“Dokter Arnav, Profesor Baskara meminta Anda ke ruang konsulen sekarang juga.” Seorang perawat menghentikan langkah Arnav yang baru saja melangkah keluar dari ruang rawat Elora. Arnav hanya mengangguk singkat sebagai respons. “Oke, terima kasih.” Koridor rumah sakit masih terasa sedingin es meski matahari telah beranjak naik sejak satu jam yang lalu. Bau antiseptik yang khas menempel pekat di udara, bercampur dengan deru roda troli, bunyi ritmis monitor medis, dan langkah kaki tergesa para tenaga medis—rutinitas bising yang biasa ia hadapi setiap hari. Namun, hari ini sama sekali tidak terasa biasa bagi Arnav. Ia mendadak berhenti tepat di depan pintu ruang konsulen, menggenggam gagang pintu berlapis logam itu lebih lama dari yang seharusnya. Ia tahu, di balik pintu kayu ini, ada sebua

