Sudah lebih dari lima belas menit. Luna dan Windy mulai gelisah sebab dua pemuda itu tak muncul juga. Tak mengira jika jeep hitam yang lewat di depan mereka itu adalah para penjahat yang menculik keduanya. “Ini pada ke mana, sih?” keluh Luna. “Telepon, Lun! Perasaanku, kok, nggak enak.” Nihil. Beberapa kali Luna menghubungi Arvin, tak ada jawaban. Pun dengan ponsel Reyhan. Mereka bergegas lari ke basement. Tak menemukan keduanya di sana, hanya mobil saja yang terparkir. “Lun, ini mereka di mana? Aku takut ada apa-apa.” “Jangan bikin takut, Kak! Aku telepon Om Pram aja, deh. Ayo kita ke ruang keamanan aja. Tanya sama satpam.” “Ayo!” Kedua gadis itu tak ingin membuang waktu barang sedetik. Mereka mendatangi pos penjagaan dan bertanya perihal Reyhan dan Arvin yang tak ketahuan jejakny