BAB 4 – Saat Matahari Menyaksikan Kebohongan

1108 Kata
Cahaya pagi merambat perlahan melalui tirai kamar hotel, menciptakan garis-garis keemasan di atas lantai marmer dan seprai putih yang kusut. Udara pagi masih dingin, namun aroma kamar dipenuhi sisa parfum malam tadi, kehangatan tubuh, dan jejak emosi yang menggantung tak selesai. Ellya membuka mata perlahan. Untuk beberapa detik, ia lupa ada skandal yang mengintai. Lupa ada foto yang diambil diam-diam. Lupa ada kebohongan besar yang telah ia jalani semalaman. Hingga pandangannya jatuh pada sosok yang tidur di sampingnya. Reza. Pria itu terbaring miring, satu tangan masih tergeletak di atas pinggangnya seolah semalam ia mencengkeramnya dan belum benar-benar melepas. Kemejanya terbuka setengah, memperlihatkan d**a bidang yang naik turun tenang—tidak seperti kekacauan yang akan menghantam dirinya beberapa jam lagi. Wajahnya… Terlalu polos. Terlalu damai. Terlalu tak sadar bahwa dunia sedang dipersiapkan untuk menghancurkannya. Ellya duduk pelan, berusaha tidak membuat ranjang bergoyang. Rambutnya berantakan, lengan atasnya dingin karena hanya memakai bra semalaman. Tante Maharani sudah menghilang sejak dini hari, meninggalkan Ellya sendiri bersama rasa bersalah yang menempel di kulit seperti luka bakar. Ia menatap Reza lama. Hening. Hanya napas pria itu yang terdengar. Senyum kecil muncul di bibir Reza. Tidurpun ia masih terlihat seperti anak kecil. Sungguh ironis—dibalik tubuh terawat yang memancarkan kekuatan dan kedewasaan, ia memiliki wajah seseorang yang belum pernah benar-benar diajari cara bertahan hidup. Ellya mengangkat tangan, hampir menyentuh rambut Reza… tapi ia menariknya kembali cepat-cepat. Tidak boleh. Ia tidak boleh memanjakan diri. Ia tidak boleh merasa apa-apa. Karena ia yang menjebaknya. Ia yang membawa Reza masuk ke perang ini. Ia yang membiarkan tante Maharani mengambil foto-foto itu. Air bening menggenang di sudut matanya. “Maaf…” bisiknya tanpa suara, meski Reza tidak mendengar. Ia tidak ingin menyakiti siapa pun. Tidak ingin menginjak harga diri orang polos seperti dirinya. Ia hanya ingin bebas. Bebas dari tante. Bebas dari hidup yang dikendalikan orang lain. “Maaf…” ucapnya lagi, kali ini hampir terdengar. Namun dunia tidak memberi kesempatan Ellya menyelesaikan sesalannya. Karena beberapa detik berikutnya— BRAGH!! Pintu kamar dihantam dari luar. Reza tidak bergerak. Ia terlalu mabuk untuk bangun. Ellya tersentak bangkit, refleks menutupi dadanya dengan selimut. Jantungnya berdegup keras. Ia tahu apa artinya suara itu. Dunia yang ia takuti… akhirnya masuk. Dalam satu hentakan kasar— PINTU KAMAR TERBUKA LEBAR. Dua sosok berdiri di ambang pintu. Dira Suryadinungrat. Dingin. Tegas. Tajam. Wajahnya tampak seperti batu pualam yang retak oleh kemarahan. Rena Suryadinungrat. Snob. Sarkastik. Penuh api. Matanya membesar melihat pemandangan itu. Keduanya membeku—menatap Ellya yang duduk di ranjang, rambut kusut, bahu telanjang, hanya mengenakan bra, dan Reza yang tertidur di sampingnya dengan kemeja terbuka. Pemandangan sempurna untuk skandal. Pemandangan yang dibuat-buat… tapi terlihat terlalu nyata. Dira melangkah masuk duluan, langkahnya tajam menghantam lantai. “Astaga…” ucapnya pelan, suaranya bergetar marah. “Jadi ini… yang kamu lakukan.” Rena menyusul dari belakang. “Ya Tuhan, Reza….” Ia menutup mulutnya, tidak percaya. Lalu menatap Ellya dengan benci. “Kamu benar-benar—” “Ellya Nainsah,” Dira memotong dengan nada penuh penghakiman. “Aku sebenarnya ingin memberi manfaat keraguan… tapi ternyata artikel gosip itu benar.” Ellya menggigit bibir keras. “Ini tidak seperti yang kalian pikirkan.” “Oh?” Rena mengangkat alis. “Kamu duduk di ranjang dengan bra, Reza setengah telanjang, dan kamu bilang ‘tidak seperti yang kami pikirkan’?” “Reza mabuk,” jawab Ellya tegas. “Dia tidak sadar.” “Dan kamu memanfaatkannya?” Rena menyemburkan kata-kata itu seperti racun. “Tidak!” Ellya bangkit berdiri, menahan selimut di dadanya. “Aku tidak mem—” “Diam.” Suara Dira memotong udara seperti pedang. Ellya terdiam. Dira mendekati ranjang, menatap Reza yang tertidur pulas. Ia menggerakkan sedikit rambut adiknya dengan ekspresi yang sangat berbeda—lebih protektif, lebih emosional. “Adikku…” bisiknya. “Adikku yang polos… ditarik ke dalam ini…” Reza menggumam pelan, memeluk bantal. Dira mengepal tangan. “Bagaimana kamu bisa melakukan ini padanya? Dia bahkan tidak bisa membedakan jus dengan alkohol!” Ellya ingin menjelaskan, ingin berteriak bahwa bukan dia yang memabukkan Reza. Bukan dia yang memanggil kamera. Bukan dia yang memaksa dirinya sendiri melepaskan bajunya. Tapi siapa yang akan percaya? Ia… hanyalah keturunan bangsawan jatuh. Mereka… keluarga Suryadinungrat. “Aku tahu apa yang terlihat,” kata Ellya lirih. “Tapi aku tidak menyentuhnya. Dia hanya—” “Kamu pikir kami bodoh?” Rena menyindir. “Kamu pikir kamu bisa setengah telanjang di ranjang adikku lalu bilang ‘tidak terjadi apa-apa’?” “Nggak ada apa-apa,” ulang Ellya dengan suara yang hampir patah. “Aku bersumpah.” Dira menyipitkan mata. “Lalu bagaimana kalian berdua bisa satu kamar, satu ranjang?” Ellya memejamkan mata. Ini titik di mana kebohongan—atau kebenaran—tidak lagi penting. Semua sudah terlihat buruk. Namun sebelum ia menjawab, sesuatu terjadi. Reza bergerak. Dengan mata setengah terbuka, ia mengangkat kepalanya, bingung, rambut acak-acakan. “Hmm… Ellya?” gumamnya pelan. Ia mengangkat tangannya dan—tanpa sadar—menyentuh pinggang Ellya, menariknya sedikit mendekat. “Ellya… jangan pergi…” Ellya membeku. Wajahnya memanas malu. Dira dan Rena membelalak. Reza tidak sadar ia sedang berbicara. Ia hanya mengigau. Namun itu cukup menjadi “bukti” yang membakar ruangan itu. Rena menatap Ellya seperti ingin menamparnya. “Kau—kau sungguh…!” Dira menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosi. “Ellya, aku tidak tahu seberapa besar peranmu dalam ini. Tapi aku tahu satu hal.” Ia menunjuk pintu. “Kamu akan ikut kami sekarang.” Ellya mengepal tangan. “Aku akan jelaskan segalanya.” “Ayah yang akan memutuskan apa yang benar,” sahut Dira. “Bukan kamu.” “Tolong,” Ellya berkata pelan, suaranya pecah. “Dengarkan dulu—” “Tidak ada ‘tolong’.” Nada Dira dingin. Tajam. Mematikan. Rena melipat tangan. “Ambil bajumu. Kita tidak punya waktu.” Saat Ellya menunduk untuk mengambil kemeja putihnya dari lantai, Reza menggenggam tangan yang menyentuh seprai tanpa sadar—seolah tubuhnya mengenali kehangatan Ellya—dan menariknya sedikit. “Ellya…” gumamnya lemah. “Kamu wangi…” Ellya menutup mata, merasakan jantungnya hancur perlahan. Dia bukan lelaki yang pantas dijebak seperti ini. Dia bukan monster. Dia bukan pria jahat. Dia hanya… Reza. Pria yang tidak pernah minum alkohol. Pria yang percaya semua orang jujur. Pria yang percaya tante Maharani memberinya jus madu. Dan sekarang hidupnya akan berubah. Bukan karena ia salah— tapi karena ia terlalu mudah percaya. Terlalu polos. Terlalu baik. Dan itu membuat segalanya jadi lebih menyakitkan. Dengan tubuh gemetar, Ellya akhirnya berbisik, “Maafkan aku…” Namun suara itu tenggelam saat Dira berkata: “Ellya Nainsah. Kamu ikut kami. Sekarang.” Badai telah tiba. Dan tidak ada jalan kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN