Malang kembali turun hujan sore itu, gerimis lembut yang menempel di kaca jendela rumah kecil Inari. Ia duduk sendirian di kursi rotan dekat jendela, menyeruput teh hangat yang sudah tak lagi panas. Seharusnya hatinya terasa penuh setelah pulang dari Semarang. Seharusnya kenangan pelukan Bramasta di stasiun dan cara pria itu menggenggam tangannya dengan penuh rindu membuat hari-harinya hangat. Dia mencoba memaklumi, Bramasta bilang banyak laporan yang harus ia selesaikan. Akan tetapi tetap saja itu membuatnya gelisah. Untuk mengalihkan pikiran, Inari bangun dan menata ulang buku-buku di rak, membersihkan meja makan, menyapu lantai yang sudah bersih sebelumnya agar tidak fokus memeriksa ponsel setiap lima menit. Namun rindu itu tetap datang dan membuatnya kesepian. “Sudah tahu begini,”

