“Hah… sudah cukup lama aku tidak merasakan ketenangan seperti ini.” Dina bersorak senang.
Sendirian di rumah adalah sebuah kebahagiaan kecil untuk Dina. Rianti pergi menemani Dion latihan futsal, sementara sang ibu pergi membantu salah satu tetangga memasak untuk hajatan. Dina baru saja selesai makan nasi goreng bening buatannya sendiri. Kenapa dinamakan nasi goreng bening? Karena nasi goreng itu hanya berbumbukan bawang yang digoreng, nasi, lalu sedikit daun bawang. Tanpa cabe dan juga kecap. Ditambah sebuah telor ceplok dan wala… sempurna sudah.
Dina bersendawa keras setelah minum segelas air untuk melancarkan pencernaan. Dia tertegun sebentar. Dengan wajah kenyang begonya. Perasaannya terasa jauh lebih baik setelah perut terisi. Cacing-cacing yang tadi berdemo sudah tenang. Tak lama setelah itu dia merasa mengantuk. Dina menguap lebar dan kedua matanya pun langsung memerah, juga berair. Dina tahu bahwa tidur setelah makan adalah kebiasaan yang buruk. Tapi kali ini dia benar-benar tidak bisa lagi menahan matanya. Hal itu lantaran semalam ia tidak bisa tertidur lelap memikirkan uangnya yang raib digondol tuyul. Tuyul yang suka berbaju ketat dan ber-make up tebal. Masih berupa dugaan memang, tapi siapa lagi pelakunya kalau bukan Rianti.
Lagi-lagi Dina hanya bisa mengelus d**a karena perangai temannya itu. Jika di rumah lamanya sang mama adalah biang kerok, maka di rumah ini Riantilah yang mengambil peran itu.
“Sepertinya aku memang harus cepat-cepat membuat buku rekening seperti sarannya ibuk,” bisik Dina kemudian.
Dina menepikan permaslaahan itu. Otaknya mulai kekurangan oksigen karena rasa kantuk. Dia tidak bisa berpikir terlalu banyak lagi.
Sekarang perutnya sudah sudah kenyang. Maka rasa kantuk itu tidak bisa lagi dibendung. Dina segera meletakkan piring kotornya ke dalam bak cuci piring dan bergegas melangkah ke kamar dengan mata yang sesekali terpejam lama.
Begitu masuk ke kamar, dia langsung mengempaskan badannya.
“Nikmatnya….”
Dina tersenyum. Perut kenyang ditambah mata yang mengantuk adalah salah satu dari kenikmatan duniawi untuk para manusia.
Dina memejamkan mata sayunya. Dengan bibir tersenyum.
Sepertinya tidak akan butuh waktu lama baginya untuk memasuki alam mimpi yang sudah sayup-sayup memanggil.
“PAKEEEET…!!!”
Teriakan suara cempreng itu membuat Dina tergelinjang bangun. Dia langsung terduduk dan pusing. Dina memicingkan mata sebentar. Degup jantungnya bahkan berdebar sangat kencang sekali, seperti hendak melompat dari rongga dadanya. Dina benar-benar terkejut.
“PAKEEEET…!” teriakan itu terdengar kembali.
Dina bangun dengan kesal. Rusak sudah segala rasa kantuknya. Dia melangkah sempoyongan keluar dan melihat seorang tukang paket membawa satu paket yang cukup besar di tangannya.
“Paketnya, Mbak atas nama Rianti Dwiyani,” ucap sang kurir.
Dina mengangguk dan menerima paketan itu dengan tatapan heran. “Iya, Bang.”
“Tanda tangan di sini, Mbak.”
“I-iya, Bang.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Setelah menanda tangani tanda terima, kurir itu pun melesat pergi. Sedangkan Dina masih tertegun memangku dus besar yang cukup berat itu.
“Apa ini? Apa yang dia beli?” Dina coba mengguncang-guncangkan kotak itu.
Dina masuk ke dalam rumah dengan sejuta tanya. Seingatnya Rianti terus saja mengeluh bahwa dia sudah menghabiskan uang saku mingguannya di dua hari pertama. Lantas dari mana dia mendapatkan uang? Kegelisahan kembali menguasai diri Dina. Dia tidak ingin berpikiran buruk, tapi semua ini semakin menunjukkan bahwa…
Rianti mungkin saja memang sudah mencuri uangnya.
Dina meneliti paket itu. Dia membaca keterangan yanga di sana. Terlampir sebuah nama toko dengan embel-embel ‘kosmetik’ di belakangnya.
Dina menatap nanar.
“A-apa mungkin dia membeli paketan make up yang dia tunjukan waktu itu?”
Dina masih teringat jelas ketika Rianti menunjukkan isi keranjang akun belanja online-nya. Dina juga masih ingat nominal harga barang itu yang hampir mencapai satu jutaan.
Dina meneguk ludah sudah payah.
Dia tak bisa lagi tenang. Tapi apa yang biasa dia perbuat.
Apa yang bisa dia lakukan?
Membahas semuanya sudah bisa dipastikan akan memercik bara peperangan antara dia dan Rianti. Dina memejamkan matanya sejenak. Coba bersabar. Coba mengikhlaskan, tapi hatinya terasa sakit. Bagaimana pun juga Rianti mencuri uangnya. Seandainya Rianti meminjam atau meminta dengan baik-baik, sudah tentu Dina pun tidak akan bisa menolaknya.
Dina jadi teringat dengan perubahan sikap Rianti kemarin ketika mereka berada di rumah Dion. Rianti yang awalnya merajuk tiba-tiba saja kembali santai setelah pulang sebentar untuk berganti pakaian.
Dina mengangguk samar. “Ya, dia jadi berubah setelah memberikan uang saku itu padaku.”
Dina berpikir lagi. “Apa jangan-jangan dia juga mengambil uang yang di amplop itu?”
Kepala Dina terasa pening memikirkannya. Dia kemudian membawa paket itu ke dalam kamar. Lalu Dina pun tertegun duduk di tepi ranjang. Menghela napas sesak. Juga rasa kecewa.
**
Sementara itu di lapangan futsal, Dion berpamitan sebentar untuk ke toilet. Dia duduk di sana dan lekas mengeluarkan handphone-nya. Dion langsung membuka akun i********: palsunya dan dengan cepat mengirimkan Dina pesan.
‘Hi. Sudah lama tidak ada kabar. Kamu baik-baik saja, kan?’ Dion mengirim pesan itu dan berharap Dina membalasnya.
Dion pun menunggu dengan gelisah. Dengan menggunangkan lututnya yang masih memakai kaos kaki tinggi dan sepatu futsal.
“Ayo balas…. kenapa dia tidak ikut datang hari ini? Kenapa dia membuat orang khawatir saja?” desis Dion.
Ponselnya bergetar. Membuat Dion terkejut dan melotot.
Dina membalas pesannya.
‘Hari ini aku merasa sedikit buruk’ begitulah balasan pesan dari Dina.
Dion pun langsung dengan sigap menanyakan kenapa Dina merasa harinya buruk. Dia mendesak Dina untuk menceritakan apa yang terjadi. Dan ternyata Dina menceritakan semuanya. Dia curhat tentang uangnya yang hilang. Tentang uang yang mungki diambil oleh temannya sendiri. Lalu tiba-tiba temannya itu membeli sebuah barang yang mahal.
“Rianti… dia berulah lagi. Padahal aku sudah menyarankannya untuk pindah saja dari rumah itu. Kenapa dia sangat bodoh sekali.” Dion mendumel kesal. Tapi jemarinya masih mengetikkan pesan-pesan yang manis untuk Dina dengan kata-kata yang sopan.
‘Apa aku belebihan sudah menuduhnya?’ tanya Dina.
“Jelas tidak begok! Sudah jelas memang dia yang mencurinya. Kamu terlalu dungu.” Dion mengomel. Tapi pesan yang dikirimnya adalah. ‘Tidak. Wajar kamu merasa seperti itu.’
‘Lalu apa yang sebaiknya harus aku lakukan?’ Dina kembali bertanya.
Dion pun juga terpana. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya yang ada di otaknya saat ini adalah dia ingin mengomeli Dina karena sudah menyimpan uang tabunganna di tempat yang kurang aman.
Pesan dari Dina kembali masuk. Pesan yang menceritakan bahwa ibu Rianti pun marah besar padanya ketika dia ingin membeli barang itu.
Dion tersenyum dan menjentikan jarinya. Dia punya ide untuk memancing Rianti. Untuk mengungkap kebohongan itu.
“Sepertinya ini akan menjadi drama yang cukup menyenangkan.” Dion terkikik pelan. “Tenang saja Dina. Aku akan membantumu untuk mengungkap pencurian ini. Aku pribadi juga sudah lelah melihat dia. Aku sudah penat melihat tingkah pongahnya. Sok cantik. Sok pintar. Sudah waktunya aku memberikannya sedikit pelajaran.”
Dion tersenyum penuh arti, lalu mengirimkan pesan lagi kepada Dina.
Setelah itu Dion segera keluar. Menghampiri Bagas dan Rianti yang astik bercerita tentang salah seorang guru di sekolah mereka. Dion hanya menyimak. Tapi sesekali dia melirik Rianti. Tak menyangka juga bahwa gadis itu berani mencuri uang temannya sendiri.
“Hari ini kita makan sate ayam aja, yuk!” ajak Rianti kemudian.
“Boleh. Abis itu kita nonton film. Setuju, kan?” Bagas ikut menimpali.
Dion tersenyum. “Gue cuma ikut sampe makan sate ayam aja, ya. Sorry kali ini gue nggak bisa ikut nonton.”
Rianti langsung menatap kecewa. “Yah, kenapa?”
“Gue mau nemenin bokap gue check up kesehatannya,” jawab Dion.
Sebuah alasan yang membuat Bagas dan Rianti tidak bisa lagi memaksanya. Dion memang akan menemani sang papa untuk check up kesehatan. Tapi jadwalnya sudah diatur di malam hari. Dion hanya tidak mau menghabiskan waktu bersama dua manusia itu tanpa hadirnya seorang Dina.
“Kalo gitu ya gimana. Kita batalin aja nontonnya,” tukas Rianti.
“Emang apa salahnya kalau kita nonton berdua?” Bagas langsung bereaksi.
Eh.
Dion menangkap ada yang ganjil dari reaksi Bagas. Tatapan itu. Senyuman tipis itu. Dion mengetahui akal bulus lelaki itu. Apalagi hari ini Bagas juga mendadak memuji-muji Rianti, mengatakannya cantik dan sebagainya. Apa mentan-mentang tidak ada Dina? Dasar lelaki buaya.
Rianti terlihat ragu. “T-tapi….”
Dion tersenyum “Udah lo pergi aja sama Bagas. Nggak apa-apa kok.”
Rianti malah memikirkan perasaan Dion. Bukan memikirkan perasaan Dina yang nantinya tau kalo Rianti pergi menonton berdua saja dengan kekasihnya.
“Pergi aja!” tukas Dion lagi meyakinkan.
Rianti masih meragu.
“Lo jangan kebanyakan gaya deh. Udah temenin gue. Soalnya gue pengen banget nonton film itu dan nggak tau lagi kapan punya waktu senggang buat nonton. Lagian si Dion juga nggak kenapa-napa. Gue pinjem Rianti sebentar nggak apa-apa kan, Bro? Nggak akan gue apa-apain kok. Hehehe.” Bagas menyeringai.
Dion aslinya merasa jijik mendengar bacotan Bagas, tapi kemudian dia meladeninya. “Haha. Iya. Gue percaya sama lo kok. Tapi lo jagain dia ya. Awas aja kalo dia lecet agak setitik pun nggak boleh!”
Rianti sontak mengulum senyum malu mendengar perkataan Dion.
“Jangan sampe dia hilang ntar. Kalo Rianti ilang awas aja lo!” ancam Dion lagi yang membuat Bagas tertawa.
“Dih… apa sih. “Gue nggak akan hilang kali,” tukas Rianti kemudian. “Emangnya gue anak kecil apa?”
Dion tersenyum. “Kalo gitu kita langsung ke tempat satenya sekarang yuk! Gue udah laper nih.
Rianti dan Bagas pun mengangguk, lalu mereka bertiga beranjak pergi dari tempat itu.
“Hayuk!” tukas Rianti.
Rianti melangkah lebih dulu beriringan dengan Dion.
Sementara Bagas yang berada di belakang Rianti kini tersenyum seraya menatap ke bagian b****g gadis itu.
“Kenapa aku baru menyadari kalo body Rianti cukup oke juga,” bisik Bagas kemudian seraya menggigit bibir bawahnya.
**
Sementara itu Dina masih tertegun membaca perintah si akun ‘Pengagum Rahasia’. Dina membaca pesan itu sekali lagi.
‘Untuk saat ini, pastikan ibunya mengetahui paket itu. Pastikan ibunya tahu bahwa temanmu sudah membeli barang yang mahal. Dengan begitu ibunya pasti akan curiga dan mencari tahu dari mana anaknya mendapatkan uang sebanyak itu. Kamu mengerti, kan?’ begtulah bunyi pesannya.
Dina mengangguk. “Benar juga.”
Sesaat setelah itu Dina mendengar suara ibu Rianti di luar sana. Sang ibu terdengar berpamitan pada temannya. Dina melongok ke jendela untuk melihat. Terlihat ibu Rianti sedang mengajak temannya untuk singgah dulu, tapi temannya itu menolak. Ibu Rianti dan teman-temannya itu sudah pulang dari rumah tetangga yang akan menggelar hajatan.
Dina pun buru-buru keluar membawa paket dus itu kembali, lalu meletakkannya di atas meja.
Sang ibu yang baru masuk pun langsung menyadari keberadaan paket kotak yang besar dan memang mencolok itu.
“Apa itu, Din? Apa kamu ngebeli sesuatu?” tanya sang ibu seraya meletakkan kantong berisi makanan yang sudah matang, sepertinya pemberian dari si tuan rumah tempat dia memasak.
Dina menggeleng. “Ini bukan paketan aku, Buk. Tapi punya Rianti.”
Sang ibu langsung menatap heran. Dia lekas memeriksa kotak itu dengan seksama. “Apa ini? Apa yang dia beli?”
Dina meneguk ludah. Agak sulit baginya untuk ber-akting, untuk memancing sang ibu lebih jaug.
“Kalo dari keterangannya ada kosmetik-kosmetiknya gitu, Buk,” jawab Dina.
Ibu Rianti tertegun sebentar seperti mengingat sesuatu, namun beberapa detik kemudian matanya langsung melotot.
“Tolong ambilkan ibu pisau, Din. Ayo dilihat isinya. Apa-apaan ini? Apa lagi yang dia beli,” omel sang ibu.
Dina bergerak cepat. Mengambil pisau ke dapur, lalu berlari kembali ke tempat sang ibu.
Sang ibu membuka paket itu sambil terus mengomel. Apalagi lapisan pelindung di dalam dus juga sangat tebal sekali. Dina pun menanti dengan gelisah. Bisa saja isinya hanya kosmetik lain yang murah. Bisa saja dia sudah salah mengira. Tapi ternyata…
Isi paketan itu benar-benar satu paket alat make up yang terlihat sangat mewah.
“I-ini….” ibu Rianti tersentak. “Ini bukannya kosmetik yang waktu itu ingin dibelinya? Yang harganya hampir mencapai satu juta itu?” tanya sang ibu.
Dina mengangguk takut-takut. “Sepertinya iya, Buk.”
Sang ibuk langsung terperangah. Jelas ia cemas dan bingung. Dari mana Rianti mendapatkan uang untuk membelinya? Sedangkan kemarin saja Rianti masih merengek minta tambahan uang jajan untuk membeli paket internet.
“Daru mana dia mendapatkan uang untuk membeli ini?” pekik sang ibu lagi.
Sang ibu kembali mengobrak abrik isi dari paketan kosmetik itu. Tampak lengkap sekali mulai dati palet eye shadow, palet untuk perona pipi, palet lipstick, juga berbagai jenis brush dnegan berbagai bentuk dan ukuran. Dilihat sekilas saja sudah bisa dipastikan bahwa kosmetik itu sangatlah mahal. Terlihat dari packaging-nya yang mewah dan tampak mengkilat-kilat.
“Ya Tuhan… dari mana dia dapat uang sebanyak itu untuk membeli kosmetik?” snag ibu bersuara lagi dan menatap pada Dina.
Saat itu juga Dina langsung menundukkan wajahnya.
Gelagat Dina itu pun membuat sang ibu memiringkan wajahnya sebentar, lalu kemudian bersuara.
“Dina… apa mungkin Rianti memakai uang kamu untuk membelinya?”