73. Ciuman Pertama

2330 Kata
“Lo yakin nggak mau ikutan nonton bareng kita?” Bagas kembali bertanya. “Lain kali kan, masih ada waktu. Gue soalnya juga udah terlanjur janji ama bokap buat nemenin beliau, sorry banget ya,” jawab Dion. “Huhu… padahal akan seru kalo lo ikutan.” Rianti ikut menimpali. Sedikit memasang wajah cemberut dengan harapan Dion akan mengubah keputusannya. Dion tersenyum. “Udah kalian pergi aja. Sana buruan! Ntar malah telat.” Bagas mengangguk. “Kalo gitu gue ama Rianti pergi dulu, ya.” Rianti kemudian naik ke boncengan Bagas dan mereka berdua pun melaju pergi. Bagas masih berdiri di depan kedai sate tempat mereka makan. Dia masih tersenyum melepas kepergian Rianti dan Bagas. Tapi setelah keduanya pergi, raut wajah Dion langsung berubah drastis. Dia juga buru-buru memakai helm dan naik ke motornya dan kemudian… Mengikuti Bagas dan Rianti. Rencana Dion berganti. Awalnya dia memang ingin pulang saja ke rumah. Namun melihat gelagat Dion yang tak biasa, akhirnya Dion memutuskan untuk mengikutinya. Firasat Dion mengatakan bahwa akan ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Entahlah, mungkin firasatnya itu bisa saja salah, tapi Dion tetap ingin memastikannya. Dion berpandai-pandai mengikuti sepeda motor Bagas di depannya dengan sangat berhati-hati agar tidak ketahuan. Motor itu terus melesat menembus jalanan malam Ibukota yang masih sangat ramai. Dion terus mengikutinya hingga motor Bagas memasuki sebuah area pusat perbelanjaan yang mana ada bioskop di dalamnya. Terlihat Rianti dan Bagas memasuki area parkiran. Dion pun melakukan hal yang sama. Rianti dan Bagas tampak happy saat mulai melangkah menuju area pusat perbelanjaan yang ramai dan terang benderang. Bak seorang detektif, Dion kembali menguntit. Sesekali dia bersembunyi di balik tiang, di balik kerumunan orang-orang yang berjalan. Di mana saja asal ia bisa bersembunyi dan bisa terus mengikuti Bagas dan Rianti. “Okey… apa mereka berdua benar-benar akan pergi menonton bioskop?” bisik Dion. Dion mengangguk pelan saat melihat keduanya masuk ke area bioskop. Terlihat Bagas sedang membeli tiket, sedangkan Rianti menantinya. Ketika Rianti menoleh ke belakang, Dion pun langsung bersembunyi di balik sebuah banner yang berisikan poster iklan sebuah film. “Astaga!” Dion melotot di balik persembunyiannya. Dia hampir saja ketahuan. Sementara itu. “Lo ngeliatin apa?” tanya Bagas. Rianti yang hanya melihat sekelabat bayangan Dion pun beralih menatap Bagas. “Ah, nggak sih… nggak ada apa-apa.” “Ayo kita langsung masuk aja. Filmnya sebentar lagi akan dimulai,” ajak Bagas. Rianti mengangguk dan kemudian keduanya melangkah pergi. Dion pun ketar-ketir keluar dari persembunyiannya dan juga buru-buru membeli tiket untuk film yang sama. Dia lekas menyusul Rianti dan Bagas ke dalam bioskop dan pengintaian itu pun dimulai. Rianti dan Bagas duduk di bagian agak depan. Keduanya duduk bersebelahan. Mereka juga sudah membeli cemilan seperti popcorn, kentang goreng dan lengkap dengan minuman bersoda. “Haduuh… udah lama nih, gue nggak nonton,” pungkas Rianti. Bagas yang duduk di sampingnya tersenyum kecil. “Gue juga. Gue itu sebenernya suka banget nonton. Tapi gue nggak suka nonton sendirian.” Mereka mengobrol sebentar seraya menanti film mulai diputar. “Lah. Kan ada Dina. Ajak Dina dong,” jawab Rianti. Bagas menggeleng samar. “Lo tau sendiri lah… ngajak dia buat jalan-jalan itu sesuatu yang cukup sulit. Hematlah… buang-buang uanglah… buang-buang waktulah… Dina selalu begitu.” Rianti berdehem. “Ya iya sih. Seperti hari ini. Dia ngaku sama lo nggak bisa nemenin lo latihan karena sakit perut. Tapi….” “Tapi apa?” tanya Bagas. Rianti tampak ragu, “Nggak sih….” “Ngomong aja. Nggak apa-apa, kok.” nada suara Bagas terdengar lembut sekali. Membuat perasaan Rianti terasa agak asing tatkala mendengarnya. “Ya, dia kan ngaku sakit perut sama lo. Tapi gue liat dia tuh baik-baik aja. Dia malah nyuci baju seember penuh.” Rianti mengadu. “Hahaha. Iya, gue tau kok. Kan, gue emang tau tabiat Dina seperti itu,” balas Bagas. Untuk sejenak Rianti seakan lupa diri bahwa ia sedang bersama kekasih dari sahabatnya sendiri. Semua tentang Dion pun juga seketika menepi sebentar. Dia kini melirik Bagas perlahan di antara suasana yang sudah remang karena film akan segera diputar. Bagas tetap memesona di matanya. Bagas tetap terlihat tampan dan gagap perkasa di mata Rianti. Glek. Rianti meneguk ludah. Bagaimana pun juga dia pernah menyukai Bagas. Bagaimana pun juga dia pernah menaruh rasa pada laki-laki itu. Bagas menoleh. Balas menatap Rianti hingga gadis itu terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya. “Kenapa?” tanya Bagas. “Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu?” Rianti kembali meliriknya malu-malu. “Nggak sih… gue cuma heran aja sama sikap Dina yang terkadang dingin sama lo. Padahal lo itu cowok yang perfect. Baik dan perhatian. Lo juga pinter… pokoknya lo itu udah kayak paket komplit deh.” Bagas mengulum senyum. “Apa menurut lo gue seperti itu?” “Iya.” “Gue selalu merasa rendah diri di hadapan Dina. Kadang gue jadi mikir sendiri. Kurang gue di mana? Apa lagi yang seharusnya gue lakuin untuk mendapatkan hati dia secara utuh. Jujur gue selalu berusaha untuk itu. Sepertinya gue harus banyak bersabar lagi untuk mengerti apa inginnya seorang Dina.” jelas Bagas. Bercerita seperti sengaja dilebih-lebihkan. Seperti sengaja ingin menarik simpati Rianti. Bagas bahkan memasang wajah nan sendu. Padahal sebelumnya Bagas pun kurang suka dekat-dekat dengan Rianti. Dia bahkan tidak pernah menatap Rianti sebagai seorang ‘wanita’ di matanya. Tapi sejak Rianti mulai dekat dengan Dion, Bagas mulai menarik perhatian pada Rianti. Sosok Rianti jadi berubah drastis. Dia menjadi pintar berdandan, tahu akan fashion dan juga selalu wangi. “Kalau menurut gue lo nggak perlu usaha apa-apa lagi, sih. Dina-nya aja yang kurang bersyukur kalo menurut gue,” tukas Rianti kemudian. Bagas tersenyum. Film sudah mulai diputar, tapi Bagas malah terus-terusan memiringkan wajah, menatap pada Rianti. Rianti menyadarinya, tapi dia berpura-pura tidak tahu saja dan terus menatap ke layar. Namun lama kelamaan Rianti sedikit resah dengan tatapan itu. Dia akhirnya juga memandang Bagas. “K-kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu?” tanya Rianti. “Lo itu cantik!” Deg. Pujian singkat itu sukses menggetarkan d**a Rianti. Dia termangu. Sedangkan Bagas masih menatapnya seraya menggigit bibir. Sebuah ekspresi yang membuat Rianti pun terpana sebentar. Tapi kemudian Rianti tersadar dan kembali menatap ke depan sana. Rianti mulai fokus pada film yang diputar. Tapi beberapa saat setelahnya, dia merasakan tangan yang hangat merangkul pundaknya. Rianti melotot. Tangan itu adalah milik Bagas. Bagas merangkul Rianti dan meremas pelan pundaknya. Membuat helaan napas Rianti menjadi sesak. Apa ini? Apa yang sedang Bagas lakukan? Rianti jelas bertanya-tanya. Rianti menatap Bagas, tapi lelaki itu hanya menatap lurus ke depan menikmati film yang diputar, namun tangannya masih sesekali meremas pundak Rianti dengan lembut. Ini seharusnya tidak boleh terjadi. Mereka tidak seharusnya seperti itu. Rianti sadar bahwa semua yang dilakukan Bagas salah. Dia harusnya mengelak. Menghindar dan juga marah. Namun… Rianti ingin menikmatinya. Dia belum pernah merasakan sentuhan seperti itu. Sentuhan yang membuat tubuhnya menjadi lemas. Seakan dia tidak lagi berdaya untuk sekedar berkata-kata. Rianti menepikan logika dan akal sehat. Dia malah menikmati apa yang dilakukan oleh Bagas terhadapnya. Dan Bagas pun tersenyum melihat Rianti yang diam saja disentuh-sentuh seperti itu. Sesekali Bagas juga mengusap-usap pundak Rianti. Dan ketika ada adegan yang lucu, Bagas tertawa dan mendekatkan wajahnya pada Rianti. Sangat dekat. Seakan dia bisa saja mengecup bibir Rianti kapan saja. Dan Rianti juga menikmatinya. Walaupun tubuhnya terasa panas setiap kali Bagas mendekat. Rianti bahkan bisa mencium aroma tubuh Bagas. Dia merasakan deru hangat napas Bagas ketika berbisik ke telinganya. Berkali-kali juga Bagas nyaris mencium pipi Rianti. Rianti tidak lagi menikmati film yang diputar. Dia lebih menikmati sentuhan-sentuhan kecil yang Bagas berikan. Bahkan sekarang Rianti juga jadi sedikit agresif. Tubuhnya condong menghadap Bagas. Dia sengaja mendekat. Sesekali sikut Bagas juga nyaris mengenai payuda-ranya, tapi Rianti memang justru mengharapkannya. Akal sehat Rianti lenyap. Dan Bagas sebagai seorang laki-laki, memanfaatkan semua dengan sangat baik. Tidak sulit bagi Bagas untuk meraba-raba Rianti dengan kesan ‘tidak disengaja’. Di belakang sana… Dion tak henti-henti menghela napas sesak sambil terus merekam adegan yang dilakukan oleh Rianti dan Bagas di depan sana. Beruntung handphone milik Dion sudah canggih dan memiliki fitur infra merah di kameranya. Dengan fitur itu dia tetap bisa menangkap foto atau pun rekaman vido dalam kegelapan dengan jelas. “Mereka berdua benar-benar gi-la!” umpat Dion lagi. Dion merekamnya dan sesekali juga menekan tombol zoom agar semua terlihat lebih jelas lagi. Kemesraan yang dilakukan Bagas dan Rianti sudah sangat tidak wajar. Harusnya sebagai perempuan Rianti bisa menjaga harkat dan martabat dirinya. Tapi ternyata dia memang serendah itu. Semua yang dilihatnya jelas membuat rasa Dion terhadap Rianti semakin hambar. Bagaimana mungkin dia menyukai gadis murahan seperti itu? “Hei. Bung! Apa kamu tidak tahu kalau merekam film di bioskop itu adalah tindakan yang ilegal?” Deg. Dion terkejut dan langsung menoleh ke sampingnya. Terlihat seorang lelaki berbadan besar dengan matanya yang melotot. Bibirnya tebal, sorot cahaya layar menampakkan wajahnya yang hitam legam. Dion bahkan tidak sadar jika sosok itu duduk di sebelahnya. Dion terpana sejenak. Ternyata lelaki itu mengira Dion sedang merekam film di depan sana. Karena merasa sedikit takut dengan tatapan itu, Dion memilih untuk keluar. Rekaman yang ia dapatkan pun juga sudah terasa cukup. Dion menghindari keributan. Dia tidak ingin ketahuan oleh Bagas dan juga Rianti. Dion bergegas ke tempat parkir. Di sana ia besembunyi di balik sebuah mobil. Dion menonton ulang hasil rekamannya. Dia berdecak seraya geleng-geleng kepala. Dan saat itu juga Dion menyadari bahwa ada sebuah notifikasi pesan i********: dari Dina di akun palsunya. ‘Aku sudah melakukan apa yang kamu suruh. Ibunya sudah melihat paket itu. Sekarang apa yang harus aku lakukan?’ Begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Dina. Dion menghela napas frustasi. Merasa jengkel dengan sosok Dina yang dianggapnya terlalu lemah dan bodoh. Rianti sudah mencuri uangnya, dia juga bermesraan dengan pacarnya. Rianti juga memperlakukan Dina seperti budaknya yang selalu bisa disuruh-susuh kapan saja. Dion rasa semua itu sudah cukup untuk Dina mengakhiri pertemanannya dengan Rianti. Dion sangat menyesali keputusan Dina yang tinggal di rumah Rianti. Seakan-akan dia benar-benar terbuang dan tidak bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Dion jadi panas sendiri. Emosi melandanya. Sejenak dia terpikir ingin langsung menemui Dina dan menunjukkan video yang sudah dia ambil, tapi kemudian… Dion malah tertegun. Dia mengatur helaan napasnya yang masih sesak. Dion mengangguk kecil. “Ya, aku tidak boleh gegabah. Aku bahkan belum mendapatkan informasi apa-apa tentang Lani. Aku tidak boleh lupa dengan tujuanku. Aku harus menahan diri. Dan ketika waktunya sudah tepat, barulah aku akan mengeluarkan semua bukti ini.” Dion berbicara pada dirinya sendiri. Namun rasa kesalnya masih saja sama. Anehnya, Dion selalu saja terganggu dengan semua kebodohan Dina. Sejak pertama kali mengenal Dina, Dion sudah memerhatikannya. Dina terlalu lemah. Dia cenderung membiarkan orang lain semena-mena padanya, menindasnya. Tapi yang membuat Dion kesal adalah… Dina berani padanya. Dina berani membentak Dion, berani menatapnya penuh kebencian, berani melawan Dion. Tapi Dina malah lemah terhadap orang lain. “Huuuuft.” Dion mengembuskan napas panjang sekali lagi. Rasanya sudah cukup untuk hari ini. Dion mengambil helm dan memasangnya. Dia sudah naik ke atas motor dan bersiap melaju pergi. Tapi saat Dion baru saja memutar kunci motornya… dia melihat Rianti dan Bagas di ujung sana. Berjalan berdua sambil bercengkerama dan sesekali juga tertawa. Suara tawa Rianti terdengar menggema di basement parkiran itu. Dion terkejut dan lekas menunduk untuk bersembunyi. “Kenapa mereka sudah keluar? Padahal durasi filmnya masih lama.” Karena merasa penasaran. Pengintaian yang sudah dihentikan itu pun kembali berlanjut. Dion kembali mengikuti Rianti dan Bagas. Berbagai pikiran buruk pun memenuhi isi kepala Dion. Dia tidak bisa berpikir positif lagi. Apa jangan-jangan Bagas akan membawa Rianti ke hotel? Atau mereka akan mencari tempat yang sepi untuk melakukan sesuatu? Dion tak bisa berpikir baik. Dia memacu sepeda motornya. Sedikit bersemangat karena mengira akan menemukan bukti yang lebih dahsyat. Tapi ternyata motor Bagas berhenti di sebuah halte bus dan Rianti pun turun dari boncengan itu. Dion buru-buru memarkirkan motornya di depan sebuah ruko yang sudah tutup. Tepat di seberang halte. Lalu kemudian dia memantau situasi dari balik sebuah pohon. Tempat Dion kini bersembunyi itu sangat gelap sehingga Bagas dan Rianti tidak bisa melihatnya dari seberang sana. Dan untuk berjaga-jaga, Dion pun juga langsung siap dengan kamera handphone-nya. “Lo yakin mau dianter sampe halte ini aja? Padahal gue bisa nganter lo langsung ke rumah,” ujar Bagas. Rianti tersenyum. “Gue pulang naik bus aja.” “Kenapa?” “Ya nggak apa-apa.” Rianti agaknya merasa sedikit bersalah karena sudah bermesraan dengan Bagas selama berada di dalam bioskop. Meskipun setelah itu mereka sama-sama bersikap biasa saja. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Namun Rianti merasa tidak enak jika harus pulang dengan Bagas. Dia semacam memiliki perasaan takut ‘ketahuan’ Rianti tidak ingin Dina tahu bahwa dia menghabiskan waktu dengan Bagas berdua saja. “Ya udah deh. Kalo gitu gue bakalan nemenin lo sampe busnya dateng,” ucap Bagas lagi. Rianti hanya mengangguk, lalu tersenyum. Keduanya kini duduk di bangku halte. Duduk berdempetan tanpa jarak. Bagas rupanya masih ingin sedikit kehangatan dari Rianti yang sudah terlihat cantik di matanya. Keheningan menyebar cukup lama. Bagas dan Rianti sama-sama membisu. Namun kedua lengan yang beradu kini menimbulkan rasa hangat dan mereka menikmatinya. “Oh iya…,” ucap Rianti kemudian. “Iya, kenapa?” tanya Bagas. Rianti tersenyum ragu. “Menurut gue, sebaiknya Dina tidak perlu tau kalau kita menonton film berdua.” Bagas terdiam. “Gue cuma nggak mau kalo Dina salah paham,” jelas Rianti lagi. Bagas mengangguk tanda mengerti. “Kalau begitu gue juga mau Dina nggak tahu soal ini….” Rianti mengernyit. “Soal apa?” Bagas tidak menjawab. Dia malah tersenyum, meringsek maju dan kemudian mengecup bibir Rianti. Rianti terkejut. Tapi kemudian dia memilih memejamkan matanya. Lagi-lagi Bagas memberikan sebuah kenikmatan untuknya dan bagi Rianti sendiri… ini adalah ciuman pertamanya. Bagas melumat bibir Rianti dengan ganas. Di halte yang sunyi itu. Di bawah langit malam yang gelap. Sesekali Rianti membuka matanya, menatap wajah Bagas yang kini sangat dekat. Semua terasa bagai mimpi bagi Rianti. Rianti tidak ingin berhenti. Dia masih menginginkannya. Dia… tak ingin cepat-cepat mengakhirinya walaupun ia tahu itu adalah sebuah dosa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN