Bab 13 Ruang rahasia

1140 Kata

Perjalanan pulang dari Semarang ke Gresik terasa lebih panjang dari biasanya. Bramasta menatap jendela mobil dinas yang memantulkan wajahnya sendiri—lelaki yang tampak tenang, tetapi berlapis-lapis rahasia. Jalanan kota yang ramai hanya lewat seperti garis cahaya, sementara pikirannya tersangkut pada satu hal: Pelukan Inari di stasiun. “Sayang… peluk aku lagi.” Suara itu masih mengisi telinganya. Bramasta memejamkan mata sebentar. Ia tahu, ia tidak boleh membiarkan dirinya terlalu hanyut. Karena sebentar lagi dia harus berperan sebagai suami dan ayah yang baik di depan keluarga kecil yang dibangunnya dengan susah payah. Begitu mobil memasuki kompleks perumahannya, ia menarik napas panjang. Saat turun, ia merapikan wajahnya, memastikan tidak ada sisa ekspresi rindu atau rasa bersalah.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN