Atmosfer yang Memanas.

1014 Kata
​Keheningan di dalam kabin mobil mewah itu terasa begitu padat, seolah-olah udara di dalamnya telah berubah menjadi materi fisik yang menghimpit paru-paru Kairi. Begitu pintu tertutup rapat, deru badai yang mengamuk di luar sana lenyap sepenuhnya, menyisakan kesunyian yang mencekam sekaligus intim. Hanya ada suara putaran mesin yang nyaris tak terdengar dan hembusan halus dari sistem pendingin udara yang mulai bekerja memberikan kehangatan. Kairi merapatkan jas wol milik Lewis yang tersampir di bahunya, namun rasa dingin itu seolah bukan berasal dari kulitnya yang basah, melainkan dari aura pria yang duduk tepat di sampingnya. ​Aroma di dalam mobil itu benar-benar menguasai indra penciuman Kairi. Itu adalah aroma maskulin yang sangat dominan—campuran antara kayu cendana yang mahal, aroma kulit jok yang baru, dan sisa-sisa parfum oud yang tajam namun elegan. Aroma itu seolah menjadi identitas tak kasat mata dari Lewis Jaydenson Takizaki; kuat, berkelas, dan menyesakkan. Bagi Kairi, aroma itu terasa seperti jerat yang perlahan menariknya masuk ke dalam teritori pribadi sang dosen, sebuah tempat di mana aturan universitas tidak lagi berlaku. ​Lampu dasbor yang berpendar kebiruan memberikan pencahayaan remang-remang, menciptakan bayangan-bayangan tajam pada profil wajah Lewis. Kairi mencoba mengatur napasnya yang pendek-pendek, namun ia segera menyadari sebuah masalah besar. Kemeja putih tipis yang ia kenakan kini sudah benar-benar basah kuyup hingga ke serat-seratnya. Akibat suhu AC yang menerpa tubuh lembap, kain itu seolah bertindak sebagai kulit kedua yang transparan. Kemeja itu menempel ketat, mencetak dengan sangat jelas lekuk payudaranya yang mungil namun penuh, serta warna kulitnya yang memucat karena kedinginan. ​Kairi merasakan wajahnya memanas hingga ke telinga. Ia berusaha menarik ujung jas wol Lewis untuk menutupi bagian depannya, namun jas itu terus merosot karena tubuhnya yang masih gemetar hebat. Ia merasa sangat terekspos, sangat rentan di bawah tatapan pria yang dikenal tidak memiliki toleransi terhadap kelemahan itu. Kairi menundukkan kepala sedalam mungkin, membiarkan rambut hitamnya yang lepek menutupi sebagian wajahnya, berharap kegelapan malam bisa menyembunyikan rasa malunya. ​Namun, Lewis tidak membiarkan keheningan itu menjadi tenang. Meskipun matanya terlihat fokus pada jalanan yang diterangi lampu xenon, perhatiannya sama sekali tidak berada pada aspal yang tergenang air. Dari sudut matanya, Lewis sangat menyadari setiap detail kecil dari gadis di sampingnya. Ia melihat bagaimana d**a Kairi naik turun dengan cepat karena ketakutan, ia melihat butiran air hujan yang meluncur dari leher jenjang Kairi dan menghilang di balik kerah kemejanya yang transparan. ​Lewis melirik secara langsung ke arah Kairi saat mobil melambat di sebuah persimpangan yang sepi. Tatapannya tidak lagi sekadar tatapan seorang dosen kepada mahasiswinya. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap dan purba yang berkilat di mata elang itu. Tatapan Lewis perlahan turun, menyapu tubuh mungil Kairi yang terlihat sangat sintal di balik pakaian basahnya. Ia memperhatikan bagaimana p****g Kairi mencetak jelas di balik kain tipis itu karena kedinginan—atau mungkin karena reaksi lain yang tidak disadari gadis itu sendiri. ​Rahang Lewis mengeras. Jemarinya yang panjang mencengkeram kemudi kulit itu lebih erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia merasakan gelombang panas yang tidak masuk akal mulai menjalar di bagian bawah perutnya. Selama bertahun-tahun, Lewis telah melatih dirinya untuk menjadi pria yang paling logis dan terkendali, namun malam ini, pemandangan gadis polos yang basah kuyup di sampingnya ini seolah sedang menantang seluruh kendali dirinya. ​"Kamu terlihat sangat berantakan, Kairi," suara Lewis memecah kesunyian. Suaranya rendah, lebih berat dari biasanya, dan memiliki nada serak yang membuat bulu kuduk Kairi meremang. ​Kairi tersentak kecil, tangannya refleks semakin erat mendekap dadanya di balik jas. "Ma-maaf, Pak. Saya tahu saya mengotori mobil Bapak. Saya akan mengganti biaya pembersihannya nanti ...." ​Lewis mendengus sinis, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya. "Kamu pikir aku peduli dengan jok mobil ini? Aku sedang bicara tentang otakmu. Berdiri sendirian di halte gelap saat badai seperti itu ... apa kamu memang tidak punya insting untuk melindungi dirimu sendiri?" ​Kairi tidak berani menyahut. Ia merasa ada kemarahan yang tertahan dalam nada bicara Lewis—seolah pria itu merasa terganggu secara personal melihat Kairi dalam kondisi bahaya. Di saat yang sama, ada ketegangan seksual yang begitu kental hingga ia merasa bisa menyentuhnya di udara. Lewis kembali menjalankan mobilnya, namun ia melakukannya dengan kecepatan yang lebih rendah dari seharusnya, seolah-olah ia sedang sengaja memperlama waktu mereka di dalam ruang sempit itu. ​Pantulan Kairi di kaca jendela samping yang gelap memperlihatkan betapa kontrasnya mereka berdua. Lewis yang tampak begitu dominan dan rapi, sementara Kairi tampak seperti anak kucing yang malang dan tak berdaya. Lewis terus melirik Kairi setiap kali ia menggeser tuas transmisi, dan setiap lirikan itu terasa seperti sentuhan fisik bagi Kairi. ​Atmosfer di dalam kabin itu semakin memanas, membuat napas Kairi semakin berat. Ia merasa oksigen di dalam mobil itu seolah-olah hanya milik Lewis, dan ia harus memohon untuk bisa menghirupnya. Tanpa Kairi sadari, posisi duduknya yang gelisah justru membuat paha mulusnya yang terekspos sedikit karena rok yang tersingkap semakin menarik perhatian mata Lewis. Lewis menatap paha itu sesaat, matanya menggelap, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lewis Jaydenson Takizaki merasa bahwa keputusannya untuk memberikan tumpangan malam ini mungkin adalah awal dari sebuah obsesi yang tidak akan bisa ia kendalikan. ​Kairi terus menunduk, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut Lewis bisa mendengarnya. Ia merasa seperti sedang berada di dalam sebuah gua bersama pemangsa yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menerjang. Dan yang paling menakutkan bagi Kairi bukanlah kenyataan bahwa ia sedang bersama Lewis, melainkan kenyataan bahwa di balik ketakutannya, ada percikan aneh yang mulai menyulut sesuatu di dalam dirinya—sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia rasakan terhadap dosennya sendiri. ​Hujan di luar sana masih menghantam atap mobil dengan ganas, namun di dalam Rolls Royce itu, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah badai keinginan yang diam, yang hanya menunggu satu letupan kecil untuk meledak dan menghancurkan segala batasan etika yang ada di antara mereka. Lewis kembali melirik ke arah d**a Kairi, dan kali ini ia tidak menyembunyikan tatapannya, membiarkan Kairi tahu bahwa malam ini, mahasiswi polos itu adalah fokus tunggal dari seluruh dunianya. Kairi hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, berdoa agar perjalanan ini segera berakhir sebelum ia kehilangan kewarasannya sepenuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN