Pintu kaca klinik menutup di belakang mereka dengan bunyi pelan.
Adrela berjalan lebih dulu, langkahnya cepat, sementara Laras menyusul di sampingnya sambil sesekali melirik wajah sahabatnya yang masih memerah menahan emosi.
"Ya ampun..." Laras mengembuskan napas panjang. "Gue masih nggak habis pikir."
Adrela tidak menjawab.
"Gimana bisa pacar gue kenal sama temen cowok kayak begitu?" Ia menggeleng berkali-kali. "Padahal kalau lagi nongkrong sama cowo gue, Fery kelihatannya sopan banget."
Adrela mendengus pelan. "Itu namanya topeng."
Laras berhenti berjalan. "Maaf ya, La." Suaranya terdengar tulus. "Kalau gue nggak ngenalin kalian..."
Adrela langsung menggeleng. "Jangan nyalahin diri sendiri."
"Tapi—"
"Bukan salah pacar lo."
Adrela menoleh sambil tersenyum tipis, meski matanya masih menyimpan kekesalan.
"Dia juga ketipu sama temennya."
Laras terdiam.
Adrela mengembuskan napas pelan. "Bukan dia doang yang ketipu sih, gue juga."
Kalimat terakhir itu terdengar jauh lebih lirih. Beberapa detik mereka kembali berjalan tanpa bicara.
"Adrela."
Suara itu datang dari belakang. Keduanya berhenti bersamaan. Fery berdiri di depan pintu klinik, masih mengenakan jas dokternya.
Ia melangkah mendekat dengan ekspresi santai, seolah pertengkaran beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.
"Apa lagi?" tanya Adrela dingin.
Fery mengeluarkan ponselnya. Beberapa kali jarinya mengetuk layar. Lalu ia menyodorkannya ke depan.
"Ini nomor rekening gue. Udah gue kirim ke nomor lo."
Adrela mengernyit. "Maksud lo?"
"Transfer aja."
"Transfer apaan?"
Fery memasukkan kedua tangannya ke saku jas. "Ganti rugi."
Adrela tertawa pendek karena tidak percaya. "Wah gila. Ganti rugi?"
"Iya." Fery menunjuk pelan memar di sudut bibirnya. "Bekas pukulan pacar lo."
"Dia bukan pacar gue."
"Ya terserah." Fery mengangkat bahu. "Pokoknya gara-gara dia gue rugi. Nama baik gue. Wajah gue. Jadi wajar kalau gue minta kompensasi."
Adrela langsung melangkah maju. "Lo serius?"
"Serius."
"Lo masih punya muka buat minta ganti rugi ke gue? Setelah apa yang lo lakuin?"
Fery tersenyum tipis. Lalu ia sedikit membungkukkan badan. Cukup dekat hingga hanya Adrela yang bisa mendengar ucapannya.
"Udahlah La, jangan sok polos terus." Suara Fery nyaris berupa bisikan. "Gue yakin... sebenarnya lo juga udah nggak pera*wan."
Wajah Adrela langsung memucat karena marah. Fery tersenyum puas melihat reaksinya.
"Lain kali... jangan pura-pura sok jadi cewek suci."
Ia menepuk pelan bahu Adrela, lalu berbalik masuk ke dalam klinik. Pintu kaca kembali menutup. Dan kali ini, senyum kemenangan masih jelas terlihat di wajah Fery.
Laras buru-buru mendekat. "Dia ngomong apa barusan?"
Adrela masih terpaku. Tangannya mengepal begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Belum sempat ia menjawab—
"Adrela?"
Suara laki-laki lain terdengar dari arah samping. Adrela dan Laras sama-sama menoleh. Di sebelah klinik ternyata berdiri sebuah kafe kecil.
Rezy baru saja keluar dari sana. Ia terlihat sedikit terkejut melihat mereka.
"Lho? Kalian ngapain di sini?"
Tatapannya berpindah kepada Adrela.
"Baru makan di restoran sebelah?"
Adrela masih belum sempat menjawab ketika seorang pria paruh baya berjas rapi bergegas keluar dari kafe.
"Tuan Rezy!"
Pak Bayu menghampiri mereka dengan langkah cepat. Di tangannya ada sebuah amplop cokelat tebal.
"Ini... Tolong dibawa."
Rezy langsung menghela napas. "Pak, saya udah bilang—"
"Tolong."
Pak Bayu memotong pelan sambil menyelipkan amplop itu ke tangan Rezy.
"Setidaknya terima dulu saja."
Tanpa memberi kesempatan Rezy mengembalikannya, pria paruh baya itu sedikit membungkuk.
"Permisi."
Lalu ia berjalan cepat menuju mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan. Adrela mengikuti sosok itu dengan pandangan penasaran.
Begitu mobilnya pergi, ia menoleh kepada Rezy.
"Siapa itu?"
Rezy melirik amplop di tangannya sesaat. Ekspresinya kembali datar.
"Cuma... pelanggan bengkel." Ia memasukkan amplop itu ke dalam saku jaketnya.
Laras mengembuskan napas panjang sambil memegangi perutnya.
"Adrela… gue tiba-tiba lapar."
Adrela masih menatap kesal ke arah klinik di belakangnya.
"Terus?"
"Minum kopi, yuk. Sama makan yang manis-manis. Kepala gue ikut panas gara-gara denger omongan dokter sinting itu."
Adrela mendengus pelan. "Ke kafe lain aja."
Laras mengernyit. "Loh? Bukannya tadi di sebelah ada kafe?"
"Gue males," jawab Adrela cepat. "Nanti tiba-tiba ketemu Fery lagi. Udah trauma gue.”
Ia langsung berbalik dan melangkah menjauh dari area klinik tanpa menoleh.
Rezy yang sejak tadi berjalan beberapa langkah di belakang mereka otomatis melirik papan nama klinik itu.
"Fery..." gumamnya pelan. Ia lalu menoleh ke Adrela. "Cowok aneh yang kemarin itu?"
Langkah Adrela sempat melambat sepersekian detik, tetapi ia tidak membalas. Rahangnya mengeras. Jelas ia tidak ingin membahas pria itu lagi.
"Udahlah," katanya singkat. "Gue lagi nggak mood denger nama dia."
Lalu ia kembali berjalan lebih cepat. Laras saling pandang dengan Rezy sebelum mengangkat kedua bahunya.
"Pokoknya tuh orang nyebelin banget," bisiknya pelan. "Adrela udah kena gaslighting habis-habisan. Malah disalahin juga sama si Fery itu."
Tatapan Rezy kembali mengarah ke klinik. Rahangnya mengencang, tetapi ia tidak bertanya lebih jauh.
"Oke," ucapnya akhirnya. "Cari tempat lain aja."
Mereka bertiga berjalan menyusuri trotoar. Adrela berada paling depan, kedua tangannya terlipat di d**a, langkahnya cepat seolah ingin meninggalkan semua kejadian barusan sejauh mungkin.
Laras buru-buru menyusul di sampingnya. "Eh, jangan jalan cepet-cepet. Jadi laper nih."
Sementara itu, Rezy tetap berjalan beberapa langkah di belakang. Pandangannya sekali lagi beralih ke bangunan klinik yang perlahan semakin jauh. Entah kenapa, nama Fery terus terngiang di kepalanya.
Mereka akhirnya berhenti di sebuah kafe bergaya industrial yang baru buka beberapa bulan terakhir. d******i kayu terang, tanaman gantung di setiap sudut, serta dinding bata ekspos membuat suasananya hangat dan tenang.
Cahaya matahari yang masuk lewat jendela besar memantul di atas meja-marmer, membuat tempat itu tampak seperti lokasi pemotretan.
"Lucu banget..." gumam Laras.
Belum juga duduk, ia sudah mengeluarkan ponsel.
"Tunggu, jangan ada yang makan dulu!"
Klik.
Klik.
Klik.
Laras berganti-ganti pose sendiri di depan jendela, ber-selfie lagi dengan latar tanaman gantung.
Adrela menggeleng geli. "Lo tuh kalau lihat tempat estetik langsung lupa diri."
"Konten sosmed itu penting, La," balas Laras tanpa mengalihkan pandangan dari kameranya.
Rezy yang berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke saku hoodie hanya mendengus.
"Untung bengkel gue nggak estetik."
"Nggak bakal bisa estetik lah. Isinya cuma oli sama baut, Zy."
"Ya makanya, La."
Mereka akhirnya memilih duduk di dekat jendela.
Tak lama kemudian, pesanan datang satu per satu. Dua gelas ice latte, satu hot cappuccino, sepotong cheesecake, croffle dengan es krim vanila, kentang goreng, dan chicken wings memenuhi meja.
Laras langsung berbinar. "Akhirnya."
Saat Adrela hendak mengambil dompetnya, Rezy lebih dulu mengangkat tangan.
"Udah." Ia menatap pelayan. "Gue yang bayar."
Adrela langsung menoleh. “Idih. Gausah.”
"Gapapa, gue yang traktir aja."
Adrela menaikkan sebelah alis. "Emang lo lagi punya duit, Zy?"
Rezy langsung melirik tajam. "Jangan asal ngomong. Emang muka gue kayak gembel banget ya?"
"Jangan baper, gue serius nanya, Zy."
"Ya punya, lah. Barusan kan bapak tadi bayar reparasi mobil.” Rezy menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Buat mesenin beginian doang mah kecil, La."
“Iya deh tau, bos bengkel yang baru cair duitnya.” Ucap Adrela ketus.
Laras langsung tertawa sambil menggeleng. "Kalian berdua kalau ngobrol nggak pernah damai ya?"
"Nggak."
"Iya."
Jawaban mereka keluar bersamaan.
Laras kembali tertawa.
"Ngomong-ngomong... Rezy lo udah punya pacar belum?"