Rumah besar keluarga Suryadinungrat selalu terasa seperti tempat yang membungkam suara siapa pun yang masuk. Pilar-pilar tinggi, lantai marmer dingin, dan langit-langit megah membuat siapa saja merasa kecil—kecuali orang-orang yang lahir dari nama itu.
Pagi ini, tempat itu terasa lebih mencekam.
Ellya berdiri di tengah ruang keluarga, dengan baju kebesaran yang hanya menutupi bagian tubuh penting. Rambutnya kusut, wajahnya pucat, dan matanya bengkak. Rasa bersalah menghimpit dadanya, meski ia sendiri tidak melakukan apa pun selain terjebak dalam permainan yang tidak ia rencanakan.
Namun sayangnya—
hanya dia yang tahu itu.
Karena di mata keluarga Suryadinungrat, semua yang terjadi adalah kesalahan dia dan Reza.
Dira dan Rena berdiri di sisi ruangan, tangan disilangkan, tatapan mereka seperti pisau tajam.
Begitu pintu ruang keluarga terbuka, seorang pria masuk dengan langkah pelan namun penuh wibawa.
Rully Suryadinungrat.
Patriark keluarga.
Penguasa ruangan.
Penentu hidup dan mati reputasi siapa pun yang melangkah ke hadapannya.
Ia duduk dengan tenang, namun tatapannya menembus.
“Duduk,” katanya singkat.
Ellya menurut. Lututnya lemah.
Rully menyilangkan kaki, menatap Ellya seolah ia mata rantai paling lemah yang tak pantas berada di rumah itu.
“Anakku bangun dalam keadaan memalukan,” katanya pelan. “Tidak memakai kemeja. Dengan perempuan asing di ranjangnya. Foto-fotonya tersebar di internet, diburu wartawan. Kamu bisa jelaskan?”
“A-aku tidak—”
“Diam,” potong Rena cepat. “Kau tidak pantas bicara sebelum Ayah bertanya.”
Ellya menelan ludah.
“Reza mabuk,” katanya pelan. “Aku tidak—”
“Kami tahu Reza bodoh,” kata Dira tajam. “Tapi dia bukan peminum. Dia tidak akan mencari kamar hotel sendiri. Dan dia tidak mungkin tidur dengan perempuan kalau dia sadar.”
Ellya membuka mulut, tapi tidak tahu harus berkata apa.
Karena semua yang Dira katakan… benar di mata mereka.
Tanpa bukti, kebenaran Ellya tidak akan pernah didengar.
Rully menatapnya lama. “Apa hubunganmu dengan Reza? Berapa lama kalian diam-diam bertemu?”
“Tidak ada!” Ellya menjawab cepat. “Kami bertemu baru semalam. Itu saja.”
Rena tertawa mengejek. “Oh tentu. Pertemuan pertama—langsung masuk kamar hotel. Romantis sekali.”
“Itu tidak—”
“DIAM!” bentak Rully. Suaranya memecah ruangan seperti cambuk.
Ellya mengepal tangan.
“Foto-foto itu,” Rully melanjutkan, “menunjukkan tubuhmu dan tubuh putraku saling menempel. Kamu setengah telanjang. Reza mencium bibirmu. Kau pikir kami tidak bisa membaca bukti?”
“Itu hanya… ciuman mabuk… itu tidak—”
“Tidak apa?!” seru Dira. “Adikku terlihat mencium perempuan yang tidak kami kenal, di ranjang hotel, jam dua pagi, dan kamu menyebut itu ‘bukan apa-apa’?”
Ellya merasakan udara hilang dari paru-parunya.
Ia ingin berkata bahwa mereka salah.
Bahwa Reza tidak menyentuhnya dengan sadar.
Bahwa ciuman itu terjadi karena Reza mabuk.
Bahwa ia sendirian tidak melakukan apa pun selain mencoba menjaga Reza tidak jatuh.
Namun apa gunanya?
Fakta mereka hanya melihat yang terlihat.
Dan yang terlihat adalah Ellya dan Reza tidur bersama.
Rully mencondongkan tubuh ke depan. “Dari mana kamu berasal?”
Ellya mengangkat wajah pelan. “Aku… Ellya Nainsah.”
Rully mengangguk kecil. “Keluarga darah biru. Yang kini… tidak punya apa-apa.”
Dira menyeringai. “Bangsawan miskin. Setidaknya tidak dari jalanan.”
Rena mendengus.
Rully menatap Ellya lama. “Jadi kamu punya garis keturunan. Itu… lebih baik sedikit daripada latar belakang perempuan biasa.”
Ellya merasakan penghinaan itu dalam-dalam.
“Masalahnya bukan asalmu,” lanjut Rully. “Masalahnya adalah… reputasi.”
Ia berdiri.
“Kami tidak bisa membiarkan dunia berpikir Reza tidur dengan perempuan lalu meninggalkannya. Kami tidak bisa membiarkan nama keluarga jatuh karena malam bodoh yang dilakukan dua orang yang tidak memakai otak.”
Ellya merasa pipinya panas. “Aku tidak melakukan itu. Aku tidak menyentuh—”
“Kau pikir kami percaya?” Rena menyeringai, sinis dan dingin. “Wanita tidak masuk ke kamar hotel jam tengah malam hanya untuk membaca buku.”
Ellya menunduk.
Air mata jatuh—bukan karena merasa bersalah, tetapi karena tidak dipercaya.
Rully menghela napas pelan, nyaris seperti kelelahan. “Aku sudah mempertimbangkan banyak hal. Reza bodoh. Kamu ceroboh. Tapi dunia tidak peduli. Dunia hanya melihat foto.”
Keheningan besar jatuh.
Dan di dalam keheningan itu, Rully menjatuhkan keputusan yang akan mengubah hidup dua orang yang tidak pernah memintanya.
“Kalian akan menikah.”
Ellya membeku. “A—apa…?”
“Kalian akan menikah,” ulang Rully tanpa emosi. “Secara sederhana. Esok pagi. Di pulau pribadi keluarga kami di Kepulauan Seribu.”
Dira mengangguk kecil. “Itu solusi paling bersih.”
Rena tampak terkejut, namun tidak membantah.
Ellya merasakan tubuhnya goyah. “Tidak… aku tidak—”
“Kamu pikir kamu punya pilihan?” Rena mendesis. “Karena foto itu, kamu sudah dianggap tidur dengan Reza. Tanpa pernikahan, kamu akan dicap… yah, semua orang tahu.”
Dira menatap Ellya dari ujung kaki ke ujung kepala. “Setidaknya kamu bangsawan. Itu sedikit meringankan.”
“Ini… tidak adil…” suara Ellya gemetar.
Rully menatapnya datar. “Hidup tidak adil. Kau harus cepat belajar itu kalau ingin bertahan di keluarga ini.”
Ellya menutup mulutnya, menahan tangis.
“Persiapkan diri,” perintah Rully. “Besok kita berangkat ke pulau.”
“Bagaimana dengan Reza…?” tanyanya lirih.
Rully mengeraskan rahang. “Dia akan diberi tahu setelah bangun.”
Dira menambahkan pada ayahnya, “Dia pasti tidak akan protes. Reza selalu mengikuti keputusan Ayah.”
Rully tidak menyangkal.
Ellya merasa tubuhnya hancur dari dalam.
Keluarga ini tidak melihatnya.
Tidak mendengarnya.
Tidak peduli padanya.
Mereka hanya melihat, perempuan miskin yang ada di ranjang hotel bersama pewaris keluarga berarti harus DIKAWINI
Hanya itu.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Rully berjalan menuju pintu. “Mulai saat ini… kau akan berada di bawah pengawasan kami. Aku tidak ingin ada masalah tambahan.”
Ellya tidak menjawab.
Bagaimana ia bisa?
Ketika dunia menuduhnya…
Ketika keluarga Reza menghakiminya…
Ketika ia dipaksa masuk pernikahan yang tidak ia inginkan…
Ketika Reza bahkan belum tahu apa yang menunggunya saat bangun nanti…
Pintu tertutup.
Dan Ellya berdiri sendirian di tengah ruangan besar itu, tubuhnya gemetar.
Penjara baru saja dipilihkan untuknya.
Penjara dengan nama:
Keluarga Suryadinungrat.