Van tersenyum lebar, lalu dengan cepat mengambilkan garam dan menyerahkannya pada Orin. “Terima kasih,” ucap Orin, dan untuk sejenak, ia benar-benar melihat Van di hadapannya. Namun, kesadaran segera kembali. “Pak Sora, duduk saja. Tunggu masakan ini matang.” Sora kembali membeku. Ia tak bisa memaksa, jadi hanya duduk di kursi makan sambil menatap intens setiap gerakan Orin di dapur. Beberapa kali, tatapan mereka bertemu. Orin selalu cepat memalingkan muka, merasa salah tingkah dan semakin cemas. ‘Kenapa dia terus menatapku? Sungguh, ini membuatku takut dan… bingung.’ Masakan akhirnya matang. Orin menyajikan tumis brokoli wortel dengan ayam fillet saus tiram dan nasi putih panas di atas meja. “Silakan makan, Pak,” ucapnya formal, sebelum duduk di seberang dengan jarak yang jelas.

