“Bercanda, jangan terlalu dipikirkan ... sekarang jalani saja hidupmu, sebagai teman aku hanya bisa mendoakan karena dua-duanya baik untukmu. Entah itu Laskar maupun Pak Zeron, tidak ada yang fail di mataku.” Sandra mengakhiri ucapannya dengan senyum hangat, meski nada bicaranya masih terdengar serius di telinga Sonya. Mendengar itu, Sonya hanya mengangguk kecil. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tapi jelas terpancar bahwa hatinya sedang tidak ringan. Kata-kata Sandra memang tak bisa dianggap enteng, apalagi mengingat bagaimana hubungan masa lalunya dengan Laskar dan bagaimana dia sekarang menjadi istri dari pria yang begitu kontras, baik dari kepribadian maupun latar belakang. Namun, Sonya cukup tahu diri. Dia tak ingin pembicaraan itu melebar ke arah yang rumit. Maka, ia memilih diam,