Aku dan Tanaka keluar kamar, berpapasan dengan Kei dan Mei yang terlihat mengantuk. Bibir keduanya kompak mengerucut dan aku masih dengan jelas mendengar Mei bergumam, “Ibu sama Bapak aneh. Tadi malam ngajakin nginap di rumah Bang Diyo, sekarang dibangunin pagi-pagi terus disuruh pulang ke rumah. Kenapa, sih?” “Udah, kalau masih ngantuk lanjut tidur aja ke kamar. Ini masih pukul setengah lima,” sahut Kei. Kompak aku dan Tanaka saling melirik. Tanaka mengedipkan sebelah mata sambil cengar-cengir. Begitu Kei dan Mei nggak ada lagi, Tanaka berbisik, “Sepertinya Bapak dan Ibu memberi waktu untuk kita. Mertua yang pengertian.” “Berisik!” Aku mencubit perut Tanaka. Malu, ya, Tuhan. “Mending mandi sana. Entar keburu rebutan sama yang lain. Aku mau bantuin Ibu nyiapin sarapan dulu.” “Tunggu.”