Deru mesin Rolls Royce Phantom itu nyaris tidak terdengar, hanya berupa dengung halus yang tenggelam di balik hantaman butiran air hujan pada kaca jendela yang tebal. Di dalam kabin yang kedap suara itu, oksigen terasa semakin menipis bagi Kairi. Setiap kali ia mencoba menarik napas, aroma maskulin Lewis yang kaya akan nuansa kayu cendana dan kulit mewah seolah menjerat paru-parunya, membuatnya merasa terperangkap dalam sebuah dimensi yang hanya dikuasai oleh pria di sampingnya. Kairi merapatkan jas wol abu-abu milik Lewis yang masih tersampir di bahunya, mencoba mencari perlindungan dari rasa dingin yang kini berganti menjadi rasa panas yang menjalar akibat rasa malu.
Kairi terus menunduk, menatap jari-jarinya yang memucat dan saling bertautan di atas tas ranselnya yang lembap. Ia sangat sadar bahwa kemeja putihnya yang basah kuyup kini bertindak layaknya kulit kedua, menempel ketat dan mengekspos setiap inci lekuk tubuhnya yang selama ini ia sembunyikan di balik pakaian-pakaian longgar. Namun, yang lebih mengusiknya adalah keheningan Lewis. Pria itu mengemudi dengan satu tangan pada kemudi, sementara tangan lainnya bertumpu pada konsol tengah dengan jari-jari panjang yang mengetuk ritme lambat—sebuah tanda bahwa pria itu sedang memikirkan sesuatu yang berat, dan Kairi takut objek pemikiran itu adalah dirinya.
"Kairi Takemi."
Suara Lewis yang rendah dan bariton memecah keheningan dengan vibrasi yang begitu kuat hingga Kairi bisa merasakannya di permukaan kulitnya. Ia tersentak kecil, kepalanya terangkat sedikit namun ia masih tidak berani menatap mata pria itu secara langsung. Mendengar nama lengkapnya diucapkan oleh bibir Lewis terasa sangat asing, sekaligus memberikan sensasi yang menggetarkan. Lewis dikenal sebagai dosen yang bahkan seringkali tidak peduli dengan kehadiran mahasiswanya jika mereka tidak memberikan kontribusi luar biasa dalam diskusi kelas.
"I-iya, Pak?" jawab Kairi dengan suara yang hampir menyerupai bisikan. Suaranya pecah karena kedinginan yang sisa, namun ada nada kegugupan yang tak bisa ia sembunyikan.
Lewis melirik tajam ke arah Kairi melalui sudut matanya. Di bawah remang lampu jalanan yang sesekali melewati mereka, profil wajah Lewis tampak seperti pahatan batu yang sempurna namun kejam. "Sembilan persen," ucap Lewis pendek.
Kairi mengerutkan keningnya, kebingungan sesaat menyelimuti benaknya. "Maaf, Pak? Sembilan persen?"
"Data margin keuntungan yang kamu masukkan pada bab kedua draf skripsimu saat sesi asistensi tadi siang," Lewis menjelaskan dengan nada datar, namun ada ketajaman yang menuntut di balik kalimatnya. "Kamu menuliskan angka sembilan persen sebagai proyeksi laba bersih. Seharusnya, setelah dipotong biaya operasional tetap dan variabel sesuai dengan studi kasus yang kau ambil, angka yang keluar adalah sepuluh koma dua persen. Kamu kehilangan satu koma dua persen karena kecerobohanmu dalam menghitung depresiasi aset."
Kairi terpaku di kursinya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ia sangat terkejut, bukan karena ia menyadari kesalahannya, melainkan karena Lewis mengingat detail sekecil itu. Tadi siang, saat ia masuk ke ruang bimbingan Lewis yang luas dan dingin, pria itu bahkan tidak menatap wajahnya. Lewis hanya membolak-balik kertas drafnya dengan jari-jari yang seolah ingin segera menyelesaikan tugas itu, memberikan coretan kasar dengan pena hitam, lalu menyuruhnya keluar dengan nada dingin tanpa kata-kata semangat sama sekali.
Di mata Kairi, dan mungkin di mata seluruh penghuni kampus, Lewis Jaydenson Takizaki adalah sosok yang cuek, apatis terhadap urusan orang lain, dan hanya peduli pada efisiensi serta hasil akhir. Ia adalah pria yang menganggap waktu lebih berharga daripada emas, jadi fakta bahwa ia menyimpan detail angka dari draf skripsi mahasiswi biasa di dalam memori otaknya adalah sesuatu yang hampir mustahil.
"Pak Lewis ... Bapak ingat sampai detail angka itu?" tanya Kairi dengan nada tidak percaya. Ia akhirnya memberanikan diri menoleh sedikit, menatap garis rahang Lewis yang mengeras.
Lewis memutar kemudi dengan gerakan yang elegan namun bertenaga saat mereka berbelok di persimpangan yang digenangi air. "Aku tidak pernah lupa pada hal-hal yang menarik perhatianku, Kairi. Meskipun hal itu hanya berupa kesalahan kecil dari mahasiswi yang terlihat seolah ingin menangis sepanjang sesi asistensi berlangsung."
Wajah Kairi kembali memanas. Kalimat Lewis tidak terdengar seperti pujian, melainkan sindiran yang sangat personal. Ia merasa Lewis seolah sedang menelanjangi ketidakmampuannya di hadapannya sendiri. "Maafkan saya, Pak. Saya akan segera memperbaikinya malam ini. Saya pikir Bapak tidak memperhatikan hal-hal kecil seperti itu."
"Kamu pikir aku hanya melihat tumpukan kertas itu sebagai beban kerja tambahan?" Lewis bertanya balik, kali ini suaranya mengandung nada yang lebih dalam, seolah sedang menyampaikan pesan tersirat. Mobil itu melambat saat mereka terjebak dalam arus air yang cukup tinggi. Lewis menolehkan kepalanya sepenuhnya ke arah Kairi, membiarkan mata elangnya mengunci pandangan Kairi yang gemetar.
"Aku memperhatikan segalanya, Kairi. Cara kamu menggenggam pena dengan tangan yang sedikit berkeringat, bagaimana kamu menggigit bibir bawahmu setiap kali aku memberikan coretan pada drafmu, hingga caramu menghindari tatapanku seolah-olah aku akan menelanimu hidup-hidup."
Napas Kairi tertahan di tenggorokan. Ia merasa oksigen di dalam kabin mobil itu seolah tersedot habis oleh keberadaan Lewis. Penjelasan pria itu bukan lagi sekadar urusan akademis; itu adalah sebuah pengakuan bahwa Lewis telah mengobservasi dirinya lebih dari yang seharusnya dilakukan oleh seorang dosen pembimbing. Ada intensitas yang sangat berbahaya di balik kata-kata itu.
"Bapak ... Bapak memperhatikan saya?" bisik Kairi, suaranya parau.
Lewis tidak segera menjawab. Ia kembali menatap ke depan, namun tangannya yang bertumpu pada tuas transmisi tampak bergerak gelisah, mencengkeram kulit jok dengan kekuatan yang lebih besar. "Aku tidak bisa berhenti melakukannya. Kamu adalah distraksi yang mengganggu dalam daftar tugasku, Kairi Takemi. Dan aku tidak suka pada hal-hal yang tidak bisa kukendalikan."
Kairi merasa tubuhnya semakin kaku. Ia tidak tahu harus merespons apa. Apakah Lewis sedang menegurnya? Atau apakah ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap? Kesan dingin yang selama ini terpancar dari Lewis seolah perlahan retak, memperlihatkan gairah obsesif yang mulai merembes keluar. Lewis yang biasanya tenang dan berjarak, kini terasa seperti pemangsa yang sedang menjelaskan pada mangsanya mengapa ia tidak bisa melepaskan pandangannya.
"Saya hanya mahasiswi biasa, Pak. Saya tidak bermaksud untuk mengganggu atau menjadi distraksi bagi Bapak," Kairi berusaha membela diri, meskipun suaranya terdengar sangat lemah di telinga pria dominan di sampingnya.
Lewis mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar antara ejekan dan kekaguman. "Itu masalahnya. Kamu bertingkah seolah kamu tidak menyadari betapa kacaunya aura yang kamu bawa ke ruanganku. Dengan wajah polosmu itu, dan cara kamu menatapku dengan mata yang seolah meminta belas kasihan ... kamu benar-benar tidak tahu apa yang kamu lakukan pada konsentrasiku, bukan?"
Kairi semakin merapatkan jas Lewis ke tubuhnya. Kemejanya yang basah kini terasa semakin menyesakkan, seolah setiap kata-kata Lewis membuat kain itu menempel lebih erat pada kulitnya. Atmosfer di dalam mobil itu kian memanas, menenggelamkan rasa dingin dari badai di luar sana. Kairi menyadari bahwa Lewis bukan sekadar mengingat detail skripsinya, tapi pria itu telah menyimpan citra dirinya dalam ingatannya dengan cara yang tidak sehat. Lewis yang perfeksionis ternyata memiliki celah, dan celah itu bernama Kairi.
Di tengah hujan yang terus mengguyur, Kairi menyadari satu hal yang menakutkan: ingatan sang dosen bukan hanya tentang angka atau data margin keuntungan, melainkan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. Dan bagi seorang pria seperti Lewis Jaydenson Takizaki, ingatan adalah langkah awal menuju kepemilikan. Lewis kembali melirik ke arah d**a Kairi yang tercetak jelas di balik kemeja transparan itu, dan kali ini, Kairi tidak sanggup lagi menghindari tatapan yang seolah ingin mengklaim seluruh jiwa dan raganya tersebut.
Lewis kembali menambah kecepatan mobilnya begitu jalanan mulai sedikit surut. Ia tidak lagi bicara, namun suasana di antara mereka telah berubah selamanya. Kairi merasa bahwa mulai malam ini, ia bukan lagi sekadar angka di buku nilai Lewis, melainkan obsesi yang telah lama terpendam dan kini siap untuk meledak.
Lampu-lampu kota yang buram karena hujan menyapu wajah Kairi, memperlihatkan binar ketakutan dan rasa ingin tahu yang besar. Ia ingin bertanya lebih jauh, namun ia takut akan jawaban yang mungkin diberikan oleh Lewis. Sementara itu, Lewis terus mengemudi dengan ekspresi yang kembali dingin, namun api di dalam matanya tidak pernah benar-benar padam, menandakan bahwa ingatan ini hanyalah permulaan dari permainan penaklukan yang baru saja ia mulai.