I miss you...

1308 Kata
Setelah pertemuanku dengan Chris dan pacar barunya, hari ini pasti akan terasa beda dari pada sebelumnya. Aku masih tidak habis pikir dengan Chris yang ternyata sudah satu bulan bertemu dengan Anny, yang paling tidak aku sangka adalah ia masih mengejarku. Jika aku menjauhi Anny, aku akan merasa tidak enak karena ia tampak begitu baik kepadaku. Tapi di sisi lain aku juga tidak nyaman untuk berlama – lama menghabiskan waktu dengan mereka, terutama dengan Chris. Aku menghela nafas dan menyandarkan badanku di sofa. Aku tidak menyangka bahwa percintaanku akan semakin rumit dari sebelumnya. Aku memencet remot dengan asal – asalan, aku melampiaskan kegundahanku dengan menonton tv. “Kamu mau makan apa malam ini?” tanya Michael yang baru saja dari dapur. Aku menoleh ke arahnya, “pizza aja kali ya,” jawabku. “Pizza? Are you sure? Kamu gak mau makan yang lain?” Aku mengangguk pelan, “aku ngidam pizza,” Michael langsung duduk di sampingku dan memegang perutku, “kamu hamil?” Aku membelalak, “ya enggak lah, ngaco kamu.” Aku mendekati Michael dan mengendus baju Michael, “kok kamu bau sih?” protesku kepada Michael. Mendengar keluhanku, Michael ikut mengendus badannya, “mana ada aku bau, sebelum dari dapur aku udah mandi.” Tiba – tiba aku merasakan mual, aku menutup mulutku dan segera pergi ke kamar mandi. Aku mencoba untuk memuntahkan isi perutku di toilet, Michael dengan sigap memegang rambutku agar tidak basah. “Kamu lagi sakit ya?” tanya Michael khawatir. “Aku gak tau,” jawabku lemas. Michael menggendongku dan membaringkanku di tempat tidur, “yaudah aku panggil dokter dulu ya.” “Iya,” balasku singkat. Tidak lama kemudian, seorang dokter wanita paruh baya masuk ke kamarku, “hai, Michelle.” “Hai dok,” Ibu dokter duduk di sampingku, lalu memeriksaku dengan stetoskop, “apa yang kamu rasain?” “Pusing, mual, penciumanku juga jadi sensitif dok.” Jawabku. Kemudian ibu dokter mengambil test pack dari tasnya, “coba dulu di kamar mandi,” perintahnya. “Aku gak hamil dok,” kataku, “Kapan terakhir kamu menstruasi?” Aku diam sejenak dan mengingat kapan terakhir aku datang bulan, “hmm, saya lupa dok. Mungkin bulan lalu.” “Periksa dulu ya di kamar mandi,” pinta ibu dokter untuk yang kedua kalinya. Dengan terpaksa aku berjalan ke kamar mandi dan menuruti perintah dokter, aku hanya berharap bahwa aku tidak hamil. 10 menit aku menunggu, aku pelan – pelan melirik test pack yang berada di tanganku dengan rasa takut, “astaga,” teriakku.  Aku langsung keluar dari kamar mandi, “Dok, positif.” Ibu Dokter dengan sigap memeriksa test packku, “wah selamat ya,” Kemudian Michael masuk kamar dengan wajah panik, “aku dengar kamu teriak, ada apa?” “Selamat ya kalian akan jadi orang tua,” ucap ibu Dokter. Wajah Michael tampak sangat terkejut, lalu ia menoleh kepadaku. Ia langsung menggendongku dengan semangat, “kamu hamil, aku akan jadi seorang ayah,” seru Michael. Aku kebingungan dengan sikap Michael, aku kira ia akan marah, “yey,” balasku singkat. “Jadi, tolong ya dijaga Michellenya, jangan sampai kelelahan. Saya permisi dulu ya,” pamit ibu Dokter. “Terima kasih Dok,” ujar Michael. Michael kembali mendudukkanku di pinggir tempat tidur, lalu ia berjongkok di depanku, “sekarang kamu mau makan apa?” tanya Michael dengan tatapan bahagia. “Aku mau makan di luar aja, aku bosan di rumah,” pintaku dengan memasang ekspresi manja. “Oke, ayo kita makan di luar,” balas Michael. Michael beranjak dan membuka lemari, lalu ia mengambil hoodieku dan memakaikannya kepadaku, “kamu pakai ini, kata Dokter tadi aku harus ngejaga kamu. Di luar pasti banyak angin.” “Serius?” tanyaku heran. “Serius banget lah, ayo.” Michael menggenggam tanganku dan kami berjalan keluar dari rumah. *** Aku dan Michael mengitari kota untuk menemukan restoran yang akan aku pilih. Entah kenapa malam ini aku sangat sulit untuk memilih tempat makan. “Kamu mau makan dimana sih sebenarnya?” tanya Michael kepadaku. “Hmm, di situ aja. Aku mau chinese food,” jawabku seraya menunjuk restoran Chinese food terdekat. Michael memarkirkan mobilnya dan kami berjalan masuk ke dalam restoran. Sesampainya di dalam restoran, semua meja sudah penuh dengan para pengunjung. “Kita cari tempat lain aja ya,” ucap Michael dengan nada rendah. Aku menarik lengan baju Michael, “Yah, tapi aku makan di sini.” “Tapi penuh sayang,” balas Michael, lalu ia mengelus kepalaku. Kemudian seorang perempuan melambaikan tangannya kepada kami dari jauh, perempuan itu adalah Anny, “gabung aja sama kita,” ajaknya dengan volume suara cukup keras. Aku menatap Michael dengan tatapan memohon, “boleh ya kita gabung dengan mereka,” pintaku. Michael menghela nafas, “iya, apasih yang enggak buat kamu.” Akhirnya kami berjalan ke meja Anny dan Chris. Walaupun rasanya aku malas melihat Chris malam ini, tetapi untuk menuruti hasratku aku tidak memperdulikannya. “Hai guys, kita emang cocok berteman ya. Aku gak nyangka loh bakalan ketemu kalian di sini,” ucap Anny, “Tapi kalian kok pakai baju rumah ya ke restoran chinese,” tambahnya. “Mungkin karena memang gak punya selera,” ujar Chris dengan nada dinginnya. Michael tersenyum sarkastik, “jangan ngomong gitu dong, kami memang mendadak mau keluar rumah. Aku nurutin kemauan Michelle aja,” “Wah, sweet banget ya,” seru Anny. Michael menggenggam tanganku, lalu menciumnya, “apasih yang enggak buat my princess.” “Aku jadi malu nih,” balasku. Setelah itu kami ber – empat memesan makanan. Suasana sangat tidak enak dan canggung, aku hanya menonton Michael yang sedang mengobrol dengan Anny. Chris melirikku sesekali tapi aku berusaha untuk tidak melihatnya. “Michael, nanti aku boleh pesan makanan lagi gak untuk dibawa pulang?” tanyaku kepada Michael. “Boleh, kok kamu sejak hamil nafsu makannya meningkat ya,” jawab Michael. Chris langsung tersedak mendengar perkataan Michael. Melihat pacarnya terkejut Anny mengelus d**a Chris,  “hamil? Siapa yang hamil?” tanya Chris seraya terkejut. “Michelle lah, siapa lagi emangnya,” jawab Michael. Anny langsung bersemangat mendengar kabar baik tersebut, “wah, selamat ya. I’m so happy for you guys.” “Michelle, kamu hamil anak Michael?” tanya Chris kepadaku. Aku mengerutkan alisku, “yaiyalah, anak siapa lagi,” “Kamu keliatan gak senang gitu, gak boleh gitu dong, mereka kan lagi bahagia,” kata Anny kepada Chris. “Jangan salah tanggap, aku senang kok,” elak Chris. Untung saja makanan datang, aku tidak sanggup melihat Chris yang tampak kecewa denganku. Aku tidak tau harus berbuat apa, semua sudah terlanjur. Setengah jam kemudian kami menyelesaikan makan malam. Perasaanku jauh lebih tenang ketika aku menikmati makanan yang enak, terutama Chinese food. “Aku mau ke toilet sebentar ya,” kataku, lalu aku pergi ke toilet untuk buang air kecil dan merapikan make upku. Saat aku keluar dari toilet, Chris menghampiriku dan memojokkanku ke tembok, “I miss you.” Aku mendorong Chris, “apasih Chris? Anny ada di sana, Michael juga.” “I don’t care,” balas Chris, lalu Chris mendekatkan dirinya kepadaku. Aku kembali mendorongnya, “sudahlah, stop.” “Kamu bohong kan, aku tau kamu gak hamil,” tuduh Chris kepadaku. “Aku hamil, aku beneran ham-“ tiba – tiba aku merasakan mual yang luar biasa, aku bergegas ke toilet untuk muntah. Chris menyusulku dan masuk ke toilet khusus perempuan tanpa memperdulikan siapapun, “kamu gak apa – apa?” tanya Chris khawatir. “Iya aku gak apa – apa, aku cuma hamil,” jawabku. Michael ikut masuk ke dalam toilet, ia tampak khawatir, “Michelle, kamu gak apa – apa kan? Kamu mual lagi?” Michael langsung memegang tanganku dan menjauhkanku dari Chris. Aku memeluk Michael erat, “ayo pulang,” ajakku. Sepertinya bayi di dalam perutku membuat tingkahku jauh lebih manja dari sebelumnya. “Iya, ayo kita pulang,” ucap Michael.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN