Boat mewah dengan lambung putih mengkilap itu melaju perlahan di permukaan laut yang tenang. Angin pagi mengibaskan kulit, mengantarkan aroma asin yang menusuk lembut. Dermaga pribadi keluarga Suryadinungrat semakin menjauh, digantikan pemandangan pulau kecil yang tampak seperti mutiara putih di tengah laut biru.
Tidak ada musik.
Tidak ada perayaan.
Tidak ada tawa.
Hanya bunyi mesin boat… dan detak jantung Ellya yang terasa semakin keras setiap kali ia melihat Reza duduk di hadapannya.
Reza duduk dengan tubuh sedikit condong ke depan, kedua tangannya menggenggam lutut. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini berantakan ditiup angin. Ia tampak kebingungan—sangat kebingungan—seperti seseorang yang baru dipaksa bangun tidur dan langsung diberi tugas menikah.
“Reza… kamu baik-baik saja?” tanya Ellya pelan.
Reza menoleh lambat, seolah butuh satu detik tambahan untuk memproses suara itu. “Ya… aku… cuma pusing sedikit,” jawabnya jujur dengan suara kecil.
Ellya menunduk.
Ia tidak tahu harus merasa lega atau semakin bersalah.
Karena Reza memang tampak… polos.
Terlalu polos.
Polos hingga Ellya semakin yakin bahwa ia adalah laki-laki baik yang seharusnya tidak terseret dalam jebakan ini.
Tante Maharani, yang duduk di sebelah Ellya, menepuk tangan keponakannya dengan bangga. “Tenang saja. Reza itu anak baik. Dia pasti akan menerimamu sebagai istri. Toh kalian sudah…” Tante berhenti, matanya melirik Reza. “Ya, begitulah… semalam.”
Ellya menutup mata sejenak, merasa perutnya tertarik seperti disayat. “Tante… tolong jangan bilang seperti itu.”
Tante pura-pura tidak dengar dan malah membenahi rambut Ellya. “Nanti itu jadi cerita manis, Nak. Jangan takut.”
Reza tampak tidak mengerti. Ia hanya melihat laut, lalu kembali melihat sepatu. Dalam hatinya mungkin ada ribuan pertanyaan, tapi ia tidak mengungkapkan apa pun. Yang ia lakukan hanya patuh. Diam. Terlihat seperti menerima semua yang terjadi.
Boat merapat di dermaga pulau pribadi. Rumah putih modern berdiri megah di tengah pulau, dengan dinding kaca dan taman kecil. Terlalu sunyi. Terlalu rapi. Seperti tempat untuk upacara rahasia.
Rully turun duluan, disambut staf yang sudah menunggu. Wajahnya statis, tidak ada emosi. Dira dan Rena menyusul, keduanya menilai keadaan seolah menilai acara perusahaan yang harus selesai tepat waktu.
Reza turun terakhir, nyaris tersandung karena dermaga licin. Salah satu staf memegangi lengannya.
“Pelan, Mas Reza…”
“Oh… iya…” jawab Reza gugup, tatapan matanya liar seperti anak kecil pertama kali naik panggung.
Ellya turun perlahan, gaunnya berkibar terkena angin. Tatapannya langsung tertuju ke Reza… dan hanya semakin hancur melihat betapa tidak mengertinya laki-laki itu. Betapa tersesat.
Betapa ia tidak seharusnya menjadi korban skandal yang tidak pernah dibuatnya.
Mereka berjalan menuju vila. Di halaman depan, sebuah meja kayu kecil sudah disiapkan. Lima kursi untuk keluarga. Dua kursi untuk pengantin. Tidak ada karpet. Tidak ada bunga. Tidak ada ornamen.
Hanya formalitas.
“Baik,” kata Rully dengan suara berat. “Kita mulai.”
Reza duduk dengan sedikit gugup. Ia memainkan ujung jas putih tipisnya. Sesekali ia mengangkat wajah, memperhatikan Ellya dengan bingung—bukan curiga, bukan marah—tapi bingung seperti seseorang yang tidak tahu aturan permainan.
Ellya menelan ludah, duduk dengan tangan di pangkuan. Perutnya kencang.
Rully mengeluarkan buku kecil berisi dokumen pernikahan.
“Reza Suryadinungrat,” ucapnya tegas, “apakah kamu bersedia mengikat hubungan ini dengan Ellya Nainsah sesuai hukum yang berlaku?”
Reza menatap ayahnya sebentar, lalu ke Ellya. Bibirnya terbuka sedikit, matanya kosong sesaat. Setelah beberapa detik, ia mengangguk.
“Ya… aku bersedia.”
Suara itu terdengar polos dan jujur. Tulus dalam keputusasaannya.
Laki-laki ini tidak mengerti.
Laki-laki ini tidak tahu.
Laki-laki ini tidak sadar bahwa hidupnya berubah.
“Ellya Nainsah,” lanjut Rully, “apakah kamu bersedia?”
Ellya menarik napas dalam-dalam, merasakan tenggorokan mengering.
“Ya,” bisiknya pelan.
Setelah itu mereka menandatangani dokumen. Reza menulis dengan tangan sedikit bergetar, hurufnya tidak terlalu rapi. Seperti orang yang sedang gugup menghadapi ujian. Ellya menulis setelahnya, air matanya hampir jatuh mengenai kertas.
“Mulai hari ini, kalian resmi suami istri,” kata Rully.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada senyum.
Hanya angin laut yang lewat sebagai saksi diam.
Tante Maharani menangis bahagia, memeluk Ellya kuat-kuat. “Tante bangga… Tante bangga sekali…”
Ellya hanya berdiri kaku. Tidak mampu merespons. Tidak mampu berpikir apa pun selain rasa sakit dan bersalah yang menumpuk di dadanya.
Reza berdiri canggung, menggaruk belakang kepala. “Kita… jadi menikah, ya…?” tanyanya pelan pada Ellya.
Ellya hampir menangis mendengarnya.
Bagaimana ia bisa menjawab?
Bagaimana menjelaskan?
Bagaimana mengaku bahwa pernikahan ini bukan terjadi karena cinta atau kehendak?
Ia hanya menjawab sangat pelan, “Iya, Reza… kita sudah menikah.”
Reza mengangguk kecil. “Kalau begitu… aku harus… um… bersikap baik, ya?”
Itu kalimat paling polos yang pernah Ellya dengar.
Polos dan menyayat.
Sampai pada titik itu—
Ellya sama sekali tidak melihat kecerdasan tersembunyi.
Ia melihat Reza sebagai laki-laki yang, bingung, lemah lembut, tidak berdaya, tidak mengerti apa yang terjadi dan patuh pada semua yang diminta ayahnya
Lelaki yang dia lihat bukanlah pria yang bisa membaca jebakan.
Lelaki yang dia lihat— adalah korban.
Dia tidak melihat apa pun di mata Reza.
Tidak ada kedalaman.
Tidak ada teka-teki.
Tidak ada rencana.
Hanya kebingungan yang membuat hati Ellya remuk.
Setelah upacara selesai, keluarga berpencar mengurus barang. Ellya berjalan ke sisi pantai, berusaha mengatur napas. Air mata akhirnya jatuh. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat dadanya sesak.
Ia menunduk dalam—dan tanpa ia sadari, Reza menghampiri perlahan. Ia menatap langit, menutup mata sebentar karena angin, lalu berkata pelan:
“Maaf kalau aku bikin kamu repot… karena aku bodoh…”
Kalimat itu—
menikam Ellya lebih dari apa pun.
Ia langsung menutup mulutnya, menangis tanpa suara.
Tidak.
Tidak.
Tidak.
Dia bukan bodoh.
Tapi Ellya tidak tahu itu sekarang.
Yang Ellya tahu hanyalah:
Ia telah menikahi seseorang yang benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.
Ia telah menyeret Reza ke dalam badai.
Dan dia tidak tahu bagaimana memperbaikinya.
Reza menatap Ellya lama, lalu dengan ragu bertanya:
“Ellya… aku ini… bikin kamu sedih, ya…?”
Ellya terisak. “Tidak, Reza… bukan kamu… jangan salahkan diri kamu…”
Reza menunduk lagi. “Aku… selalu salah. Kata Kak Dira… aku bikin masalah terus. Maaf, ya…”
Ellya memeluk dirinya sendiri.
Ia tidak tahu apakah ia ingin memeluk Reza… atau kabur dari pulau itu.
Yang jelas satu hal, Ellya benar-benar tidak tahu bahwa Reza bukan seperti yang ia lihat sekarang.
Ia sama sekali tidak mencium kenyataan bahwa laki-laki itu menyembunyikan otak tajamnya.
Baginya, Reza adalah lelaki polos yang terjebak bersama dirinya.
Dan dengan pernikahan itu—
takdir mereka telah terlilit rapat…
dalam kebohongan besar yang tidak keduanya pahami sepenuhnya.