Pacar baru Chris

1924 Kata
"Aku gak nyangka bakal ketemu kamu di sini,” ujar Chris. “Kalian saling kenal?” tanya Anny kepadaku. Aku menatap Anny bingung, sepertinya Anny mengenal Chris. “Iya, kami saling mengenal. Emangnya kenapa?” aku membalikkan pertanyaanku dengan Anny. “Dia pacarku,” jawab Anny. Aku terkejut bukan main setelah aku mendengar jawaban darinya. Pacar? Bagaimana bisa Chris mempunyai pacar baru dan masih mengintaiku seperti kemarin. Chris terlihat bingung ketika Anny mengatakan bahwa mereka berpacaran, “Hmm, iya Anny ini pacar aku,” sambung Chris. Aku mengernyit, “Oh, kalian tampak serasi,” ucapku seraya senyum tipis. Perasaanku tidak karuan ketika aku mendengar bahwa Chris sudah mempunyai pacar. Aku berusaha membuang perasaan tersebut jauh – jauh. “Kalau kamu Michelle, kamu punya pacar gak?” tanya Anny kepadaku. Pertanyaan itu membuat Chris menatapku tajam seakan – akan menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku. Aku melirik Chris kemudian aku memalingkan wajah dan menatap Anny, “Iya, aku tinggal bersama pacarku di sini.” Anny tampak bersemangat ketika ia mengetahui bahwa aku mempunyai hubungan, “Oh ya? Siapa pacar kamu?” “Dia pemilik beach hotel,” jawabku singkat. Anny mencondongkan tubuhnya, “oh ya? Kayaknya kita emang cocok bersahabat deh.” Aku semakin bingung dengan jawaban apa yang akan aku ucapkan. Aku tidak mungkin menjalin pertemanan dengan seorang wanita yang sedang berhubungan dengan seseorang laki – laki yang pernah dekat denganku. “Hmm, ak-“ “Kayaknya gak bakalan cocok sih kan kita sibuk,” potong Chris. Anny tampak tidak terima mendengar ucapan Chris, “kita gak sibuk kok, kamu mau kan berteman denganku?” tanya Anny kepadaku. “Hmm, ya mau lah. Pasti aku mau,” jawabku. Aku merasa tidak enak jika aku mengatakan tidak kepada Anny. “Nah, Michelle aja mau. Kenapa kamu gak mau sih? Jangan sombong gitu ah,” ujar Anny kepada Chris. “Michelle, maaf ya Chris memang agak sombong orangnya. Tapi sebenarnya dia baik kok. Oh iya, by the way kalian kenal dimana?” tanya Anny. “Aku kenal Chris dulu dari pacarku,” jawabku berbohong. “Oh gitu. Aku jadi mau deh kenalan sama pacar kamu. Kapan – kapan kita double date yok,” ajak Anny. Wajah Chris tampak semakin bingung. “Kapan – kapan boleh,” balasku. Chris langsung menarik tangan Anny, “ayo kita pergi.” Anny menarik tangannya kembali, “apasih kamu ini, aku kan masih mau ngobrol dengan Michelle. Mending kamu duduk deh,” ucapnya sambil bergeser. Chris terpaksa duduk di samping Anny, seraya menatapku. Aku berusaha untuk tidak terlalu lama menatapnya. Rasanya aku ingin pergi dari sini tapi tidak enak dengan Anny. Namun, tiba – tiba telfonku berdering menyelamatkanku dari suasana canggung ini. Aku mengangkat telfonku, “Halo,” “Hai, ini kan udah siang gimana kalau kita makan siang bareng?” ajak Michael. “Iya boleh, boleh banget,” jawabku penuh semangat. “Oke kamu dimana sekarang?” “Aku ada di pantai dekat Mcd ini.” “Oke, aku ke sana sekarang,” ucap Michael. “Gak usah, kenapa kamu ke sini?” tanyaku dengan perasaan panik. “Emang aku mau ngajak kamu makan di mcd. Oke bye.” Michael langsung menutup telfon. ‘kenapa langsung dimatiin sih telfonnya,’ gumamku dalam hati. Anny menyentuh tanganku, “itu siapa tadi? Pacar kamu?” tanya Anny. “Iya, dia mau ngajak makan siang bareng,” jawabku dengan santai, lalu aku merebahkan badanku di kursi. “Oh ya? Ayo barengan aja.” Aku langsung membelalak dan bangkit dari kursi, “Hmm-“ Tiba – tiba seseorang menyentuh bahuku dari belakang, “aaa,” teriakku terkejut. “Kok teriak sih?” tanya Michael menahan tawa. “Ah Michael, hahaha. Astaga,” ucapku seraya mengelus d**a. Michael menyadari keberadaan Chris, tapi Michael dengan santai menanggapinya, “oh, hai Chris.” Sepertinya Michael mengikuti nasihatku kemarin untuk tidak emosi di depan Chris. Tapi Michael tampaknya ingin membuat cemburu Chris, ia menciumku kepalaku berkali – kali saat ia baru datang. “Aku kangen banget sama kamu princess,” kata Michael kepadaku. “Aku juga kangen.” Tidak puas hanya mencium kepalaku, Michael memegang wajahku dan langsung mencium bibirku, “aku kangen banget sama bibir kamu.” Aku menunduk malu setelah mendengar Michael mengatakan hal tersebut kepadaku, “bisa aja sih kamu.” “Kalian serasi banget ya. Aku iri deh,” kata Anny kepada kami berdua. “Kalian pacaran?” tanya Michael kepada Anny dan Chris. Anny mencium pipi Chris, “iya, kami pacaran.” “That’s good.” Balas Michael sambil tersenyum. Chris diam dan tidak ikut ke dalam pembicaraan, entah kenapa ia hanya diam seperti patung. ‘Apakah ia cemburu denganku dan Michael? ah, tapi kan dia juga sudah punya pacar,’ batinku. “Gimana kalau kita makan siang bareng, aku dengar tadi kalian mau makan siang kan?” ajak Anny. Aku dan Michael saling bertatapan, aku mengedipkan mata sebagai isyarat agar menolak ajakannya, “boleh, ayo,” balas Michael. Aku memiringkan kepala, lalu menoleh kepada Anny seraya tersenyum, “Ayo,” “Kalian aja deh yang makan siang, aku gak ikut,” kata Chris dengan nada dingin. “Ayolah, kamu ini kenapa sih dari tadi kayak gak semangat gitu?” tanya Anny kepada Chris. Chris beranjak dari tempat duduk dan berdiri di depan Michael, “kalau gitu, ayo kita makan siang bareng. Kayaknya memang ide bagus, iya kan Michael?” tanya Chris. “Of course, it’s a good idea,” jawab Michael dengan senyum sarkastiknya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, aku hanya pasrah kepada Tuhan agar tidak terjadi suatu hal yang memalukan. Kami ber empat menyebrang dan berjalan masuk ke restoran cepat saji yang berjarak beberapa meter saja dari pantai. Lalu kami memilih meja yang dekat dengan jendela. Aku duduk di samping Michael berhadapan dengan Chris, sedangkan Michael berhadapan dengan Anny. Aku berusaha agar penglihatanku tidak tertuju kepada Chris, aku tidak sanggup untuk melihatnya. Aku menopang kepalaku dengan tangan kanan agar penglihatanku hanya tertuju kepada Michael. Seorang pelayan datang menyelamatkan aku dari keadaan canggung, “mau pesan apa?” tanya si pelayan. “Aku mau Cheese dan lem-“ “Lemon tea,” potong Chris, aku langsung menatapnya dan membelalakan mataku. Michael dan Anny juga ikut menatap Chris dengan heran. “Yang aku maksud aku memesan lemon tea dan cheese burger,” kilah Chris. “Aku juga sama,” balas Michael sambil memberi Chris tatapan tajam. “Aku juga sama,” ucap Anny dengan senyum polosnya. “Oke, cheese burger dan lemon tea 4 ya. Ditunggu,” kata pelayan itu, lalu ia pergi meninggalkan kami. “Yey, cheese burger party,” Anny terlihat sangat gembira. “Yey,” kataku seraya tersenyum palsu. Michael menggeser badannya agar lebih dekat denganku, lalu ia merangkulku. “Kalian kenalnya dimana kalau boleh tau?” tanya Anny kepadaku dan Michael. “Pertama kali aku liat Michelle itu dari kampus sewaktu aku bawa acara seminar. Aku bisa ngelihat jelas wajah cantiknya dari panggung. Waktu itu dia menatapku sampai gak berkedip,” jelas Michael. Aku menatapnya dengan tatapan nakal, “sampai gak berkedip? Mana ada gitu,” elakku, lalu aku mencubit perutnya sampai Michael meringis. “Loh, emang benar kan?” “Kamu gak berkedip,” balasku. “Kamu sayang,” “Kamu,” “Ih diam gak?” Michael langsung mencium bibirku. Aku menutup mulutku dan merasa malu. “Kalian emang benar – benar serasi. Kalian itu couple favorite aku banget,” kata Anny sambil tersenyum lebar. “Thank you,” ucap Michael dan aku secara berbarengan. Lalu aku dan Michael saling bertatapan, kemudian kami tertawa. Tanpa sengaja aku melirik ke arah Chris, ia tampak menahan emosinya. Akan tetapi sepertinya dia tidak mau kalah, Chris merangkul Anny dengan erat, “aku juga mau cerita tentang pertemuanku dengan Anny,” “Oiya, saking fokus dengan Michelle aku jadi lupa dengan kalian. Aku mau dengar cerita kalian juga kalau gitu,” balas Michael. “Pertama kali aku ketemu dengan Anny itu di supermarket di New York, aku ngeliat dia dari jauh. Dia benar – benar cantik dan anggun, aku langsung jatuh cinta,” jelas Chris, lalu Anny terlihat senang dan mencium pipi Chris. “That’s sweet,” balasku dengan memasang senyum palsu. Aku jadi teringat bahwa Chris menghilang entah kemana, sekarang aku menemukan jawabannya. Chris tidak pergi kemanapun, ia tetap di New York. “Aku beruntung banget bisa ketemu dengan wanita luar biasa seperti Anny. Dia sering ikut acara amal dan menyumbangkan uang ke yayasan kanker. Kebaikannya membuat aku jatuh cinta.” Tambah Chris. Entah perasaan Chris itu sungguhan atau hanya sekedar membuatku cemburu, aku tidak tau. Perasaanku jadi tidak enak karena aku tidak mempunyai sedikitpun kebaikan seperti yang dilakukan Anny. “Stop it, aku gak sesempurna itu kok,” kata Anny merendah. Michael tersenyum mendengar perkataan Chris tersebut, lalu ia melirikku, “ada satu hal yang membuat aku tergila – gila sama Michelle, dia orangnya kuat. Selain mempunyai paras yang cantik, dia juga memiliki hati yang baik,” ucap Michael tidak mau kalah. “Thanks, tapi aku harusnya lebih berterima kasih sama kamu,” kataku kepada Michael. “Kenapa?” “Karena kamu udah berusaha banget bantu aku dan selalu ada di sisi aku saat ayah aku meninggal. So, I love you,” jawabku, lalu aku menggenggam tangan Michael. Chris langsung terkejut, “ayah kamu meninggal?” Aku mengangguk pelan. “Kapan?” tanya Chris. “Beberapa bulan lalu,” jawab Michael. Wajah Chris langsung berubah menjadi murung, tebakanku ia merasa bersalah karena sewaktu itu ia menghilang dan sengaja menghindar dariku. “Turut berduka ya,” ujar Anny. “It’s okay, aku udah gak sedih kok,” aku tersenyum kepada Anny. Sekali lagi pelayan menyelamatkanku dari situasi tidak mengenakkan dengan mengantar makanan kami, “silahkan,” “Thank you,” balasku kepada si pelayan. Pembicaraan tentang ayahku terhenti saat makanan diantarkan. Kami langsung menyantap makan siang. Walaupun perutku terasa tidak lapar lagi akibat pembicaraan ayah yang aku mulai sendiri tapi aku tetap menghabiskan burger ini. “Ada saus di bibir kamu,” ucap Michael seraya mengelap saus di bibirku, lalu ia menjilat jarinya tersebut. “Jangan menggoda aku,” larangku sambil memberinya tatapan nakal. “Kalian memang jodoh deh, di setiap waktu ada aja buat kalian untuk bermesraan,” kata Anny. “Aku gak bisa kalau gak bersikap manis dengan Michelle. Look at her, she’s beautiful,” puji Michael kepadaku. “Kamu juga ganteng,” aku memuji balik Michael. Kami pun selesai makan, momen canggung akan segera terjadi lagi. Aku berharap bahwa aku akan segera cepat pulang dan beristirahat. Aku tidak mau berlama – lama menghabiskan waktu dengan Chris dan pacar barunya. “Jadi kalian udah berapa lama pacaran?” tanya Michael. Pertanyaan yang Michael berikan seolah – olah membuatku ikut penasaran. “Sekitar satu bulan sih,” jawab Anny, lalu ia menatap Chris. “Iya, satu bulan,” kata Chris. Michael mengangguk pelan, “good for you guys,” Aku ikut tersenyum, lebih tepatnya senyum palsu karena aku merasa dikhianati. Aku tidak menyangka bahwa Chris menghilang tanpa kabar karena ia mempunyai pacar baru. Michael melihat jam tangannya, “udah jam setengah tiga, kamu mau pulang?” tanya Michael kepadaku. “Iya, badanku agak sakit juga nih,” jawabku. “Kamu mau ke hotel lagi?” tanyaku. “Enggak, aku mau pulang sama kamu aja. Aku diantar supir tadi, kamu bawa mobil kan?” tanya Michael lagi. “Iya, bawa kok.” Aku dan Michael beranjak dari tempat duduk, “oke guys, kami pulang dulu ya,” pamit Michael kepada Anny dan Chris. Aku melambaikan tangan, “bye,” Anny membalas lambaian tanganku, “bye, sampai ketemu lagi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN