Sandra masih duduk di sofa tunggal, kedua tangannya terlipat di d**a, matanya tidak lepas dari Abby. Ia menunggu. Sabar, tapi dengan kesabaran yang mengancam. "Kenapa diam?" tanyanya, nada suaranya halus tapi tajam seperti silet. "Aku hanya bertanya. Bukan menuduh." Abby menegakkan punggung. Jari-jarinya yang bertaut di pangkuan sedikit mengencang. "Anda menuduh saya." Sandra tersenyum. Bukan senyum ramah. Senyum yang mengatakan aku tahu sesuatu. Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan lambat, penuh percaya diri. "Bukan menuduh, Abby. Hanya bertanya." Ia menjeda, menyipitkan mata. "Apa susahnya kamu tinggal jawab iya atau tidak?" Abby menarik napas. Dadanya naik turun. "Saya tidak berkenan menjawab pertanyaan itu." Sandra mendengus. Senyumnya melebar, tapi matanya

