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia putar lagi di dalam hidupnya.
Ia ingat betul pernah menuliskan rangkaian huruf nama itu di halaman paling belakang buku sekolahnya dulu. Ia bahkan pernah menggambar simbol hati kecil di samping nama tersebut, menangis karenanya, dan mencintai sosok pemilik nama itu dengan teramat sangat. Namun, rasa nyeri yang hebat di kepalanya saat ini membuat semua potongan memori itu menjadi kabur dan sulit disatukan.
“Arnav ...?” Lirih Elora memastikan.
“Ya.”
“Hm ...” Elora memejamkan kedua matanya yang terasa perih. “Nama yang bagus.”
Arnav kembali memalingkan wajahnya, merasakan dadanya begitu sesak hingga sulit untuk sekadar menghirup oksigen. Realitas pelik ini bukan tentang mereka yang hatinya hancur berkeping-keping karena kehilangan cinta masa lalu, melainkan tentang dirinya sendiri yang terperangkap dalam kepedihan. Tidak ada satu orang pun yang tahu rahasia batinnya, bahkan dirinya sendiri sering kali menolak mengakuinya.
Sepotong lirik dari lagu lama yang dulu sering diputar oleh Elora di masa sekolah mendadak melintas otomatis di dalam kepala Arnav.
When I see your face, there's not a thing that I would change ...
Arnav menelan ludahnya dengan susah payah. Waktu sepuluh tahun ternyata belum cukup kokoh untuk membuatnya benar-benar move on dari pesona gadis di depannya ini.
Elora menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan. “Aku capek ... capek banget. Kalau Tuhan mau ambil nyawaku sekarang, ambil aja sekalian.”
Kalimat keputusasaan itu seketika membuat Arnav langsung mengangkat wajahnya dengan tatapan mata yang berubah menjadi tajam dan mengintimidasi.
“Aku nggak akan izinkan hal itu terjadi,” cetus Arnav tegas.
Elora terdiam terpaku, bahkan Profesor Baskara pun ikut menoleh heran menatap perubahan sikap asistennya.
“Apa?” Lirih Elora bingung.
“Kamu dengar saya, Elora. Dengar baik-baik,” ujar Arnav dengan nada suara yang rendah namun penuh penekanan mutlak. “Kamu boleh marah, kamu boleh menangis histeris, kamu bahkan boleh berteriak sekencang mungkin di ruangan ini. Tapi, saya nggak akan pernah izinkan kamu untuk menyerah pada keadaan.”
Elora mengerutkan dahinya semakin dalam. Ada getaran asing yang mendadak merayap di dalam dadanya tanpa alasan yang logis setelah mendengar rentetan kalimat pria tersebut. Karakter suara itu, cara bicaranya yang kaku, hingga nada dingin yang mengintimidasi itu, kenapa semuanya terasa begitu akrab di indra pendengarannya?
“Dokter ...” Panggilan panik dari seorang perawat di ambang pintu mendadak memutus ketegangan di dalam kamar rawat.
Profesor Baskara bergegas membuka pintu panel dengan cepat. “Ada apa?”
“Pasien wanita paruh baya di ruang ICU, Ibu Soraya, mendadak mengalami penurunan tekanan darah yang sangat drastis, Prof!” Lapor perawat itu dengan napas tersengal.
Elora langsung menegakkan posisi duduknya dengan sentakan kaget setelah menangkap nama sang ibu disebut. “Mama ...?! Mamaku kenapa, Dok?!”
Kedua tangannya gemetar hebat didera rasa takut yang luar biasa. Profesor Baskara menolehkan wajahnya cepat ke arah Arnav, sementara Arnav sendiri tampak membeku di tempatnya berdiri.
Elora yang tidak dapat melihat apa pun hanya bisa memasang telinga lebar-lebar saat kesunyian mencekam mendadak kembali menguasai kamar rawat VIP tersebut. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari masa komanya, perempuan itu merasakan esensi dari ketakutan yang jauh lebih mengerikan daripada kegelapan matanya sendiri.
“Mama ... Mama kenapa ...?”