Untung Ganteng
"Ini pasti akal-akalan Raffi. Kamu pasti temannya yang mau aja dijodoh-jodohkan dengan saya, kan? Berarti saya dibohongi lagi sama dia."
Nada suara pria itu cenderung datar, tapi sarat dengan tuduhan. Alisnya sedikit terangkat, menatap Lily seolah ia adalah bagian dari skenario yang sudah sering ia alami.
"Excuse, me?" sahut Lily yang merasa heran dengan pria yang ada dihadapannya ini. Datang-datang langsung dengan tuduhan, padahal kenal pun tidak.
"Raffi pasti bilang ke kamu mau dicomblangin dengan omnya, ya? Saya sebenarnya nggak kaget, karena ini sudah yang kesekian kalinya. Tapi herannya, saya masih aja terjebak sama rencana anak itu."
Lily tertegun. Bukan hanya karena tuduhan itu terdengar sembarangan, tetapi juga karena pria ini berbicara seolah-olah ia mengenalnya. Ada rasa tidak terima yang langsung menggelitik dadanya.
Dia datang ke restoran ini untuk bertemu Vina, teman koasnya dulu yang sudah lama tidak ia temui. Tidak ada urusan dengan perjodohan, apalagi dengan seseorang bernama Raffi yang bahkan belum pernah ia dengar sebelumnya. Dalam hati, Lily sempat berpikir sinis, siapa pula Raffi ini, sampai-sampai seperti mak comblang dadakan?
"Saya ke sini janjian dengan teman saya, namanya Vina. Saya nggak kenal yang namanya Raffi. Mungkin Om salah meja," jawab Lily, berusaha tetap sopan meskipun intonasi suaranya mulai meninggi karena tidak nyaman. Dan entah kenapa, panggilan "Om" itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Mungkin karena pria di hadapannya memang terlihat jauh lebih dewasa. Usianya jelas di atas tiga puluh tahun, dan dengan pembawaan yang matang dan aura dingin yang sulit diabaikan.
Tapi, Lily tidak bisa memungkiri, pria dihadapannya ini memang menarik.
Tinggi badannya proporsional seperti model catwalk, bahunya lebar dan tampak kokoh, wajahnya tegas dengan garis rahang yang jelas. Ekspresinya memang cenderung datar, bahkan dingin, tetapi justru itu yang membuatnya terlihat berwibawa. Dan ada lagi yang membuat Lily sedikit terusik, aroma parfum berjenis woody yang samar-samar tercium dari jarak mereka sekarang, memberikan kesan hangat sekaligus dewasa.
"Ini meja delapan belas. Sama seperti yang Raffi bilang ke saya."
Lily menghela napas pelan. Ia mulai ragu sejenak, walaupun tadi sebelum masuk, ia sudah menanyakan kepada staf restoran mengenai reservasi atas nama Vina, dan jelas disebutkan meja nomor delapan belas, tapi pria didepannya ini berhasil membuatnya jadi ragu dan ingin memastikan lagi.
"Gini ya, Om. Lebih baik kita sama-sama cek aja. Tadi waktu saya datang kesini, saya sudah tanya ke staf di depan soal pesanan tempat atas nama Vina, katanya meja nomor delapan belas, ya meja ini. Tapi saya akan cek lagi ke pelayan di sini, dan Om coba hubungi Raffi itu. Siapa tahu Om yang salah dengar atau dia salah sebut nomor."
Pria itu tampak tidak suka dengan saran tersebut, seolah harga dirinya terusik karena dianggap bisa saja dia yang salah. Tanpa menjawab, ia malah menarik kursi di depan Lily dan duduk dengan santai, seakan - akan ia tidak berniat beranjak sedikit pun dan menganggap Lily lah yang harus memastikan mejanya sendiri. Sikapnya sangat jelas, kalau memang Lily yang salah, maka wanita itu yang harus pergi.
Tapi Lily menahan diri agar tidak menggerutu, untung tingkat kesabarannya sedang berada dilevel puncak, kalau tidak ... mungkin akan ada yang menggebrak meja saat ini.
Ia lalu melambaikan tangan kecil memanggil seorang pelayan yang kebetulan melintas di dekat meja mereka.
"Mas, saya mau minta tolong dicek, meja ini pesanan atas nama siapa ya sebenarnya?" tanya Lily dengan suara yang tenang.
"Oh, baik, Mbak. Tunggu sebentar saya cek dulu, ya."
Lily mengangguk dan pelayan itu pun pergi.
Suasana di meja itu mendadak canggung, seolah udara di antara mereka menebal dan sulit ditembus. Lily mengaduk minuman yang sudah dipesannya sejak tadi dengan sedotan, gerakannya pelan tapi berulang, lebih sebagai cara untuk mengalihkan rasa kesal yang mulai mengusik hatinya akibat sikap pria di hadapannya yang tampak begitu tak peduli daripada benar - benar ingin mengaduk minumannya. Bunyi kecil dari es yang beradu dengan dinding gelas menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan di antara mereka.
Sementara itu, pria di depannya hanya duduk tanpa ekspresi berarti. Ia bahkan belum memesan apa pun, seakan keberadaannya di meja itu hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak jelas. Tatapannya sesekali mengarah ke pintu masuk, lalu kembali ke meja, seolah situasi canggung yang terjadi di antara mereka tidak cukup penting untuk menarik perhatiannya. Sikapnya yang dingin dan terkesan masa bodoh justru membuat Lily mulai merasa terganggu, meskipun ia berusaha keras menahannya agar tidak terlihat.
Beberapa menit kemudian, pelayan tadi kembali lagi ke meja mereka..
"Maaf, Mbak. Pesanan meja ini atas nama Vina."
Lily langsung menghembuskan napas lega, setidaknya ia tidak salah duduk dan harus pergi.
"Oke, terima kasih," jawabnya, diiringi senyum tipis yang sulit menyembunyikan rasa puasnya.
Ia kemudian menoleh ke arah pria itu.
"Om dengar, kan? Saya memang nggak salah duduk."
Belum sempat ia menikmati kemenangan kecil itu lebih lama, pria tersebut justru mengeluarkan ponselnya, menekan salah satu tombol dan menyodorkannya ke arah Lily. Layar ponsel itu menampilkan percakapan yang membuat kening Lily berkerut.
Nama kontaknya saja sudah cukup mencolok, 'Raffi keponakan sialan'.
Isi pesannya pun singkat,
'Meja 18 ya, Om Dik. Aku sudah di jalan. Sampai ketemu nanti.'
Lily mengangkat alis.
"Mungkin keponakan Om yang salah. Coba ditelepon lagi, kasih tahu kondisinya seperti ini."
Pria itu menatap Lily tajam.
"Kamu mengatur saya?"
"Iya, habisnya Om nggak punya inisiatif sama sekali. Sudah tahu salah meja tapi kok kayak nggak terima, jadi harus aku arahkan," jawab Lily tanpa ragu. Kali ini ia benar-benar tidak peduli soal sopan santun.
Pria itu mendengus pelan, jelas ia tidak terima. Tapi, ia tetap menuruti saran Lily. Ia menekan tombol panggilan dan menempelkan ponsel ke telinganya.
Lily memperhatikan dengan diam, dan sepertinya tidak berjalan lancar, pangilan itu tidak ada respon
Pria itu mulai terlihat emosi. Rahangnya mengeras, matanya menyipit menatap layar ponselnya.
"Ckk ... kemana sih dia," gumamnya kesal.
Ia lalu mengetik sesuatu dengan cepat, mungkin pesan yang berisi protes, atau bahkan 'makian' kepada 'keponakan sialannya' itu. Lily tidak tahu pasti, tapi dari ekspresinya, jelas itu bukan pesan yang ramah.
Beberapa saat kemudian, pria itu berdiri. bukan langsung pergi, ia malah menatap Lily walau sejenak, dan Lily pun membalas tatapan itu tanpa berkedip, agak menantang dan tidak mau mengalah.
"Sepertinya keponakan saya tidak akan datang. Jadi mungkin saja benar meja ini memang punya kamu dan teman kamu."
Nada suaranya kembali datar, seolah kejadian beberapa menit terakhir tidak berarti apa-apa baginya. Tanpa menunggu respons Lily, ia berbalik dan melangkah pergi.
Lily hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh, masih dengan rasa kesal yang menggantung. Beberapa detik setelah pria itu benar-benar menghilang dari pandangannya, Lily menghela napas panjang.
"Habis nuduh orang sembarangan, apa dia nggak kepikiran buat minta maaf atau bilang apa, gitu?" gumamnya heran.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menggeleng kecil, Lily benar-benar tidak habis pikir.
"Pertemuan yang aneh banget, sih? Untung ganteng."
Dan entah kenapa, wajah dingin pria itu dan aroma parfum woody yang tertinggal samar, masih membekas diingatan dan penciumannya, jauh lebih lama dari yang seharusnya.