“Tekanan darah pasien ICU turun lagi, Prof. Vasopressor sudah dinaikkan, tapi saturasinya masih stabil,” lapor perawat itu cepat. Elora yang meringkuk di atas ranjang langsung gemetar. “Mama ... Mama kenapa?!” Ketika tidak ada yang segera menjawab, suaranya meninggi penuh kepanikan. “Mamaku kenapa?!” Arnav menatap Profesor Baskara, meminta petunjuk lewat tatapan mata. Sang guru besar hanya mengangguk pelan. “Kondisi Mama kamu masih kritis, Elora,” ujar Arnav selembut mungkin. “Aku mau ke sana. Aku mau lihat Mama!” Elora nekat turun dari ranjang. Namun, baru dua langkah menapak, tubuh ringkihnya limbung. Keseimbangannya hilang total. Arnav bergerak dengan refleks kilat, menangkap pinggang Elora sebelum lutut perempuan itu menghantam lantai. “Pelan-pelan, Elora.” “Lepas! Jangan sentuh

