Dua hari berlalu sejak tragedi penculikan itu. Luna berjaga di samping Arvin yang masih tertidur dengan infus di pergelangan tangannya. Kemarin Arvin sudah sadar, tapi mengurangi aktifitas bicara agar istirahat lebih banyak. Dia yang begitu manja dan meminta Luna berbaring tepat di sisinya. Setelah penanganan rumah sakit, Papa Pramana membawa Arvin untuk dirawat di rumah saja. Tentu dengan penanganan medis sempurna. “Cepat sembuh, Kak,” bisik Luna tepat di telinga Arvin. Sudah setengah sepuluh dan Arvin masih belum bangun. Luna hanya menyamankan diri dan semakin beringsut di bahunya. “Kak Rey benar. Kakak itu devil favoritku. Jangan lemah gini, ya! Harus kuat. Bantai semuanya. Nanti aku bantu Kakak buat banting Kak Rey, ya!” Luna menguatkan diri, meyakinkan Arvin-nya akan membaik sepe