Aku membuka mata saat merasakan kecupan di kening. Tanaka sudah terlihat segar dan rapi, aku memandanginya dengan setengah mengantuk kemudian menatap jam di nakas. Pukul lima lewat tiga menit. “Aa tinggal, ya. Hari ini jangan kemana-mana.” Kuanggukkan kepala lalu memeluk lengan Tanaka manja. “Harus sepagian ini syutingnya?” “Iya, Sayang.” Tanaka mengelus rambutku. “Sudah ditunggu Mbak Zha sama Bang Irfan di depan.” “Tapi aku nggak bikin sarapan. Aa nggak pa-pa?” “Tidak apa-apa.” Lagi, kecupan mendarat, kali ini di bibir. Aku menerimanya dengan mata terpejam. “Lanjut tidur saja. Aa pergi.” “Hm.” Pipiku diusap, setelah itu terdengar langkah kaki menjauh berikut bunyi pintu kamar dibuka lalu ditutup lagi. Aku bergelung dalam selimut, memeluk guling dengan nyaman dan lanjut terlelap lagi