BAB 18

1852 Kata

“Dok ...” Suara Elora terdengar bagai bisikan lirih di tengah kamar yang temaram. Arnav yang baru saja selesai menulis lembar laporan perkembangan pasien di laptopnya langsung mengangkat kepala. “Iya? Ada apa, Elora?” “Aku nggak bisa tidur.” Arnav melirik jam dinding digital di atas nakas yang telah menunjukkan pukul sebelas malam. Di luar jendela, langit beludru malam sudah pekat. Koridor bangsal rawat pun mulai sepi. Hanya suara langkah kaki perawat malam dan bunyi detak monitor jantung yang terdengar samar mengisi keheningan. “Kepalamu sakit lagi?” tanya Arnav, nadanya otomatis berubah cemas. “Nggak.” “Mual?” “Nggak.” “Sesak?” “Nggak, Dok.” “Lalu ... bagian mana yang nggak nyaman?” Elora menghela napas panjang, tatapan matanya yang kosong menerawang ke langit-langit kamar. “

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN