Pagi itu, Irwan melangkah masuk ke firma hukum David Pramudya dengan langkah besar. Jasnya kusut, rambut agak berantakan, tapi sorot matanya penuh percaya diri, malah terlalu percaya diri untuk seseorang yang baru keluar dari tahanan. Beberapa pegawai di meja resepsionis menoleh, menatapnya aneh. Bisik-bisik pelan terdengar, tapi Irwan tidak peduli. "Pak Irwan." Irwan menoleh. David berdiri di atas tangga, satu tangan di pegangan, yang lain memberi kode untuk naik. Wajahnya datar, profesional. Irwan naik dengan semangat. Setiap anak tangga terasa membawanya lebih dekat pada uang seratus juta yang sudah ia bayangkan. Pintu ruangan David terbuka. Irwan masuk, matanya langsung memindai ruangan itu. Mewah. Klasik. Rak buku penuh, meja kayu besar, sofa kulit coklat. Dan di sudut, sebuah kam

