"Rey?" Beberapa hari ini, Arvin pun menyadari hawa dingin mulai tercipta di antara mereka. Meski keduanya sudah berbaikan lalu, tapi situasi tak nyaman lainnya justru muncul. Menerima menjadi teman saja sudah sulit, bagaimana cara Reyhan menyikap keputusan sang papa untuk mengadopsi Arvin? "Ada apa?!" sinis Arvin, tak sedikit pun dia gentar menatap sorot mata Reyhan. "Gue nggak tau apa rencana lo dan kenapa bokap gue bersikeras untuk ngadopsi lo. Tapi satu hal yang Lo harus tau. Sampai kapan pun, Lo nggak akan pernah bisa jadi bagian dari hidup gue." Arvin belum menyela, membiarkan Reyhan menyelesaikan kemarahannya. "Jadi sebaiknya, lo pergi dari sini." Arvin hanya tertawa kecil. Tak ada rasa takut karena ancaman itu. Dia mencengkram kuat tangan Reyhan, melepasnya. Reyhan yang belum p