Pagi itu, rumah kecil itu masih diselimuti sunyi. Tidak ada suara panci di dapur, tidak ada langkah kaki tergesa, tidak ada aroma kopi yang biasa menguar. Kamar yang semalam menjadi medan perang kecil itu, kini sudah kembali rapi. Lantai bersih, lemari tertutup, ranjang dirapikan. Hanya ada sepasang tubuh yang masih berbaring di balik selimut di ruang tamu, saling berpelukan dalam lelap yang tertinggal. Pintu kamar yang tidak tertutup rapat, perlahan bergerak dan terbuka lebar. Kaki telanjang melangkah di atas keramik dingin. Suri menyusuri lorong kecil, matanya masih sayu, boneka kelinci diseret di lantai. Rumah masih temaram, tapi dari celah-celah tirai, cahaya pagi sudah mulai menyelinap. Ia membuka pintu belakang. Udara pagi yang dingin menyambutnya, membuatnya menggigil sebentar. Ia

