Inari berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Bukan karena ia ingin tampil istimewa—justru sebaliknya. Ia ingin terlihat biasa saja. Netral. Tidak meninggalkan kesan apa pun yang bisa disalahartikan. Blus krem berlengan panjang yang sudah berkali-kali ia pakai ke sekolah. Rok hitam selutut yang rapi tapi tidak mencolok. Sepatu datar yang nyaman dan praktis. Rambutnya ia ikat sederhana ke belakang, tanpa helaian yang sengaja dibiarkan jatuh manja. Wajahnya polos. Hanya bedak tipis untuk menyamarkan lelah, dan lipstik warna natural yang nyaris tak terlihat. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan mata yang tenang tapi kosong. Makan siang saja, katanya pada diri sendiri. Sebagai teman. Tidak lebih. Namun jantungnya tetap berdetak tidak teratur, seolah tubuhnya tahu bahwa ia s

