Dina merasa seluruh badannya pegal linu setelah hampir seharian berada di rumah baru Dion. Mereka semua baru membubarkan diri setelah adzan magrib berkumandang. Setelah selesai membantu Dion beres-beres kamarnya, Rianti Bagas dan Dion berenang di kolam renang yang juga masih baru itu. Mereka bertiga seru-seruan bermain air. Di temani dengan suara musik dari speaker di tepi kolam. Bagas juga memesan banyak makanan dan minuman untuk mereka. Hari itu mereka bersenang-senang. Tapi Dina merasa biasa saja. Dia malah terus menghitung detik demi detik yang berlalu karena ingin cepat-cepat pergi dari sana. Dina hanya duduk menjuntaikan kakinya ke dalam kolam. Dia sama sekali tidak berminat untuk ikut serta berenang. Bagas membujuknya untuk ikut masuk ke kolam, namun Dina menolaknya dan malah merajuk. Membuat Bagas berhenti memaksa. Tapi kemudian tiba-tiba Rianti menariknya. Alhasil Dina ikut tercebur dan basah. Dina merasa sangat kesal, tapi dia juga tidak bisa marah.
“Hah… kenapa aku merasa lelah sekali,” bisik Dina lirih.
Dina memijit bahunya pelan. Dia masih duduk di meja belajar dengan lampu yang menyorot sebuha catatan di atas meja. Dina sedang mengerjakan tugas lain. Tugas yang masih punya jangka waktu lama untuk dikumpulkan, namun Dina memilih untuk mengerjakannya sekarang saja. Mumpung ada waktu dan matanya juga masih belum mengantuk.
Hanya saja sekujur tubuhnya terasa penat. Dia sudha mengusap bahu, pundak dan lehernya memakai minyak urut milik ibu Rianti, tapi ketika sensasi panas minyak urit itu hilang, rasa pegal pun kembali datang. Padahal Dina tidak terlalu banyak bergerak. Saat membantu Dion pun dia hanya menata-nata barang yang ringan saja. Jika diingat-ingat lagi, Dina memang selalu merasa lelah setelah bermain bersama-sama mereka semua. Karena Dina tidak pernah menyukainya.
Kebersamaan itu bagi Dina bukanlah sebuah kesenangan.
Kebersamaan itu bagi Dina adalah sebuah beban.
Dina kembali menulis. Tapi tatapan matanya itu mulai goyah. Konsentrasinya mulai melemah. Dina sudah mendapatkan sinyal bahwa ia harus berhenti. Dina menutup buku itu dan merapikan peralatan tulisnya kembali masuk ke dalam tas. Setelah itu tatapannya beralih pada jarum dinding yang berbentuk hello kitty di dinding.
Waktu sudah menunjukkan hampir jam setengah dua belas malam.
“Astaga. Pantas aku sudah sangat mengantuk,” bisik Dina seraya menguap lebar.
Dina menoleh ke ranjang. Terlihat Rianti yang sudah terlelap. Dina kemudian memastikan jika Rianti sudah benar-benar tertidur. Ia kemudian mengeluarkan amplop cokelat yang berisi uang jajan dari Tio, papa sambungnya. Dina tersenyum. Tapi saat ia menghitung lembaran uang itu…
Dina mengernyitkan dahi.
“Kenapa….?” dia tidak meneruskan kalimatnya.
Cukup lama Dina termenung. Dia bahkan menghitung uang itu sekali lagi dan kambali terpana. Jumlahnya berkurang separuh dari jumlah yang biasanya selalu diberikan oleh Tio. Helaan napas Dina berubah sesak. Dia dilanda kebingungan. Tapi setelah itu Dina menepis segala rasa heran. Harusnya dia tetap berterima kasih dan bersyukur berapapun uang yang diberikan oleh Tio. Mungkin kali ini sang ayah sambung memang hanya memberikan uang saku sebanyak itu. Seperti itulah pikir Dina.
Ia kembali tersenyum. Tak mau ambil pusing.
“Aku akan tetap menabungkannya,” bisik Dina lagi.
Diam-diam Dina sudah menyusun sebuah rencana masa depannya sendiri. Dina tidak ingin merepotkan siapapun lebih jauh, termasuk Tio. Dina sudah memikirkannya matang-matang. Saat ini prioritas Dina adalah mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan ke bangku universitas. Namun, jika tidak ada rejekinya di sana, Dina sudah membuat rencana kedua. Dia akan menggunakan uang pemberian Tio yang sudah ditabung untuk mengikuti kursus menjahit nantinya. Dina merasa itu adalah opsi yang paling masuk akal untuk dirinya. Dina tidak mau menempatkan harapan terlalu tinggi. Dia hanya ingin hidup yang biasa-biasa saja, asalkan hatinya tenang, makannya cukup, tidurnya nyenyak, itu sudah lebih dari cukup baginya.
Setelah mendapatkan pelatihan, Dina tentu memiliki keahlian yang bisa ia gunakan untuk menghasilkan uang. Mungkin ia bisa bekerja di butik, atau dia bisa membuka tempat jahit kecil-kecilan yang sederhana saja. Jadi begitulah Rencana Dina. Dia akan mengusahakan untuk menabung uang yang ia terima dari Tio untuk rencana masa depannya.
Dina kemudian naik ke atas kasur dengan hati-hati. Dia tidak ingin membangunkan Rianti. Dina menjangku tas lamanya yang tersangkut di dinding dengan hati-hati dan kemudian kembali duduk ke meja belajar. Tampak semburat senyum kecil di wajahnya. Dina ingin menambahkan tabungannya dengan uang yang baru dia terima.
Ia menyisihkan beberapa lembar untuk dimasukkan ke dalam dompet, lalu sisanya akan digabung dengan gulungan uang yang diikat dengan karet gelang.
Akan tetapi.
Dina lagi-lagi tertegun dengan wajah bingung.
Jumlah uang yang sudah ia tabung berkurang. Dia menggaruk kepala heran, lalu coba menghitungnya lagi. Tak puas sekali, ia menghitung lagi hingga tiga kali. Setelah itu Dina juga memeriksa ke dalam tas. Barangkali uang itu tercecer di sana. Namun ia tidak bisa menemukan apa-apa lagi.
Dina meneguk ludah dengan susah payah.
Seketika Dina melirik pada Rianti yang terlelap, tapi kemudian dia cepat-cepat menggelengkan kepala.
“Tidak… dia tidak mungkin melakukannya, kan?”
Dina mengusir pikiran buruk itu jauh-jauh dari kepala, tapi siapa yang sudah mengambil uangnya kalau begitu? Dina dilanda kegelisahan. Rasa kantuk yang tadinya sudah sangat tak tertahankan, bahkan langsung lenyap begitu saja.
Dina tidak mungkin salah hitung.
Dia memeriksa sebuah buku catatan kecilnya. Buku itu berisi catatan rincian keuangan Dina. Dia adalah anak yang pintar dan teliti. Dina bisa me-manajemen keuangannya dengan baik. Semua tercatat rapi dan seharusnya jumlah uang itu sama dengan nominal di catatannya. Dina kehilangan uang tabungannya sebanyak empat ratus ribu rupiah. Jumlah yang cukup besar untuknya. Tio juga hanya mengirimkan separuh uang saku dari biasanya. Jika dihitung, total kehilangan Dina adalah sebanyak sembilan ratus ribu rupiah.
Dina mengembuskan napas kasar. Pikirannya jadi berkecamuk. Tubuhnya pun langsung dilanda hawa panas, meskipun udara malam ini sangatlah dingin dan lembab. Dina mendadak juga merasa haus. Dia memasukkan uang yang tersisa, lalu kemudian keluar dari kamar itu.
“Kamu kebangun apa belum tidur, toh?” ternyata sang ibu belum tidur. Beliau sedang memilah-milah ikan asin di atas meja makan.
Dina tersenyum canggung. “Aku belum tidur, Buk.”
“Jangan malam-malam tidurnya. Nanti kamu mengantuk di sekolah.”
“Iya, Buk.”
Dina kemudian mengambil segelas air, lalu meminumnya cepat-cepat. Ketika akan balik masuk ke dalam kamar, ibu Rianti berbicara lagi.
“Minggu ini papamu sudah kasih jajan lagi, toh?”
Langkah Dina terhenti. Kembali berbalik menatap sang ibuk. “Sudah, Buk. Baru tadi siang.”
“Alhamdulillah. Inget pesen ibuk, yo Din. Uangnya ditabung. Jangan boros.”
Dina tersenyum.
Ya, sebenarnya Dina juga tidak berniat untuk menyimpan semua uang itu. Awalnya dia bermaksud untuk membagi dua uang jajannya itu setiap kali diberikan oleh Tio. Dina ingin memberikan separuh uang itu kepada ibu Rianti, karena dia tinggal di sana. Bagaimana pun juga Dina masih punya rasa-rasa. Tidak mungkin dia menumpang enak makan, tidur dan segalanya, lalu juga menerima uang dari Tio untuknya seorang diri.
Namun…
Ibu Rianti menolak bahkan memarahinya. Ibu Rianti meminta Dina untuk menyimpan uang itu. Menyarankan Dina untuk menabungnya saja. Sang ibu juga mengingatkan agar Dina tidak perlu banyak bicara tentang uang sakunya kepada Rianti.
Ya, ibu Rianti menasehatinya seperti itu.
Dan kini Dina kehilangan uangnya. Sejenak dia ingin mengadu. Tapi kemudian Dina takut semua berujung masalah. Bagaimana jika ternyata ibu Rianti tidak terima anaknya dituduh sebagai pencuri. Karena tentu tuduhan akan langsung menjurus pada Rianti. Toh mereka hanya bertiga saja yang tinggal di rumah itu.
“Sebaiknya nanti kamu buat rekening bank saja, Nduk. Antarkan saja sekali dua minggu atau sekali sebulan. Pokoknya se-sempatnya kamu,” tukas sang ibu lagi.
Dina menerima saran itu dengan baik dan sepertinya dia memang harus melakukannya. “Iya, Buk.”
Dina masuk kembali ke kamar dan berbaring.
Tapi hatinya tak lagi tenang. Dia melirik Rianti yang berbaring di sebelahnya dan masih berharap bahwa Rianti bukanlah pelakunya.
Ikhlas.
Dina coba berlapang d**a.
Dia menganggap yang hilang itu memang bukan rejekinya. Sudahlah. Dia pun kemudian memejamkan mata dan langsung berdoa agar kehidupan semakin membaik ke depannya.
**
Sore ini Dion dan Bagas latihan futsal lagi. Tapi Dina memutuskan untuk tidak ikut. Dia beralasan perutnya sakit dan Bagas pun akhirnya tidak memaksa Dina untuk ikut serta. Dina baru saja selesai mencuci pakaiannya. Matahari sore ini masih menyengat. Dina menjemur pakaian itu di halaman samping rumah.
Tak lama kemudian, terlihat Rianti yang keluar dari rumah.
Seperti biasa, penampilannya selalu cetar membahana. Akhir-akhir ini Rianti suka sekali memakai pakaian ketat. Dia juga terosesi dengan parfum dan serba-serbi perlengkapan kosmetik. Terakhir kali Rianti merengek pada sang ibuk untuk dibelikan semacam paket make up yang super lengkap. Harga paketan make up itu nyaris menyentuh angka satu juta rupiah.
Sang ibu tentu mengamuk.
Menganggap keinginan Rianti terlalu mengada-ada dan memang benar. Sang ibu marah besar kala itu. Dina bahkan cukup ketakutan dan hanya bersembunyi di dalam kamar. Sang ibuk sampai meneriaki Rianti sebagai anak yang tidak tahu diuntung. Karena dia jelas-jelas tahu bagaimana susahnya sang ibu mencari uang. Dia hanya berjualan kue-kue seribuan di sekolah dasar dekat rumah mereka dan Rianti malah merengek. Hingga meghentak-hentakkan kakinya. Jelas sang ibu mengamuk.
Setelahnya Rianti sempat merajuk. Dia tidak mau makan dan tidak mau bicara pada ibunya selama dua hari. Sang ibu pun juga hanya membiarkannya, tak mau membujuk sama sekali. Dina-lah yang kemudian menjadi payah hati karena berada di antara anak dan ibu itu. Dina coba menasehati Rianti pelan-pelan, tapi kemudian Rianti juga tak menyapanya.
“Din… gue pergi dulu, ya! Lo mau gue beliin apa ntar pas balik? Lo mau bakso? Martabak? Gorengan? Ayo bilang aja?” Rianti tersenyum sumringah.
Dina hanya tersenyum. “Nggak usah deh. Aku tadi udah masak nasi goreng.”
“Yang bener… apa minuman aja? Boba? Cappucino cincau?”
Dina merasa tidak enak juga jika terus menolak dan akhirnya mengangguk. “Boleh deh. Bentar ya, aku ambil dulu uangnya.”
“Nggak usah!” Rianti langsung memotong. “Gue yang traktir.”
Dina hendak bersuara lagi. Mulutnya sudah terbuka hendak berkata, tapi Rianti sudah berlalu pergi. Masih dengan langkahnya yang sangat ceria.
“Haaah.” Dina mengembsukan napas panjang.
Dia kembali teringat pada obrolannya dengan Dion saat itu. Dina sudah mengetahui sebuah kebenaran bahwa ternyata Dion tidak pernah menaruh rasa terhadap Rianti. Memikirkan itu membuat kepala Dina terasa pening lagi. Tapi dia tidak mau terlalu larut memikirkannya.
“Ya, itu bukan urusanku. Aku tidak perlu ikut campur. Aku juga tidak perlu tau apapun. Sudahlah Dina… fokus pada hidupmu sendiri saja. Hidupmu jauh lebih memprihatinkan daripada hidup orang lain yang kamu khawatirkan.” Dina meracau sendiri sambil menjemurkan pakaiannya kembali.
**
Dion dan Bagas sedang berlatih bersama anggota tim mereka. Suara decitan sepatu yang beradu dengan lantai lapangan itu terdengar jelas. Perhatian Dion sempat teralihkan saat melihat Rianti yang baru datang. Rianti melambaikan tangan dengan senyum cerah padanya. Dion pun juga membalasnya dengan anggukan kecil dan juga tersenyum. Tapi kemudian tatapan Dion mencari-cari keberadaan Dina.
“Kenapa dia datang sendirian?” batin Dion.
Sesi latihan itu pun terus berlanjut. Performa Dion dan Bagas serta anggota tim yang lain sudah meningkat pesat. Mereka sudah sangat siap untuk berlaga di turnamen tingkat nasional. Kemajuan itu tampaknya membuat Bagas sangat puas. Dari binar matanya saat menatap Dion, bisa dipastikan bahwa Bagas sudah menempatkan Dion dalam hatinya.
Sebagai seorang teman sejati….
Bagas sudah sepenuhnya percaya kepada Dion. Akhir-akhir ini Bagas juga menjadi lebih sering mengajak Dion untuk pergi bermain di malam hari. Dion mulai merasa kewalahan, tapi dia tetap memaksakan diri. Sedikit banyaknya dia mulai tahu latar belakang kehidupan Bagas.
Dan Dion, masih saja sesekali melihat Rianti yang duduk sendirian di tepi lapangan. Rianti pun jadi salah tingkah setiap kali Dion memandang ke arahnya. Padahal Dion bukanlah menatapnya. Dion masih mencari keberadaan Dina. Masih berharap jika Dina terrlambat datang.
Tapi hingga sesi latihan itu berakhir, Dina tidak juga menampakkan batang hidungnya.
“Hari ini kita bertiga aja, nih,” tukas Bagas kemudian.
Dion menatap Bagas, lalu hanya tersenyum.
Sementara Rianti kini tersenyum malu-malu setelah memberikan sebotol air mineral kepada Dion.
“Dina katanya agak sakit perut,” tukas Rianti kemudian.
Bagas pun menimpali. “Iya, begitulah.”
Dion hanya menyimak pembicaraan itu sambil meneguk botol airnya. Tatapannya kemudian beralih pada penampilan Rianti. Dia mengenakan baju kaos dengan motif macan tutul yang super ketat. Dipadukan dengan celana jeans hitam yang juga tak kalah membelit kakinya. Dion sama sekali tidak suka dengan perempuan yang berpenampilan seperti itu.
“Makin lama lo makin cantik aja. Makin fashionable.”
Pujian itu tidaklah terlontar dari bibir Dion, melainkan dari bibir Bagas yang sekarang ini menyapu penampilan Rianti dari ujung kepala hingga kaki dengan mata genitnya. Membuat Dion menghela napas panjang.
“Dia pasti bernafsu melihat Rianti saat ini,” bisik Dion dalam hatinya.
“Sejak kapan lo jago dandan kayak gini?” tanya Bagas lagi.
Rianti mengibaskan tangannya. Malah menatap pada Dion sebentar, baru kemudian memandang Bagas.
“Apaan sih lo! Penampian gue biasa aja kali. Nggak ada yang spesial,” bantah Rianti. Dengan sebelah kaki yang kini berjinjit genit karena sudah dipuji.
“Seriusan lo cantik banget. Ajar-ajarin Dina juga napa, biar dia juga bisa cantik dan fashionable kayak lo,” tukas Bagas lagi.
Dion langung menatap sengit, tapi buru-buru menundukkan pandangannya. Ocehan macam apa itu? Menggelikan sekali. Bisa-bisanya Bagas meminta Dina yang sudah anggun mengubah penampilannya seperti Rianti. Dion tak habis pikir. Tapi ia tak juga tidak heran karena sudah mengetahui tabiat jelek Bagas.
“Udah deh… jangan ngeledek gue kayak gitu,” sergah Rianti lagi.
“Gue nggak ngeledek. Lo itu beneran cantik. Iya, kan?” Bagas menyikut Dion yang berdiri di sebelahnya.
Dion bingung sebentar, tapi kemudian dia beralih menatap Rianti lalu mengangguk samar. “I-iya… lo terlihat cantik.”