Reza menutup pintu ruang belajarnya pelan, memastikan suara klik tidak terlalu keras. Begitu pintu tertutup, ia bersandar pada permukaannya, menutup mata dan menghembuskan napas panjang yang terasa seperti melepaskan topeng berat yang ia pakai sejak pagi. Ruangan itu terasa berbeda dari rumah besar keluarganya—lebih kecil, lebih tenang, lebih jujur. Di sini, ia tidak harus pura-pura lamban, kikuk, atau tidak mengerti apa pun. Di sini, ia bisa bernapas sebagai dirinya sendiri. Ruang belajar itu tidak besar: sebuah meja panjang penuh kertas, dua laptop, beberapa buku yang disusun rapi, dan rak kayu dengan dokumen bersampul kulit. Tidak ada yang tahu ruangan ini adalah pusat dari semua pekerjaan yang disangkal keluarga. Mereka percaya Reza lamban sejak kecil. Mereka percaya ia tidak mampu me

