Malam itu, meja makan terasa terlalu luas untuk hanya dua orang. Lampu gantung di atas memancarkan cahaya hangat, tapi tidak cukup untuk mencairkan kebekuan yang menyelimuti ruangan. Damian duduk di ujung meja, Aidan di sisi kanannya. Dua kursi kosong, satu tempat Abby biasanya duduk di dekat Suri, satu lagi kursi Audrey, terasa seperti lubang menganga. Aidan menyendok nasi dengan campuran daging cincang dengan pelan, matanya sesekali melirik ayahnya. Damian hanya memandangi piring, nasi di atasnya hampir tidak tersentuh. Tidak ada suara. Hanya denting sendok dan garpu yang terdengar terlalu nyaring di tengah keheningan. Aidan meletakkan sendok. "Aku selesai, Dad." Damian mengangguk. "Naiklah." Aidan bangkit, mendorong kursi pelan. Baru beberapa langkah menuju tangga, suara Damian men

