BAB 6 – Hari Tanpa Pilihan

1601 Kata
Pagi itu, rumah besar keluarga Suryadinungrat bergerak seperti mesin raksasa yang sudah terlatih menghadapi krisis. Staf keluar masuk, mengangkat koper, memindahkan berkas, membuka lemari besar berisi pakaian formal, dan menyiapkan dermaga pribadi. Semua seperti sibuk memadamkan kebakaran yang tidak terlihat. Hanya satu dari mereka yang tetap tampak diam: Reza. Ia duduk di tepi ranjang kamar tamu, memijat pelipis perlahan, membiarkan cahaya kuning matahari pagi jatuh pada wajahnya yang letih. Tubuhnya terasa berat, tetapi pikirannya sudah kembali bening secara mengejutkan. Ia bangun dengan kepala yang berdenyut, namun bukan itu yang membuat dadanya sesak; melainkan ingatan pecah yang datang seperti butiran kaca—bar, tawa, jus manis, dan kemudian gelap yang berputar. Sisanya kabur, namun tidak cukup kabur hingga ia tak bisa mencium ada yang salah. Ketukan pintu memecah kesunyian. Dira masuk tanpa ragu, wajahnya tegang, dan matanya penuh penilaian seperti biasa. Ia tidak pernah melihat Reza sebagai ancaman, dan mungkin itulah alasan ia memperlakukannya seperti anak kecil yang tersesat. “Bangun,” katanya dingin. “Ada keputusan penting hari ini.” Reza mengangkat wajah, memasang ekspresi lambat yang sudah ia kuasai sejak lama. Topeng kebodohan yang ia kenakan bertahun-tahun kembali terpasang tanpa cela. “Ada apa, Kak?” tanyanya dengan suara lembut yang membuat siapa pun yakin ia memang tidak mengerti banyak hal. Dira memijat pangkal hidung. “Apa yang kau lakukan semalam?” Reza tidak langsung menjawab. Ia memiringkan kepala sedikit—gerakan kecil yang ia tahu membuatnya tampak polos. “Aku… minum jus. Terus kepalaku muter.” Jawabannya sederhana, hampir lucu. Dira menghela napas panjang. Rena masuk menyusul, wajahnya panas oleh amarah yang belum padam sejak dini hari. “Reza, kamu tidur dengan perempuan yang bahkan baru kamu kenal! Foto kalian sudah tersebar! Ayah murka!” Reza menurunkan pandangannya dalam-dalam seolah tenggelam dalam malu. Padahal, di balik sorot matanya yang redup, pikirannya sedang bergerak cepat—menganalisis, menyusun kemungkinan, memperhatikan gestur tubuh kakaknya, nada suara mereka, dan seberapa besar kepanikan yang sebenarnya terjadi. Ia sadar: ini bukan kebetulan. Tetapi ia tidak menunjukkannya. Tidak pernah. “Aku… tidak ingat apa-apa,” katanya pelan, nyaris seperti bisikan. “Aku tidak mungkin…” Namun ia berhenti. Ia tahu ia harus tetap tampak bingung. Dira memotong buru-buru, “Tidak masalah. Yang penting kini kita harus memperbaiki keadaan.” Rena menambahkan, “Ayah sudah memutuskan. Kalian akan menikah.” Reza terdiam. Sejenak, wajahnya benar-benar tanpa ekspresi—bukan karena terkejut, tapi karena ia sedang menetralkan reaksi agar tidak terlihat terlalu cepat. Rasa panas naik ke dadanya, bukan karena marah, tetapi karena ia tahu: keputusan ini tidak berasal dari cinta, bukan dari benar atau salah, tetapi dari reputasi. Dari nama Suryadinungrat. Dari cara ayahnya memandang dunia. “Besok pagi,” lanjut Rena. “Di pulau pribadi. Tanpa media.” Reza mengangguk kecil. “Baik.” Jawabannya membuat kakak beradiknya saling memandang. Mereka tampak terkejut karena Reza begitu mudah menerima. Mereka mengira ia pasrah; mereka tidak tahu ia sedang menilai situasi, menimbang strategi, mengamati siapa yang paling terbakar oleh skandal ini. Ia menunduk lagi, memasang raut wajah polos yang selama bertahun-tahun membuat semua orang menyepelekannya. “Kalau Ayah bilang begitu… ya sudah,” bisiknya. “Aku ikut saja.” Dira mendesah lega. Rena hanya mendengus. Tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa Reza tidak pernah benar-benar percaya bahwa dirinya bodoh. Mereka hanya percaya apa yang ingin mereka lihat. Di sisi lain rumah, Ellya duduk di depan meja rias dengan tubuh lemas. Rambutnya disisir staf keluarga, sementara gaun putih sederhana tergantung di belakangnya. Tante Maharani duduk di sofa, menunggu dengan wajah bahagia seperti seseorang yang baru saja memenangkan perang. “Akhirnya,” katanya sambil menepuk tangan Ellya. “Kamu akan mendapat kehidupan yang lebih baik, Nak.” Ellya menatap bayangannya di cermin. Wajahnya tampak seperti wajah hantu—putih, basah, dan kosong. “Tante,” ucapnya parau, “semua ini salah. Ini tidak benar.” Tante Maharani tidak pernah mau mendengar itu. Ia menepuk bahu Ellya seolah menenangkan anak kecil. “Sudah, jangan mengada-ada. Reza itu anak baik. Dia tidak akan membencimu. Dan keluarga ini… mereka suka perempuan dengan darah bangsawan. Kamu itu Nainsah. Tidak akan ada yang meremehkan namamu.” Namun Ellya tidak merasa demikian. Baginya, nama Nainsah hanyalah beban yang menempatkannya di bawah kendali tante selama bertahun-tahun. Ia teringat kembali malam hujan ketika ayahnya meninggal, ketika rumah besar mereka menjadi dingin dan gelap, ketika tante datang dan berkata, “Mulai sekarang kamu ikut Tante.” Ia masih kecil. Tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bahwa hidupnya akan menjadi utang budi yang tak pernah lunas. Ia tumbuh dalam aturan-aturan ketat. Tidak boleh memilih teman sendiri. Tidak boleh bergaul bebas. Tidak boleh menentukan hidup. Dan sekarang, ketika ia pikir ia sudah cukup dewasa untuk kabur dari jerat itu, ia justru terseret lebih dalam—kali ini bersama laki-laki yang bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ellya mengangkat gaun di pangkuannya. Tangannya gemetar. “Tante… bagaimana kalau Reza membenciku?” tanyanya pelan. Tante Maharani tersenyum lembut. “Dia tidak akan membenci. Reza itu polos… dan penurut.” Ellya hampir tersedak. Tidak, pikirnya. Reza bukan penurut. Reza bukan polos. Ada sesuatu yang ia lihat semalam, sesuatu yang berbeda: kedalaman di mata Reza, keheningan yang tidak kosong, perhatian kecil yang terlalu terfokus untuk disebut kebodohan. Ia tahu Reza tidak bodoh. Tapi keluarga ini… mereka terlalu percaya pada ilusi yang mereka buat sendiri. Saat pintu diketuk, Dira masuk. “Waktunya. Kita harus bergerak cepat.” Ellya berdiri perlahan. Gaun putih itu jatuh mengikuti garis tubuhnya. Ia tampak seperti pengantin, tetapi rasanya seperti korban. Rena memasuki lorong dari sisi lain, dan di tengah lorong panjang itu, mata Ellya bertemu mata Reza. Keduanya berhenti. Dunia mendadak sunyi. Tidak ada staf. Tidak ada keluarga. Hanya dua orang yang sama-sama terseret dalam badai yang tidak mereka minta. Reza menatap Ellya lebih lama dari biasanya. Tatapannya bukan tatapan orang bodoh. Bukan tatapan orang bingung. Itu tatapan seseorang yang sedang memeriksa teka-teki, memetakan pola, mengukur napas lawannya. Ellya hampir tidak bisa bernapas. Ada sesuatu di mata Reza yang membuatnya takut bukan karena kebodohan… tetapi justru karena kecerdasan yang ia sembunyikan terlalu dalam. “Ellya,” panggil Reza dengan suara lembut. Ellya menelan ludah. “Ya?” Reza menunduk sedikit. “Maaf… aku tidak ingat apa pun.” Ellya mengangguk. “Aku tahu.” Setelah itu, Reza mengatakan sesuatu yang membuat lutut Ellya hampir lemas. “Kamu jangan takut.” Suara itu pelan namun stabil. Tenang namun… dalam. Ellya menoleh cepat. “Aku… tidak takut.” Reza tersenyum kecil—bukan senyum polos, tapi senyum orang yang tahu lebih banyak dari yang ia tunjukkan. “Bagus,” katanya lembut. “Karena aku lebih mengerti daripada yang mereka kira.” Dunia Ellya berhenti. Dira berjalan cepat di depan, membawa tas-tas kecil berisi perlengkapan darurat. “Ayo. Kita harus segera ke dermaga,” katanya tanpa menatap siapa pun. Udara pagi terasa lembap ketika mereka melewati koridor belakang rumah besar itu—koridor yang jarang dipakai tamu biasa, tapi menjadi akses langsung menuju dermaga pribadi keluarga Suryadinungrat. Suara ombak kecil terdengar lebih keras begitu pintu kaca besar dibuka. Dermaga pribadi itu megah, membentang lurus ke laut biru kehijauan. Sebuah boat mewah dengan lambung putih mengkilap sudah menunggu. Mesin boat mendengung rendah, menandakan bahwa perjalanan akan dimulai tanpa memberi mereka waktu bernapas. Angin laut menerpa wajah mereka. Garam, laut, dan suara burung menjadi pengiring yang ironis untuk pagi yang harusnya sakral kalau ini adalah pernikahan penuh cinta—bukan pernikahan terpaksa. Reza melangkah lebih dulu ke dermaga. Langkahnya stabil, tidak goyah, tidak ragu. Bukan langkah orang bodoh yang takut air, melainkan langkah seseorang yang tahu betul ke mana ia akan dibawa—dan memilih untuk tidak memberi perlawanan… untuk sekarang. Ellya menyusul, gaun putih sederhana berkibar tertiup angin. Tangannya bergetar saat memegang pegangan boat. Wajahnya jauh dari bahagia. Namun saat ia hampir terpeleset karena kayu dermaga yang licin oleh embun, Reza meraih tangannya cepat. “Ellya, hati-hati,” ucapnya lembut. Suara itu membuat Ellya terpaku. Kalimat singkat, sederhana, namun tatapannya… terlalu dalam. Terlalu sadar. Terlalu tajam untuk seseorang yang seumur hidup dicap bodoh oleh keluarganya. Ia membantunya naik. Tidak dengan kikuk—tetapi dengan gerakan yang mantap, terlatih, nyaris protektif. Dan Ellya sadar: Reza tahu lebih banyak. Reza mengerti lebih banyak. Reza tidak sebodoh yang keluarga pikirkan. Dan ia pasti sudah membaca kejanggalan malam itu. Boat mulai bergerak perlahan, meninggalkan dermaga megah yang tenggelam dalam cahaya matahari pagi. Air memercik lembut ke sisi boat, menciptakan suara ritmis seperti detak jantung yang dipaksa tenang. Dira dan Rena duduk di bagian belakang dengan wajah kaku, seakan mereka ingin menelan seluruh perasaan yang berantakan demi menjaga wibawa keluarga. Tante Maharani duduk di samping Ellya, merapikan rambut keponakannya dengan bangga. “Nanti di pulau, kamu tetap dekat Tante,” katanya lembut. “Tante akan mendampingi kamu sampai semuanya selesai.” Ellya tidak menjawab. Ia hanya memandang horizon, merasa seluruh dunianya menghilang di balik garis laut. Sementara itu, Reza duduk di sisi lain boat, menatap laut dengan wajah tenang. Tapi matanya—mata jernih yang biasanya tampak kosong—kini berisi sesuatu yang tidak pernah ditunjukkannya sebelumnya. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menghitung. Memetakan. Mengamati. Bukan korban. Bukan boneka. Bukan laki-laki bodoh yang terseret skandal. Ellya merasakan gelombang dingin menyapu tulang punggungnya. Boat melaju semakin jauh dari rumah keluarga, menuju pulau pribadi yang akan menjadi saksi pernikahan mereka. Dan di tengah suara mesin boat, hembusan angin asin, dan pandangan keluarga yang memutuskan masa depan mereka tanpa tanya… Reza membuka mata perlahan, menatap Ellya dari kejauhan. Tatapan itu tidak lagi samar. Tidak lagi tumpul. Tidak lagi polos. Tatapan itu adalah milik seorang lelaki yang sudah sadar bahwa hidupnya diambil alih tanpa izin… …dan sedang memikirkan bagaimana mengambilnya kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN