78. Isyarat Hati

1529 Kata

Krik! Luna terusik saat mendengar suara decit pintu yang terbuka. Sedikit temaram, tetapi dia melihat Arvin masuk dan naik ke kasurnya. "Eh?" Arvin tak bicara, meminta Luna tetap berbaring dan memunggunginya. Dia hanya ingin tertidur sambil memeluk kekasihnya tersebut. "Kenapa, Kak? Tiba-tiba jadi manja gitu. Aneh banget," seru Luna. Arvin urung menjawab, hanya terus memeluk erat Luna sambil sesekali mencium puncak bahunya. "Kak, nanti setelah aku lulus, kita merit, yuk!" seru Luna, begitu bersemengat dia memikirkan masa depan. Andai saja bisa semanis itu. Arvin juga berharap masa depan bersama Lun ada di depan mata. Dia menarik selimut tebal berwarna biru itu untuk menggulung tubuhnya dan Luna. Sangat mencintai dan melindungi. "Sebelum ketemu aku, apa hidup kamu sebahagia ini?" bi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN