Windy tersenyum di kursinya sambil membuka galeri ponsel, menyembunyikan benda itu di balik buku. Foto manis kebersamaan mereka beberapa terakhir ini mengundang degup jantungnya. Tak pernah dia merasa sekasmaran ini. Beda dari khayalannya, saat menjadi kekasih, Reyhan justru lebih manis dari sebelumnya. "Semoga kamu cepat sembuh, Rey. Dan kita ... akan mulai lagi hari-hari kita." Windy melirik ke samping, mendapati Chandra yang sejak tadi menatapnya. Tak peduli. Dia akan terus menghapus Chandra dari lembaran hidupnya. 'Belakangan ini kayaknya Om Pram tegang banget. Apa penculikan itu serius? Pertunangan Rey dan Luna juga belum ada pembicaraan lanjutan,' batinnya. Deg! Tiba-tiba jantungnya berdegup saat mengingat rencana masa depan. Wajahnya bersemu merah. Dia yang teringat pernah menye