Windy tertegun. Mereka menatap Windy seakan ingin menerkamnya hidup-hidup. Tentu saja mereka takkan rela jika Chandra mematahkan impiannya hanya demi menjaga Windy. Karina tak bicara lagi dan membiarkan suara-suara gempita itu menyesakkan batin Windy. Suara salah seorang wartawan di tengah riuhnya para siswa itu mengusik telinga Windy. "Kamu adalah pemain berbakat, Chandra. Selain karena karir basketmu, kamu juga sangat tampan. Sejak diliput oleh redaksi nasional, kamu mendadak jadi idola bagi remaja. Bagaimana perasaanmu di posisi seperti ini?" Pertanyaan dari pers itu membuat suasana semakin riuh. Windy menyaksikan sendiri wajah Chandra sangat bahagia. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, karir basket Chandra akan secemerlang ini. "Tentu saja aku sangat senang. Mereka sangat mendukungk