bc

Anak Rahasia Sang Dosen Pewaris

book_age18+
29
IKUTI
1K
BACA
family
HE
escape while being pregnant
teacherxstudent
love after marriage
age gap
fated
forced
second chance
friends to lovers
arranged marriage
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
brilliant
loser
campus
city
childhood crush
love at the first sight
affair
addiction
professor
like
intro-logo
Uraian

Blurb.

​“Jangan pernah bermimpi untuk lulus dari kampus ini, Kai. Karena setiap inci tubuhmu adalah nilai yang harus kamu bayar padaku ... secara pribadi.”

​Bagi Kairi Takemi, Lewis Jaydenson Takizaki adalah mimpi buruk yang sangat tampan. Dosen pembimbingnya itu tidak hanya mengincar skripsinya, tapi juga mengincar kebebasannya. Di balik pintu ruang bimbingan yang terkunci rapat, Kairi terjebak dalam obsesi liar seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.

​Namun, saat Kairi mulai menyerahkan hatinya, sebuah badai besar menghantam. Tanpa kata, Kairi menghilang dari peradaban tepat setelah Lewis dipaksa menikahi wanita lain.

​Lima tahun berlalu ...

​Lewis hidup sebagai monster tanpa jiwa, terjebak dalam pernikahan "neraka" yang hanya berisi pengabaian dan kebencian. Hingga sebuah rahasia medis yang mematikan membongkar fakta bahwa ia telah ditipu selama bertahun-tahun.

​Di saat yang sama, sebuah keajaiban ditemukan di sebuah kedai tua di sudut kecil Jepang. Seorang bocah laki-laki berwajah "fotokopi" Lewis yang cerdas bernama Kenzo.

​Siapa sebenarnya ayah dari anak itu? Mengapa Zakiyah, sang ibu yang dulu sangat membenci Kairi, kini harus bersujud di atas salju Kyoto sambil meratapi dosanya?

​Dan ketika Lewis akhirnya menemukan kembali "wanita-nya", apakah ia akan menjemputnya dengan cinta, ataukah ia akan mengurung Kairi sekali lagi dalam sangkar emas yang jauh lebih menyesakkan?

​"Lima tahun kamu menyembunyikan darah dagingku, Kai. Sekarang, kamu harus membayar setiap detik kerinduanku dengan seluruh hidupmu."

chap-preview
Pratinjau gratis
Sang Penyelamat atau Pemangsa?
Hari ini shift kerja paruh waktunya berakhir lebih lambat dari biasanya karena ia harus merapikan rak buku di bagian sastra klasik yang berantakan. Kairi Takemi menghela napas panjang, uap tipis keluar dari bibirnya yang mulai pucat. Ia melirik jam tangan digital murah di pergelangan tangannya. Pukul enam lewat lima belas menit. Harusnya bus terakhir lewat lima menit yang lalu, tapi dengan kondisi banjir yang mulai menggenangi jalanan utama, jadwal transportasi publik menjadi kacau balau. ​"Ayo, Kai. Kamu tidak bisa menginap di sini," gumamnya menyemangati diri sendiri. Di tengah kemelut cuaca itu, Kairi berdiri terpaku di ambang pintu perpustakaan kampus yang sudah mulai sepi. Tangannya mendekap erat tas ransel yang sudah mulai kusam, berisi tumpukan buku referensi dan sebuah laptop tua yang menjadi harta paling berharganya. ​ ​Dengan langkah ragu, ia mulai berlari menembus hujan menuju halte yang berjarak sekitar dua ratus meter. Setiap tetesan air hujan terasa seperti jarum dingin yang menusuk kulitnya. Sepatu ketsnya yang sudah tipis tak mampu menghalau genangan air, membuat kaus kakinya basah dalam sekejap. Sesampainya di halte, Kairi langsung bernaung di bawah atap seng yang berderit keras dihantam angin. ​Suasana halte itu mencekam. Lampu jalan di dekatnya berkedip-kedip tidak stabil, sesekali mati total dan meninggalkan Kairi dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh kilatan petir di kejauhan. Tak ada orang lain di sana. Suara deru air yang menghantam jalanan menenggelamkan segala bunyi kehidupan kota. Kairi mulai menggigil hebat. Kemeja putih tipis yang ia kenakan kini sudah lembap sepenuhnya, menempel pada kulitnya yang kedinginan, memberikan sensasi gigil yang merambat hingga ke sumsum tulang. ​Kairi memeluk dirinya sendiri, mencoba mencari sedikit kehangatan dari tubuh mungilnya. Namun, suhu udara terus menurun seiring dengan badai yang semakin mengganas. Dalam benaknya, Kairi hanya ingin segera sampai di apartemen sempitnya, menyeduh mi instan, dan bergelung di bawah selimut tipisnya yang usang. Ia terus menatap ke arah ujung jalan, berharap lampu kuning bus trans muncul dari balik kabut hujan, namun yang ada hanyalah kegelapan dan tirai air yang tak kunjung reda. ​Ketakutan mulai merayap di hati Kairi. Sendirian di halte yang gelap dalam kondisi basah kuyup bukanlah situasi yang aman bagi seorang gadis muda. Setiap kali ada bayangan pohon yang bergoyang di balik hujan, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa seolah ada ribuan mata yang menatapnya dari balik kegelapan badai ini. Kairi mencoba merogoh ponselnya, berniat memesan taksi daring, namun layar ponselnya tetap hitam. Baterainya mati tepat di saat ia membutuhkannya. ​"Sial," umpatnya lirih dengan suara yang bergetar karena kedinginan. ​Setiap menit terasa seperti satu jam. Kairi mencoba berdiri untuk melakukan gerakan kecil agar tubuhnya tidak mati rasa, namun angin kencang justru membuat air hujan menyiprat masuk ke dalam area halte. Bajunya kini benar-benar sudah seperti kulit kedua, transparan dan menyesakkan. Ia menyilangkan tangan di depan d**a, menyadari betapa rentannya dia saat ini. Suasana semakin gelap, lampu jalanan benar-benar padam sekarang. Kairi hanya ditemani suara guntur yang menggelegar, yang seolah-olah sedang menertawakan nasib malangnya. ​Ia menutup matanya, berdoa agar ada keajaiban yang membawanya pulang. Ia tidak tahu bahwa takdir sedang mengirimkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar bus malam. Di ujung jalan, cahaya lampu xenon yang sangat tajam mulai membelah kabut hujan, bergerak mendekat dengan suara mesin yang sangat halus, sangat kontras dengan keributan badai di sekitarnya. Namun, bagi Kairi, cahaya itu saat ini hanyalah sebuah harapan kosong yang lewat, hingga mobil itu benar-benar melambat dan berhenti tepat di depannya. *** Cahaya lampu xenon yang menyilaukan itu seolah membelah tirai hujan yang pekat, menciptakan koridor cahaya di atas aspal yang tergenang. Kairi Takemi terpaksa menyipitkan mata, mengangkat telapak tangannya yang gemetar untuk menghalau silau yang menyakitkan indra penglihatannya. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena kedinginan, melainkan karena rasa waspada yang mendadak bangkit. Di tengah malam yang buta dan badai yang mengamuk, sebuah kendaraan semewah itu berhenti tepat di depannya adalah sebuah anomali yang mencurigakan. Mobil itu adalah Rolls Royce Phantom hitam pekat. Bodinya yang panjang dan kokoh tampak seperti predator logam yang sedang mengintai mangsa di bawah temaram lampu jalan yang sisa-sisa. Suara mesinnya begitu halus, hampir tenggelam oleh deru angin, namun getarannya terasa hingga ke telapak kaki Kairi yang tak beralas sepatu dengan sempurna. Kairi mundur satu langkah, punggungnya menempel pada tiang halte yang dingin dan berkarat. Pikirannya berkecamuk antara harapan akan bantuan dan ketakutan akan bahaya yang mungkin mengintai di balik kaca film yang gelap gulita itu. Perlahan, kaca jendela di sisi pengemudi turun. Gerakannya sangat statis dan sunyi, memperlihatkan interior mobil yang diterangi oleh cahaya dasbor berwarna amber yang mewah. Dan di sana, di balik kemudi, duduk seorang pria yang wajahnya telah menjadi momok sekaligus kekaguman di seluruh penjuru universitas. Lewis Jaydenson Takizaki. Pria itu tidak menoleh sepenuhnya, ia hanya melirik Kairi dari sudut matanya yang tajam dan dingin. Wajahnya tampak seperti pahatan marmer yang sempurna namun beku; rahangnya yang kokoh tercukur bersih, hidung mancung yang tegas, dan rambut hitam yang disisir rapi ke belakang tanpa satu helai pun yang berantakan, meski dunia di luar mobilnya sedang luluh lantak oleh badai. Kairi menahan napas. Kehadiran Lewis di tempat ini, di jam seperti ini, terasa sangat tidak nyata. "Masuk," ucap Lewis. Suaranya rendah, bariton yang berat, dan memiliki getaran otoritas yang sanggup membungkam gemuruh guntur di langit. Itu bukan sebuah tawaran, bukan pula sebuah ajakan santun. Itu adalah perintah mutlak. Kairi mematung. Bibirnya yang pucat sedikit terbuka, mencoba merangkai kata-kata di tengah gigil yang tak kunjung usai. "Pa-Pak Lewis? Maaf, saya ... saya sedang menunggu bus." Lewis akhirnya memutar kepalanya perlahan, menatap Kairi secara langsung. Matanya yang gelap seolah mampu menembus pakaian basah Kairi dan membaca setiap ketakutan yang tersimpan di balik dadanya. Tatapan itu sangat intens, sebuah jenis tatapan yang membuat Kairi merasa telanjang dan kecil. "Aku tidak suka mengulang kalimatku, Kairi Takemi," ujar Lewis dengan nada yang lebih tajam. "Bus terakhir sudah dialihkan karena banjir di jalur utama. Jika kamu berniat bermalam di sini dan membiarkan paru-parumu membeku, silakan. Tapi jika kamu masih punya sedikit akal sehat, masuk ke mobil sekarang." Kairi melirik ke arah jalanan yang kosong dan gelap di belakang mobil Lewis. Benar, tidak ada tanda-tanda transportasi publik. Suasana di sekitar halte semakin mencekam; air mulai naik menutupi mata kaki, dan angin kencang mulai menggoyang atap seng halte dengan suara yang memekakkan telinga. Pilihan Kairi sangat terbatas: tetap di sini dan menantang maut, atau masuk ke dalam mobil pria yang dikenal tak memiliki belas kasihan ini. Dengan langkah yang sangat ragu dan tubuh yang terus bergetar hebat, Kairi mendekati pintu mobil. Ia baru saja hendak meraih gagang pintu belakang ketika suara Lewis kembali menginterupsi, kali ini dengan nada yang lebih dingin. "Di depan. Aku bukan supirmu." Wajah Kairi yang semula pucat seketika tersembur rona merah yang panas. Rasa canggung yang luar biasa menyergapnya. Ia segera berpindah ke pintu penumpang depan dan membukanya dengan tangan yang gemetar. Begitu pintu terbuka, aroma kabin mobil yang sangat kontras dengan bau hujan pun menyeruak. Wangi kulit jok premium, aroma maskulin yang mahal, dan suhu hangat yang berasal dari pemanas mobil seolah menyambutnya. Kairi masuk ke dalam dan menutup pintu dengan hati-hati, takut merusak kendaraan seharga miliaran rupiah itu. Begitu pintu tertutup dengan suara thud yang solid, segala kebisingan badai di luar sana seketika lenyap. Kabin itu begitu kedap suara, menciptakan keheningan yang justru terasa lebih menekan daripada suara guntur. Gadis mungil itu duduk dengan posisi yang sangat kaku, hampir tidak berani menyandarkan punggungnya pada kursi kulit yang lembut. Ia menyadari betapa menyedihkannya penampilannya saat ini. Rambut hitamnya lepek menempel di pipi, tasnya yang basah ia pangku erat-erat di paha, dan yang paling parah, kemeja putihnya yang basah kuyup kini menempel ketat pada kulitnya, memperlihatkan siluet pakaian dalamnya dengan sangat jelas di bawah cahaya lampu interior yang otomatis menyala. Lewis tidak segera menjalankan mobilnya. Ia justru diam membisu, matanya menatap lurus ke depan namun Kairi bisa merasakan bahwa perhatian pria itu sepenuhnya tertuju padanya. Atmosfer di dalam mobil itu terasa sangat berat. Kairi menunduk dalam, mencoba menutupi dadanya dengan tangan yang bersedekap, merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan tak kasat mata yang dilemparkan oleh sang dosen. "Pakai ini," Lewis tiba-tiba melempar sebuah jas wol berwarna abu-abu gelap ke arah pangkuan Kairi. Kairi tersentak. "Ti-tidak perlu, Pak. Saya akan mengotori jas Bapak." "Pakai atau aku sendiri yang akan memakaikannya padamu," ancam Lewis tanpa nada bercanda. Tanpa berani membantah lagi, Kairi menyampirkan jas besar itu ke bahunya. Aroma Lewis seketika mengepung indranya—sebuah aroma yang mendominasi, menenangkan sekaligus berbahaya. Jas itu sangat besar di tubuhnya yang kecil, namun setidaknya memberikan perlindungan dari udara AC yang mulai terasa menusuk kulit basahnya. Lewis kemudian menginjak pedal gas, dan Rolls Royce itu meluncur dengan keanggunan yang mematikan, membelah genangan air di jalanan Jakarta. Di dalam kesunyian yang mencekam itu, Kairi bertanya-tanya di dalam hati; apakah pria di sampingnya ini adalah malaikat penolong yang dikirim tuhan, ataukah ia justru baru saja masuk ke dalam perangkap seekor pemangsa yang jauh lebih berbahaya daripada badai di luar sana? Setiap kali Lewis menggeser tuas persneling, lengannya yang berotot di balik kemeja formal yang pas di badan itu tampak begitu kuat, membuat Kairi semakin merasa kecil di bawah bayang-bayang kekuasaan pria Takizaki tersebut. Perjalanan itu terasa sangat panjang, seolah waktu melambat di dalam ruang kedap suara tersebut. Kairi hanya bisa menatap butiran air yang meluncur di kaca jendela, sementara di sampingnya, Lewis Jaydenson Takizaki mengemudi dengan ekspresi yang tak terbaca, seolah-olah menjemput seorang mahasiswi di tengah badai adalah hal paling biasa yang ia lakukan—padahal Kairi tahu, tidak ada yang biasa dari setiap gerak-gerik pria ini. Di dalam hatinya, sebuah firasat buruk mulai berbisik; bahwa setelah malam ini, hidupnya yang tenang tidak akan pernah sama lagi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.4K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.4K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.6K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.4K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
7.9K
bc

Unchosen Wife

read
4.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook