Romantic dinner

1935 Kata
Aku membawakan makan siang untuk Michael yang sedang istirahat di kamar, “Michael, makan siangnya.” Michael terbangun dari tidurnya, ia langsung tersenyum saat aku masuk ke dalam kamar, “aku udah laper banget nih.” Aku menaruh makan siangnya di meja, kemudian aku duduk di pinggir tempat tidur. Sedangkan Michael mulai menyantap makanan yang berada di hadapannya, “hmm, enak banget.” “Serius? Gak bohong?” “Serius, ini enak banget,” jawab Michael. Aku bahagia mendengar Michael memuji masakanku. Ia dengan lahap menyantap makanan yang aku buatkan dan habis dalam hitungan menit saja. Sehabis makan, Michael langsung memelukku dengan erat lalu ia menciumku. Walaupun wajahnya dipenuhi lebam, tetapi ia tidak memperdulikannya. Aku membalas ciumannya itu, tanpa sengaja jariku menyentuh rahangnya, “Aduh,” keluh Michael sambil meringis kesakitan. Aku menjauhkan diriku, “Eh, maaf. Aku gak ada maksud untuk sakitin kamu.” “Iya gak apa – apa,” balas Michael. “Serius?” tanyaku, lalu aku mendekatinya untuk memeriksa luka Michael. Michael menatapku dengan tajam, “besok aku ke hotel, kamu mau ikut gak?” tanya Michael kepadaku. “Aku ikut? Untuk apa?” aku membalikkan pertanyaannya. “Aku gak mau kamu di rumah sendirian,” jawab Michael. Aku menghela nafas, kemudian aku membelai rambutnya, “aku gak apa – apa kok sendirian di rumah.” “Tapi kan wajah kamu masih lebam gini, emangnya gak apa – apa kalau kamu udah kerja besok?” tambahku. “Gak apa – apa kok, besok aku pakai masker aja. Lagian besok aku cuma ngurusin masalah kecil aja, gak bakalan lama kok.” Jawab Michael, lalu ia memainkan rambutku. “Tadi Chris ke sini,” ucapku. Michael membelalak, ia terlihat emosi ketika aku mengucapkan nama Chris dari mulutku. “Berani – beraninya dia datang ke rumah kita, dia ngomong apa aja tadi?” tanya Michael kepadaku. “Dia bilang kalau dia mau menjelaskan kenapa ia menghilang bulan lalu,” jawabku. Michael langsung uring – uringan, ia berjalan di depanku seraya mengacak – acakan rambutnya. “Dia tau rumah kita dari mana ya? Jangan – jangan dia ngintai kita,” kata Michael. “Aku gak tau juga, ya sudahlah jangan terlalu dipikir soal Chris,” ucapku untuk menenangkannya. “Aku gak bisa tenang. Aku gak mau dia ngerebut kamu lagi.” Michael tiba – tiba memukul dinding, “bajingan.” Aku mendekatinya dan menahan tangannya agar tidak memukul dinding lagi, “stop Michael.” Michael membalikkan badan dan menatapku, “Aku gak mau kehilangan kamu, ngerti gak sih?” “Aku ngerti kok, ngerti banget. Kamu gak usah khawatir soal itu Chris, aku gak bakalan kemana – mana kok.” Michael memelukku dengan erat, ia tampak sangat takut kehilanganku. Aku membenamkan wajahku di d**a bidangnya, tercium aroma badannya yang membuat aku betah memeluknya berlama – lama. “Kamu jangan terlalu mikirin yang aneh – aneh, aku di sini kok sama kamu. Gak akan kemana – mana,” tambahku lagi. Michael memegang bahuku, “jujur deh, kamu masih cinta gak sama aku?” tanya Michael kepadaku. Aku diam sejenak memikirkan jawaban yang tepat karena aku tidak tau tentang perasaanku sendiri, walaupun aku sudah melupakan Chris tetapi ada sedikit perasaan yang tertinggal di hatiku, “enggak kok, aku udah ngelupain dia.” Elakku. Michael mencium keningku, lalu ciuman itu turun ke tanganku, “oke kalau gitu, aku gak khawatir lagi.” “Gimana kalau kita jalan – jalan keluar malam ini, aku mau berduaan sama kamu,” ajak Michael. Aku mengangguk, “aku mau banget, aku mau berduaan sama kamu.” *** Malamnya.. Aku dan Michael pergi berdua menggunakan mobilnya, kami makan malam si salah satu restoran mewah di pinggir pantai. Kami memilih meja yang terletak di luar ruangan dengan suara ombak pantai yang membuat suasana semakin romantis. Lilin kecil beraroma vanila di letakkan di tengah meja. Mata Michael tampak bersinar melalui cahaya lilin. Michael sangat menghipnotisku malam ini, rambut yang disisir ke belakang membuat wajahnya terlihat lebih tegas. “Kamu mau pesan apa?” tanya Michael kepadaku, lalu ia memberikanku buku menu. Aku melihat – lihat menu dan melihat makanan apa yang akan aku pesan. Menu di restoran ini didominasikan oleh seafood sehingga aku bingung akan memilih menu apa. “Kayaknya aku mau pesan shrimp cocktail dan orange juice, kalau kamu?” “Aku mau pesan oysters dan lemon tea, kita pesan pudding coklat dan ice cream juga ya untuk penutupnya.” Jawab Michael. “Oke,” balasku. Michael memanggil pelayan dan menyebutkan semua makanan yang akan di pesan, lalu Michael kembali fokus kepadaku. Ia memegang tanganku dan mengelus – elus permukaan tanganku dengan ibu jarinya. “Mimpi aku untuk makan malam romantis sama kamu akhirnya terwujud juga, makasih ya udah mau dekat sama aku,” kata Michael. Aku tersenyum manis kepada Michael, “aku bahagia banget kita bisa sampai saat ini, aku gak nyangka sih. Dulu aku ngeliat kamu lagi bawa acara seminar, sekarang malahan kita serumah bareng.” “Aku ingat waktu jaman kamu masih kuliah, kamu pendiam dan suka ngelirik aku dari jauh,” balas Michael. “Ih, mana ada aku ngeliatin kamu dari jauh. Kamu kali,” “Hahaha, aku gak ada ya ngeliatin kamu,” elak Michael. “Buktinya kamu ngundang aku ke launching perusahaan mobil kamu, itu artinya kamu suka sama aku,” godaku kepada Michael. “Tapi kamu nerima ajakan aku dan datang ke ke acara itu, jadi kamu pasti suka sama aku dulu,” ucap Michael. Michael beranjak dari tempat duduknya, lalu ia menggendongku dan menciumku dengan mesra. Aku mendekapnya dengan erat sehingga pasir yang menempel di kakiku terkena bajunya. Lalu Michael menurunkanku, kemudian para musisi datang memegang alat musik mereka masing – masing. Aku menutup mulutku karena terkejut, aku sangat senang ketika Michael memberiku surprise. “Kamu senang gak?” tanya Michael kepadaku. “Senang banget lah,” jawabku. “Ini semua buat kamu my princess,” kata Michael kepadaku, lalu seorang pelayan membawakan seikat bunga mawar merah berukuran besar dan memberikannya kepada Michael. Kemudian Michael memberikan mawar merah itu kepadaku, “mawar ini spesial buat kamu, aku sengaja beli sebanyak ini untuk menggambarkan rasa cinta aku yang sangat besar buat kamu, I love you.” Aku mengambil mawar tersebut, “i love you.” *** Michael menutup pintu depan dan langsung mencium bibirku dengan penuh kasih sayang, aku mendorongnya sampai tubuhnya mengenai pintu sehingga menimbulkan bunyi yang cukup berisik. “kamu buat aku gila Michelle,” ujar Michael. Aku tidak menggubris perkataannya tersebut dan tetap melanjutkan aktifitasku. Aku mencium ceruk lehernya sehingga membuat Michael mendongak. Michael tampak menikmati sentuhan yang aku berikan kepadanya. Michael tidak mau kalah, ia menggendongku dan membawaku ke kamar. Ia membaringkanku di tempat tidur, lalu menindihku. Ia memimpin permainan sekarang, aku hanya bisa menuruti kemauannya. Aku merasa seperti melayang terbang dibuatnya. Aku benar – benar mabuk akan sentuhan yang diberikan Michael. ia memberikan sedikit tekanan, ia menciumku seperti ini adalah ciuman terakhir kami. “Aku gak bisa kalau gak ada kamu,” ujarnya seraya menatap mataku seakan – akan memberi isyarat bahwa ia tidak berbohong. “Aku akan selalu ada buat kamu,” balasku. Aku tidak tau jika aku akan ada selamanya di sisinya, yang paling penting sekarang adalah aku sungguh ingin merasakan sentuhan yang luar biasa darinya. “Michael, kamu sukses membuatku kecanduan. Candu dengan sentuhanmu,” tambahku. Mendengar perkataanku, Michael kembali menciumku. Saat ini aku tidak bisa memikirkan hal lain. Yang aku pikirkan sekarang adalah aku hanya ingin malam ini berjalan lebih lambat, karena aku mau merasakan sensasi luar biasa ini selamanya. Malam ini menjadi salah satu malam terpenting sekaligus terpanas di dalam hidupku. Michael tidak pernah gagal dalam membuat aku tergila – gila kepadanya. Ia juga berhasil membuat hatiku luluh. Momen panas ini pun berlalu, meskipun sudah menghabisi waktu hampir satu jam tapi terasa sangat cepat. Aku dan Michael berbaring dengan dilapisi oleh selimut tebal, kami saling memandang satu sama lain. Michael mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang, ia menatapku dan mendekapku dengan erat. Aku merasakan kehangatan dari suhu tubuhnya sehingga pendingin ruangan terasa tidak bekerja bagiku. Tanpa kalimat yang keluar dari mulut kami berdua, aku sudah merasakan hal yang sangat romantis sekarang. Aku betul – betul suka dengan perlakuan Michael kepadaku, ia menunjukkan bahwa dia memang mencintaiku. Perlahan – lahan kami berdua tertidur di dalam pelukan hingga pagi hari. *** “Hei, bangun princess,” kata Michael seraya mencium pipiku berkali – kali. Aku membuka kedua mataku dan melihat Michael yang sudah menungguku untuk bangun dari tidurku, “Hei, good morning.” Michael lanjut menghujaniku dengan ciuman di seluruh area wajahku. “Iya, aku bangun kok ini,” ucapku, lalu aku memejamkan mata lagi karena rasa kantuk yang begitu hebat. Michael semakin semangat menggangguku, ia menggelitiki perutku sampai aku membuka mata lagi dan beranjak dari tempat tidur. “Hahaha, stop. Jangan gelitiki aku lagi,” seruku, lalu aku beranjak dari tempat tidur dan menjauhi diriku dari Michael, aku berlari ke kamar mandi untuk menghindar darinya tetapi Michael dengan cepat menangkapku. Aku menyandar di dinding kamar mandi hingga tanpa sengaja aku menekan tombol shower, air membasahiku dan Michael. Detak jantungku semakin cepat ketika Michael mendekatkan wajahnya kepadaku. Ciuman di daratkan di bibirku, kami tidak peduli dengan badan kami yang sudah basah kuyup. Aku melingkarkan tanganku di lehernya, lalu aku mencium ceruk lehernya. “I want you now,” ujar Michael. “I want you too.” Sehabis kami menikmati momen panas di pagi hari, aku dan Michael menikmati sarapan bersama – sama. Setelah itu Michael pergi bekerja, sedangkan aku akan menghabiskan waktuku di rumah untuk menulis. Hari ini terasa berbeda dari sebelumnya, ini hari pertamaku di kota baru sendirian. Aku dengan semangat menulis novelku seraya menikmati secangkir coklat panas. Meja kerjaku menghadap persis ke pantai, sehingga aku tidak mudah bosan saat aku bekerja terlalu lama. Waktu demi waktu aku lewatkan, tidak terasa aku sudah bekerja selama 5 jam lamanya. Pikiranku tiba – tiba kacau lagi, entah apa alasannya. Pikiran yang kacau membuatku ingat dengan ibuku yang sudah lama tidak aku hubungi. Aku memutuskan untuk menghilangkan pikiran kacauku dengan pergi keluar rumah, aku mengendarai mobil yang sudah Michael sediakan untukku. Aku berkeliling kota melihat – lihat penduduk Huntington Beach yang berjalan santai di trotoar. Aku memarkirkan mobil dan berjalan menyusuri pantai, aku duduk di kursi santai dan memesan orange juice serta roti bakar coklat. Cuaca yang hangat menenangkan pikiranku, aku tidak akan bisa setenang ini jika aku masih tinggal di New York. Seorang perempuan berambut hitam dengan memakai pakaian pantai duduk di sampingku, ia tersenyum kepadaku, “Hai,” sapa perempuan itu. “Aku belum pernah ngeliat kamu di sini, baru pindah ya?” tanya perempuan itu. Aku menoleh untuk menatapnya, perempuan itu memiliki badan atletis serta wajah yang manis dengan bulu mata yang lentik. “Iya,” jawabku singkat. “Aku Anny, kamu?” Anny menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Aku menyalami Anny dan membalas senyumannya, “Aku Michelle,” “Kamu asalnya dari kota mana?” “Aku dari New York. Kamu udah lama tinggal di sini?” tanyaku kepada Anny. Anny mengangguk, “iya, aku lahir di sini. Wow, New york adalah kota impianku.” Aku menengguk segelas orange juice di tanganku, “New York adalah kota impianku juga, tapi karena terlalu padat aku nyerah tinggal di sana.” “Haha, serius? Aku pernah sekali ke sana satu bulan lalu, memang sih kadang ada sampah di pinggir jalan,” balas Anny. Anny sangat ramah kepadaku, aku rasa aku bisa berteman dengannya, “iya, New York gak sebagus yang ada di film sih,” kataku. Ketika aku sedang asik mengobrol dengan Anny, Chris menghampiriku dengan santai, “Michelle,” sapa Michael. Aku menoleh ke sumber suara, “Chris?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN