Senja turun perlahan di pulau pribadi keluarga Suryadinungrat. Cahaya jingga membentur kaca vila, memantulkan siluet dua orang yang tidak pernah membayangkan hidup mereka akan terikat seperti ini. Laut tenang, angin menggerakkan tirai tipis, dan aroma garam bercampur dengan wangi kayu dari interior vila.
Semua tampak damai.
Terlalu damai.
Seolah pulau itu tidak sadar bahwa dua nyawa di dalamnya sedang diguncang badai batin.
Ellya berjalan masuk ke kamar besar yang telah disiapkan staf. Lampu kuning remang menerangi ruangan. Ada satu ranjang besar di tengah, seprai putih rapi, dan meja kayu dengan lilin kecil yang tidak dinyalakan.
Ellya berhenti di ambang pintu, menatap ranjang itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Tubuhnya lelah, kepalanya pusing, tetapi yang paling menyakitkan adalah pikiran tentang Reza—tentang bagaimana wajahnya yang bingung saat mengatakan “aku bodoh” terus terulang di kepala.
Ia menutup pintu perlahan dan berbalik, hanya untuk menemukan Reza berdiri di luar kamar, memegang segelas air. Seolah tadi ia ragu masuk.
“Oh…” Reza mengangkat gelas itu. “Ini… air… kalau kamu haus.”
Ellya memaksakan senyum, tetapi sudut bibirnya gemetar. “Terima kasih.”
Reza menyerahkan gelas itu dengan hati-hati, seakan takut menjatuhkannya. Lalu ia menatap kamar.
“Kita… tidur di sini…?” tanyanya ragu.
Pertanyaan sederhana itu membuat hati Ellya bergetar tak karuan. Ada rasa bersalah yang menyusup seperti air dingin melalui celah pakaian.
“Ya… sepertinya begitu.” Ia menunduk. “Mereka tidak menyiapkan dua kamar.”
“Oh…” Reza mengangguk pelan. “Kalau begitu… aku tidur… di lantai saja. Biar kamu enak.”
Ellya langsung menggeleng cepat. “Reza, tidak perlu. Ranjang ini besar. Kita bisa tidur di sisi masing-masing.”
Reza tampak berpikir sejenak. “Tapi… kalau kamu takut… nggak apa. Aku bisa di sofa luar juga.”
“Ellya tidak takut,” jawab wanita itu pelan. Walaupun sebenarnya ia memang takut. Bukan pada Reza, melainkan pada rasa bersalah yang terus menghimpit dadanya, perasaan seperti menusuk diri sendiri dengan pisau tumpul.
Reza masuk pelan, langkahnya hati-hati seperti seseorang yang takut merusak sesuatu. Ia duduk di tepi ranjang, lalu memandang Ellya sebentar.
“Kamu sedih, ya?” tanyanya tiba-tiba.
Ellya terdiam.
Tidak ada suara lain selain desiran angin dari jendela.
Reza menunduk, memainkan ujung jarinya. “Tadi… kamu nangis. Aku dengar sedikit. Maaf kalau aku salah.”
Ellya menggigit bibir bawah. “Tidak, Reza. Kamu tidak salah.”
Reza mengangkat wajah. “Kalau bukan aku… siapa yang bikin kamu sedih?”
Pertanyaan itu meruntuhkan sesuatu dalam diri Ellya. Ia memalingkan wajah, menatap lantai, dan mengingat semua hal yang membuatnya terjebak: foto-foto, Tante Maharani, tuduhan keluarga, dan Reza yang terseret tanpa tahu apa yang terjadi.
“Semua… semuanya salah,” jawab Ellya akhirnya, suaranya pecah halus.
Reza memiringkan kepala sedikit, raut wajahnya tulus, seperti anak kecil yang ingin mengerti tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ia mendekat setengah langkah, namun berhenti karena takut membuat Ellya tidak nyaman.
“Kalau kamu mau cerita… aku dengar,” katanya pelan.
Ellya nyaris menangis mendengar itu. Kenapa laki-laki sepolos ini harus menikahinya? Kenapa bukan orang jahat? Kenapa bukan seseorang yang bisa ia hadapi dengan mudah?
Ia menarik napas panjang. “Reza… kamu tidak perlu mendengar semua ini.”
“Tapi kamu sedih.”
Itu kalimat sederhana, tapi terasa seperti memeluk jiwa Ellya yang retak.
“Kadang,” kata Reza lagi, masih dengan raut bingungnya, “kalau aku sedih… aku cerita. Walaupun orang bilang aku lambat ngerti, tapi kalau aku diam saja… rasanya makin sakit.”
Ellya menutup mulut dengan tangan, menahan isak.
Reza menatapnya, tampak panik. “Jangan nangis… aku salah ya? Aku bikin kamu takut ya? Maaf… aku nggak bagus bikin orang senang…”
“Bukan kamu…” Ellya segera menyela. “Reza, itu bukan karena kamu.”
Laki-laki itu mengedip cepat, seolah mencoba memahami. “Kalau begitu… aku bingung… gimana caranya bantu kamu.”
Kalimat itu lembut.
Jujur.
Menyayat dalam cara yang tidak pernah Ellya duga.
Ia duduk di sisi ranjang, meletakkan gelas air di meja.
Reza menatapnya begitu lama hingga Ellya merasa telanjang secara emosional. Bukan karena tatapannya menembus, tetapi karena… Reza terlihat benar-benar ingin mengerti.
“Terima kasih,” ujar Ellya, lirih. “Karena kamu mau… mencoba membuatku lebih baik.”
Reza tersenyum tipis—senyum lugu, tidak dibuat-buat. “Aku kan suami kamu sekarang… harus begitu.”
Suami.
Kata itu menggema di kepala Ellya.
Ia menatap Reza. “Reza… kamu tidak marah? Karena semua ini terjadi begitu cepat?”
Reza menggaruk belakang kepala, berpikir keras. “Marah… itu yang gimana ya? Yang… panas di d**a? Yang bikin ingin teriak?”
Ellya menahan napas. “Iya. Itu.”
Reza menggeleng. “Enggak. Aku cuma bingung aja. Banyak sekali orang bicara keras… foto, kamar hotel… terus tiba-tiba kita menikah… aku cuma bingung.”
“Tapi kamu tidak marah?” ulang Ellya.
Reza menggeleng lagi. “Kalau marah… nanti aku tambah pusing. Jadi… aku ikut saja apa kata Ayah.”
Jawaban itu membuat Ellya ingin menangis lebih keras.
Ia tidak tahu apakah Reza benar-benar tidak merasa marah… atau apakah ia sudah terbiasa patuh.
Keduanya sama-sama menyakitkan.
Di luar, suara ombak naik turun. Angin menggedor jendela, tapi kamar tetap sunyi. Reza duduk diam, memandangi tangannya sendiri, sementara Ellya memeluk tubuhnya.
Setelah beberapa lama, Reza berkata pelan, “Ellya… kamu nggak suka aku, ya?”
Ellya mendongak cepat. “Apa?”
Reza menggigit bibir, takut mengatakan sesuatu yang salah. “Aku tahu perempuan suka laki-laki yang pintar, yang berani… yang tahu banyak. Tapi aku… tidak seperti itu. Jadi kalau kamu tidak suka aku… tidak apa.”
“Reza…” suara Ellya pecah. “Kamu tidak salah apa-apa.”
“Kalau begitu… kenapa kamu kelihatan sedih sejak tadi?”
Ellya menutup wajah dengan kedua tangannya. “Karena aku merasa… aku menarikmu ke situasi yang tidak kamu mau.”
Reza tampak memikirkan itu lama. “Tapi… aku tidak keberatan.”
Ellya terpaku. “Kenapa?”
Reza menatap lantai lagi. “Karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kalau tidak ikut Ayah.”
Itu kalimat yang paling menghancurkan hati Ellya malam itu.
Ellya menggeser duduk, merengkuh tangannya sendiri untuk menahan tubuhnya tidak gemetar. “Reza… hidup kamu bukan hanya pilihan Ayah kamu.”
Reza tampak bingung. “Tapi… aku tidak pintar buat pilih-pilih.”
Ellya menelan ludah. “Kamu lebih dari itu…”
Reza tersenyum kecil. “Kamu baik.”
Mereka terdiam lagi.
Waktu terasa melambat, hanya diisi napas dua orang yang sama-sama tersesat.
Akhirnya Ellya berdiri, menatap ranjang besar itu, lalu melihat Reza. “Kita tidur ya? Di sisi masing-masing.”
Reza mengangguk cepat, hampir lega. “Iya. Iya.”
Ia naik ke ranjang dengan hati-hati, lalu duduk di paling pinggir seperti takut menyentuh garis tengah. Ellya masuk dari sisi lain, menarik selimut sampai d**a.
Keduanya berbaring memunggungi satu sama lain.
Dalam gelap, hanya suara napas mereka yang terdengar.
Beberapa menit kemudian, suara pelan muncul:
“Ellya…”
“Hm?”
“Terima kasih sudah… jadi istriku.”
Ellya menutup mata, air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
“Terima kasih juga, Reza…” jawabnya pelan, suara tersendat. “Terima kasih sudah… tidak membenciku.”
Malam itu berlalu tanpa sentuhan.
Tanpa kecanggungan fisik.
Tanpa erotisme.
Hanya dua jiwa yang berada di ranjang yang sama—
saling menanggung rasa bersalah dan kebingungan masing-masing.
Keduanya tertidur dengan cara berbeda:
Ellya tertidur sambil menangis,
dan Reza tertidur sambil memeluk bantal kecil yang ia temukan—
seperti anak kecil yang mencari kenyamanan di tengah badai yang tidak ia pahami.
Dan dalam kegelapan itu, satu kenyataan menjadi jelas:
Pernikahan mereka bukan dimulai dengan cinta…
tapi dengan luka dan diam.