Udara di ruang tamu kediaman Damian tiba-tiba berubah. Irwan dan Desi yang baru beberapa menit lalu duduk santai di sofa, kini mencondongkan tubuh penuh antusias. Mata mereka berbinar menatap Damian, seperti melihat tambang emas yang baru ditemukan. Abby yang duduk di sebelah Damian, merasakan sesuatu yang tidak nyaman merayap di punggungnya. Ia mengepalkan tangan di pangkuan. "Abby tidak memberi kami kabar kalau sudah menikah." Irwan tersenyum lebar, terlalu lebar. "Kami kan keluarganya. Harusnya jadi saksi waktu nikah." Ia tertawa kecil, mencoba terdengar hangat. "Sudah berapa lama?" "Tiga bulan." Suara Damian datar. Matanya mengamati Irwan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dan soal tidak mengabari ...." Ia menjeda, melirik Abby sekilas. "Abby bilang dia sudah tidak punya siapa-si

