Rigel panik kala mendengar jeritan Joanna, bersamaan dengan suara tembakan peluru yang bergema dari arah hutan. Spekulasi negatif betebaran di dalam otaknya, membuat kekhawatiran Rigel terhadap Joanna kian menggebu-gebu. Tak peduli seberapa besar rasa sakit pada kakinya yang terluka, Rigel memaksakan diri untuk beranjak dari duduknya. Dengan langkah tertatih, Rigel menyeret kakinya, berusaha melangkah lebih cepat untuk memasuki semak-semak yang tadi dilalui Joanna saat mengejar kucing. "Joanna!" Rigel berteriak memanggil nama Joanna, suaranya bergema di dalam hutan yang dipenuhi pepohonan pinus. Ya, kucing tadi memang berlari ke arah hutan pinus. "Joanna! Are you okay?" Rigel terus berteriak, meski usahanya tak membuahkan hasil. Napas Rigel terengah-engah, tangannya bertumpu pada bata

