Dimas berjalan meninggalkan rumah makan itu dengan langkah pelan, seolah sengaja memberi waktu pada pikirannya untuk mengejar perasaannya sendiri. Udara siang Malang terasa hangat, sedikit berangin. Matahari tidak menyengat, tapi cukup terang untuk membuat bayangan tubuhnya jatuh memanjang di trotoar. Semuanya tampak biasa. Namun kepalanya justru penuh, lebih ramai dari yang Dimas kira. Makan siang itu seharusnya sederhana. Ia datang dengan niat sekadar mengajak makan, berbagi cerita ringan tentang sekolah, lalu kembali ke rutinitas masing-masing. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Inari tinggal. Ia tidak terburu-buru. Ia mendengarkan. Ia tertawa kecil di waktu yang tepat seperti seseorang yang sudah lama tidak membiarkan dirinya benar-benar ringan. Inari hadir sepenuhnya di meja

